MEMECAHKAN MASALAH DENGAN NEUROLOGICAL LEVELS (NL) Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on March 22nd, 2017 3 Comments

(Versi lengkap artikel ini bisa didownload di e-book : “Destined To Be A Leader” – googlebooks.com )

Manusia, hubungannya dengan masalah yang dihadapi ada 5 macam :

1. Orang bermasalah : Yaitu mereka yang menghadapi konflik, tertekan, stress, depresi dan seterusnya. Selama mereka tidak berupaya mencari solusi atau jalan keluar, apa yang mereka hadapi justru akan semakin kumulatif

2. Orang yang lari dari masalah : Yaitu mereka yang mengira, bahwa masalahnya akan hilang kalau dihindari atau dilupakan. Padahal tidak mungkin orang hidup itu menghindari masalah. Sehingga kedepannya orang ini akan semakin bertambah kesulitan menghadapi masalahnya, karena ibarat PR kelas I belum dikerjakan, maka dia harus mengerjakan PR kelas II

3. Pembuat masalah : Yaitu mereka yang secara sengaja atau tidak punya kecenderungan membuat sesuatu menjadi kacau, tidak nyaman dan seterusnya

4. Pencari Masalah : Mereka yang selalu berupaya mencari tantangan-tantangan baru.

5. Pemanfaat masalah : Mereka yang mendapatkan peluang dari masalah yang dihadapi oleh orang-orang
Nomer 1 sampai nomer 3 itu kategorinya sama, yaitu orang-orang bermasalah. Sedangkan nomer 4 adalah mereka yang bisa sukses hidupnya dan nomer 5 adalah orang yang bisa kaya raya.

Robert Dilts, Developer NLP telah mengembangkan model pemecahan masalah dengan cara mengkategorikannya sesuai dengan situasi yang dihadapi maupun tingkat kemampuan seseorang dalam melakukannya.

Neurological Levels adalah salah satu model yang dikembangkan oleh Dilts yang sangat bermanfaat dalam memahami isu-isu perubahan individu dan mempermudah kita untuk mengetahui cara yang terbaik untuk melakukan treatment pada diri sendiri maupun orang lain.

Model ini sifatnya hierarkis dan meliputi enam level, dimulai dari situasi paling bawah hingga level paling atas. : semakin sederhana level masalahnya, semakin rendah NL yang digunakan. Sebaliknya Semakin tinggi NL seseorang, semakin tinggi skill untuk memecahkan masalah. Semakin tinggi NLL seseorang semakin sadar dimana kedudukannya dalam kaitannya dengan masalah tersebut. Dia juga tahu dalam NL mana dia harus menghadapi dan memecahkan masalah tersebut. Dengan NL ini setiap orang bisa merasakan sendiri, apakah ia menggunakan manajemen pikiran ataupun skill tertentu dalam problem solvingnya. Bahkan apakah ia telah mencapai NL tertinggi dalam problem solvingnya yaitu Level Spiritual. Karena hakekatnya NL adalah gerak dan bekerjanya impuls dari jalur persarafan kita saat kita mengatasi suatu masalah yang dikendalikan oleh pusat kesadaran kita.

Level I Lingkungan (dimana, kapan dan bersama siapa Anda melakukan sesuatu); Level ini tentang lingkungan eksternal – termasuk di mana Anda berada, lingkungan fisik, orang yang saat ini bersama Anda, masyarakat dan budaya yang lebih luas – dan potensi-potensi masalah yang bisa terjadi pada diri Anda. Agar perubahan terjadi di level ini, Anda bisa mengajukan tipe pertanyaan “dimana” dan “kapan”. Jika, misalnya, Anda memimpin tim, Anda mungkin bisa bertanya apakah lingkungan kerja Anda bisa meningkatkan suasana kerja tim?

Level II Perilaku (apa yang Anda katakan atau lakukan) ; Level ini terkait dengan apa yang Anda lakukan pada lingkungan – termasuk: berpikir, berbicara, mendengar, bereaksi, mengambil tindakan secara sadar, dengan harapan untuk mencapai sesuatu. Hal ini juga setara dengan apa yang orang tidak ingin lakukan. Misalnya, jika Anda menarik diri dari situasi tertentu pun sebenarnya Anda masih tetap memengaruhinya dengan satu atau lain hal.

