Trainer Amir Faisal : Spiritualitas dan Religiusitas, 08157698288

blog on September 25th, 2017 No Comments

Akhir-Akhir ini banyak orang yang mengakui eksistensi Tuhan, akan tetapi tidak mau memeluk atau menjalankan perintah agama.

Dianggapnya agama sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman. Padahal kesimpulan itu belum didasarkan pada pengkajian yang mendalam. Hanya dengar “katanya”, ataupun membaca blog yang tidak jelas kompetensi Narasumbernya.

Umumnya mereka merasa kecewa dengan perilaku orang beragama terutama perilaku sebagian pemimpinnya yang tidak bisa menjadi suri tauladan.

Sebab lain, akibat pengaruh dari kuatnya iklan dan promosi dari paham materialisme, ateisme, sekularisme, liberalisme, hedonisme, dan sosialisme, justru karena faham-faham itu dalam mempromosikan dirinya seolah-olah tidak menolak akan adanya eksistensi Tuhan.

Isu inilah yang memikat. Mereka introdusir ungkapan “Spiritualisme not Religion.” Menurut mereka agama itu yang penting penghayatan dan pengamalannya. Padahal ini adalah jebakan agar orang meninggalkan keyakinan agamanya. Anak-anak generasi milenial gen Y dan Z sangat antusias dengan isu ini.

Kelihatannya ungkapan ini benar, akan tetapi sangat menyesatkan. Bagaimana mungkin mengamalkan kebaikan, tetapi hanya mengikuti hati nurani saja tanpa mengikuti tuntunan Agama?

Mari kita telaah dengan pendekatan Antropologi sosiologis. Dalam agama ada konsep tentang manusia, seperti yang ditulis oleh Ali Isa Othman dalam “Manusia Menurut Al-Ghozali”

Kalangan materialisme (induk dari faham-faham yang disebutkan diatas) tidak mengakui eksistensi Tuhan Sang Maha Pencipta tentunya tidak mau menerima kebenaran Kitab Suci yang merupakan produk Agama sebagai pedoman hidup manusia.

Sedangkan bagi Ummat beragama, Kitab Suci merupakan guidance book. Tuhan sebagai Pendesain dan Pencipta manusia berkepentingan untuk memelihara semua ciptaannya baik alam semesta maupun manusia, maka diciptakanlah Kitab suci yang dibawa oleh para utusanNya. Mudahnya, produsen mobil saja merasa perlu menciptakan buku petunjuk pemeliharaan produknya, apalagi produk manusia yang memiliki aspek yang lebih kompleks dan complicated.

Analisa Aspek Antropologis

Hal-hal yang menyertai penciptaan manusia meliputi antara lain :
1⃣Tujuan penciptaan
2⃣Pemeliharaan (mudlorot dan manfaat)
3⃣Kapasitas

Hendaknya kita bersikap kritis dan mempertanyakan, apakah kaum materialis yang bukan pencipta manusia bisa menjelaskannya dengan benar, apa tujuan penciptaan manusia?

Seandainya saking hebatnya mereka sehingga sanggup menciptakan robot yang bisa berfungsi seperti manusiapun, tentu desain dan prototipenya pasti tidak sama dengan Adam dan keturunannya.

Ibarat mobil diesel pasti tidak sama dengan mobil bensin. Mungkin mereka bisa menjelaskan konsep robot itu utk apa diciptakan, tetapi jelas akan banyak mengalami kekeliruan saat menjelaskan konsep untuk apa tujuan manusia diciptakan. Padahal ciptaan manusia tidaklah sesederhana produk otomotif.

Banyak sekali misteri yang belum bisa diungkap oleh ilmu pengetahuan tentang kompleksitas manusia itu. Misalnya kenapa manusia umumnya baru bisa menggunakan kapasitas otaknya 1 hingga 3 persen?

Apa hubungan perasaan cinta di jantung dengan hormon oxytocine yang ada di otak? Kenapa bisa terjadi antara dorongan untuk menyintai sesama dengan nafsu berkuasa yang bisa membantai manusia melibatkan bagian otak yang sama dan seterusnya.

Dalam hal ini hanya ilmu agama yang bisa menjelaskan, karena hal itu berhubungan dengan ruh. Belum ada satupun penemuan teknologi yang bisa mengungkap fenomena ruh ini. Anda boleh menyangkalnya, tetapi Anda pasti merasakan bahwa Anda bisa menikmati hidup ini karena dalam tubuh Anda ada “benda” itu, yang mana keluarga Anda yang telah meninggal dunia, karena ruhnya telah berpisah atau keluar dari tubuhnya. Ini adalah fakta yang tak terpungkiri.

Aspek kedua tentang “pemeliharaan”, mungkin kalangan materialisme mampu menjelaskan dengan baik, bisa meriset ataupun bahkan menciptakan produk untuk memenuhi kebutuhannya. Akan tetapi perlu diingat bahwa manusia adalah jenis makhluk yang punya keinginan tak terbatas termasuk keinginan yang bisa membahayakan atau menghancurkan dirinya.

Aspek ini juga memerlukan tuntunan Agama, karena agama mengajarkan perilaku dan tuntunan hidup yang menyehatkan jasmani dan rohani yang sesuai dengan fitrahnya.

Baru pada aspek ketiga yaitu “kapasitas” ini barangkali mereka memiliki keunggulan, karena keterangan Kitab suci dalam hal ini masih bersifat global

Jika dalam Antropologi peranan Agama sangat diperlukan, apalagi dalam sosiologi yang meliputi hubungan antar manusia, supaya tidak terjadi kedzaliman dalam pengaturan norma dan hukum, mencari pendapatan atau memenuhi kebutuhan ekonomi, maupun mengatur masyarakat (politik)

Wallahu a’lam

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

No Responses to “Trainer Amir Faisal : Spiritualitas dan Religiusitas, 08157698288”

Leave a Reply