Anda bisa secara aktif berpartisipasi dalam even-even tim dan bisa membantu melambungkan semangat tim, atau Anda bisa mengabaikan orang lain dalam tim dan berjalan dengan cara Anda. Saat Anda jadi anggota tim, perilaku Anda akan membawa dampak baik atau buruk kepada para kolega dan berdampak pada suasana lingkungan tempat Anda bekerja. Begitu juga sebaliknya.

Level III Kapabilitas (bagaimana Anda melakukannya); Level ini terkait dengan skill, bakat, kemampuan, strategi dan sumber-sumber yang membimbing perilaku Anda dan membuat Anda bisa mengambil tindakan.

Level ini tentang bagaimana Anda melakukan sesuatu. Tentang skill dan proses yang membuat Anda tahu bahwa Anda menjalankan tugas atau melakukan sesuatu dengan cara tertentu. Saat Anda belajar sesuatu yang baru, misalnya bersepeda atau main piano, Anda tentunya memulai dari nol di level ini, lalu secara bertahap kapabilitasnya akan semakin baik sehingga mencapai poin tertinggi saat Anda tidak perlu berpikir lagi untuk melakukannya.

Oleh karena kapabilitas adalah hal-hal yang kita bisa lakukan dengan andal, dengan konstan, dan dengan berulang-ulang, bahkan seringkali tidak. Seolah-olah, kapabilitas-kapabilitas itu bisa kita dapatkan dengan cuma-cuma.

Level IV Keyakinan dan Nilai-Nilai (apa yang penting bagi Anda); Apa yang kita nilai tinggi, dan kepercayaan yang kita yakini tentang hidup, akan sangat memengaruhi cara kita berpikir dan bertindak. Jika Anda merasa yakin dapat memimpin dengan baik, maka akan sangat mungkin memengaruhi kapabilitas Anda secara keseluruhan. Hal ini akan bisa dilihat orang lain karena perilaku Anda akan terwujud seperti apa yang Anda yakini saat itu.

Sebaliknya, jika Anda bisa mengembangkan skill dan membangun kepercayaan diri di bidang itu, Anda akan terkejut sendiri karena keyakinan tentang kemampuan Anda itu sudah berubah. Sebaliknya seringkali kita memiliki keyakinan-keyakinan yang justru bisa menghambat atau membatasi diri kita. Keyakinan dan nilai-nilai umumnya beroperasi di luar alam pikiran sadar. Dari sinilah muncul bagaimana seseorang bisa begitu kuat mempertahankan pandangan-pandangan yang memengaruhi apa pun yang mereka, katakan dan lakukan.

Apa yang Anda junjung tinggi dan apa yang anggap penting itu bisa berevolusi dalam perjalanan hidup. Setiap pengalaman yang Anda miliki dan setiap orang yang Anda temui akan – dalam kadar tertentu – membentuk keyakinan dan nilai-nilai Anda. Banyak organisasi telah menetapkan nilai-nilai yang mewakili apa yang mereka anggap penting. Jika ada ketidakcocokan antara nilai-nilai perusahaan dengan nilai-nilai yang dianut oleh para karyawannya, atau antara dua kolega dalam perusahaan, maka hal itu dapat berpotensi konflik.

Individu, juga, tidak selalu konsisten. Seseorang dalam waktu bersamaan bisa memegang dua nilai-nilai yang bertentangan. Misalnya menjunjung tinggi kebebasan menentukan pendapat, namun kadang-kadang melakukan tindakan otoriter. Pertentangan ini bisa menimbulkan konflik internal yang membuat seseorang merasa terbelah di dua arah yang berbeda.

Level V Identitas (siapa diri Anda); Level ini melibatkan perasaan tentang siapa diri Anda – peran Anda dalam kehidupan – dan tentang siapa yang bukan diri Anda. Orang kadang-kadang bisa jatuh dalam jebakan perilaku membingungkan (apa yang mereka lakukan) dengan identitas (siapa mereka).

Level ini adalah tentang tujuan Anda dalam hidup. Salah satu cara Anda untuk bisa mengenal identitas Anda misalnya dalam konteks memimpin. Anda bisa bertanya pada diri sendiri, “Sebagai seorang pemimpin, siapakah diri saya?” atau “Pemimpin macam apa saya ini?”

Identitas Anda tercipta dari semua informasi dan pengaruh yang telah Anda pelajari dan padukan dalam sepanjang kehidupan Anda yang pada akhirnya membentuk orang (yakni diri Anda sendiri) seperti yang Anda rasakan saat ini. Jika sesuatu sudah mencapai Level Identitas, biasanya bersifat permanen, misalnya, kenapa ada yang selalu peduli, charity, bahkan aultris? Jawabannya, hal itu disebabkan sudah menjadi identitas atau karakter orang itu, karena karakter hakekatnya sekumpulan penemuan atas identitas diri kita sepanjang hidup kita.

Level VI Spiritualitas / Keterhubungan (tujuan lebih tinggi /kontribusi terhadap dunia); Kebanyakan orang merasa menjadi bagian atau terhubung dengan sistem yang lebih besar dibanding diri mereka masing-masing. Maka dari itu, level ini terkait dengan tujuan besar Anda. Terkait dengan apa yang harus Anda berikan pada masyarakat dan dunia.

Neurological Levels dalam Kenyataan; Salah satu cara mudah untuk memahami Neurological Levels adalah dengan mempertimbangkan model itu sebagai suatu sistem. Jika Anda membuat suatu perubahan dalam suatu level, maka hal itu bakal ada pengaruhnya terhadap keseluruhan hierarki. Perubahan itu bisa saja diawali dari bawah kemudian bergerak ke atas, atau menetas dari atas ke bawah. Jika Anda sudah berpengalaman menggunakan itu, Anda akan bisa mengecek konsistensinya di semua level. Jika ada seseorang meminta Anda membocorkan rahasia tertentu, ataupun tindakan yang tidak terpuji misalnya – dan Anda bersedia melakukannya – maka hal itu akan menciptakan konflik dalam nilai-nilai Anda tentang integritas dan bisa menghilangkan respek dari orang lain. Anda bisa merasa tidak nyaman atas apa yang baru Anda lakukan, karena hal itu berada di luar karakter sejati orang yang Anda yakini sebagai diri Anda.

Dalam sebuah sesi TOT ada seorang peserta yang juga seorang Trainer senior,  bertanya : “Saya pada dasarnya adalah pemanfaat masalah, artinya saya memberikan klien klien saya dengan solusi. Artinya kalau mereka tidak punya masalah, berarti saya tidak dapat income. Pertanyaannya, apakah saya cukup berada di level kapabilitas saja atau harus berada pada level spiritualitas?

 


Jawaban saya : “Bisa pada kedua-duanya. Tergantung apakah kita menghayati setiap yang kita kerjakan sebagai sesuatu yang bernilai, ataukah hanya berfikir pragmatis saja. Tetapi yang jelas,  penyelesaian menggunakan Level Spiritualitas, endingnya selalu membahagiakan kita maupun Klien kita.

Hal penting lain yang perlu dicermati, otak adalah organ yang berinteraksi dengan sesuatu yang berada diluar diri kita. Oleh karenanya level NL kita sedikit banyak akan dipengaruhi oleh lingkungan di sekitar kita . Misalnya jika Anda selalu berinteraksi dengan orang yang tingkat intelektualitasnya lebih tinggi dari Anda, maka Anda akan ikut jadi pintar. Berinteraksi dengan orang yang income rata-ratanya lebih tinggi dari kita, bisa menaikkan pendapatan kita dan seterusnya.

Dengan NL, juga bisa merasakan, apakah kita termasuk orang yang bisa memengaruhi lingkungan atau justru ikut arus dan terombang-ambing ? Bisa tidak kita menjadi orang yang bisa membahagiakan dan memberikan manfaat bagi orang lain ataukah sebaliknya malah bikin orang lain merasa tertekan?

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

3 Responses to “MEMECAHKAN MASALAH DENGAN NEUROLOGICAL LEVELS (NL) Trainer Amir Faisal 08157698288”

  1. Moch Ali says:

    Good…..

  2. Moch Ali says:

    Good….

  3. Amir Faisal says:

    Terima kasih Ali

Leave a Reply