Tidak Ada yang Salah Dalam NLP, Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on November 26th, 2017 No Comments

Trainer Amir Faisal 0815 769 8288, Buku Destined To Be A Leader Amir Faisal google book

Salah satu presupposisi atau pra anggapan dalam NLP (Neuro Linguistic Programming), ada yang berbunyi

Setiap perilaku punya maksud positip

Phillip Hayes dan Yenny Rogers mengatakan bahwa presupposition terdiri dari atas dua buah suku kata ; pre + supposition yang berarti pra pengandaian atau lebih familier sebut saja anggapan-anggapan dasar. Didalam NLP (Neuro Linguistic Programming), presupposition ini terus berkembang sepanjang waktu sebagai prinsip-prinsip inti yang melandasi suatu pendekatan yang dipakai. Presupposition tidak akan dianggap sebagai kebenaran sejati, melainkan dipakai sebagai sikap-sikap dan asumsi yang konsisten menyangkut cara berfikir dan berperilaku yang penuh sumber.

Presupposition bukanlah sebuah hukum, diktum atupun kebenaran. Tetapi hanya sebuah pedoman pragmatis tetapi mempunyai manfaat yang tak ternilai untuk membantu seseorang menemukan kunci-kunci pembuka pintu gerbang sumber dayanya sendiri. Presupposition bisa dianggap sebagai jantung. Menerima presupposition sebagai sikap dalam memandang dunia, akan mempermudah kita menguasai dan mengambil benefit dari NLP, karena semua teknik NLP diderivasikan dari presupposition ini.

Presupposition diatas haruslah dipahami secara hati-hati, supaya persis seperti yang dimaksudkan. Setiap perilaku, bahkan yang nampaknya jahat sekalipun didasari oleh motivasi yang positip. Kalau terjadi tindak kejahatan, hal itu disebabkan karena pilihan perilakunya yang salah. Katakanlah apa yang dilakukan seorang pencuri, paling tidak dia mempunyai tujuan untuk memberi nafkah keluarganya. Seandainya dia tidak mempunyai keluargapun, paling tidak untuk menghidupi dirinya sendiri.

Manfaat presupposition ini sangat penting dipahami terutama oleh para pendidik, orang tua ataupun para konselor. Bagaimana seandainya orang tua atau guru beranggapan bahwa anak-anaknya telah melakukan kesengajaan atau bersekongkol untuk menjahati atau membuat Anda marah. Padahal seandainya mereka melakukannyapun, hal itu pasti disebabkan oleh adanya latar belakang yang diakibatkan oleh tindakan orang yang lebih dewasa sendiri. Anak-anak itu hanya ingin berekspresi bahwa mereka tidak mau diperlakukan yang semena-mena yang tidak sesuai dengan jalan pikiran mereka.

Contoh lainnya :
Tom adalah seorang musisi yang hebat, tetapi ia sangat kurang percaya diri sehingga tidak berani tampil di depan publik. Ia mengaku perilaku nervous ini berakar dari masa anak-anak. Ayahnya sering membentak jika ia mengatakan atau melakukan sesuatu yang dianggap keliru. Dari pada mendapat penolakan keras atau dibentak, Tom lebih suka menarik diri dalam sikap diam dan mengisolasi diri sendiri. Hal itu berlangsung hampir 40 tahun.

Lambat laun figur ayah yang suka mengkritik dan membentak ini berubah menjadi ”audiens” dalam pikiran Tom. Pada saat tampil di panggung, tanpa sadar Tom sering mengimajinasikan bentuk ekspresi penolakan audiens jika ia melakukan saat tampil memainkan musiknya. Lama-kelamaan ia tidak berani menanggung resiko itu lagi. Dengan segenap rasa frustasi ia memutuskan tidak mau lagi tampil di depan publik.

Dalam melakukan terapi, Phillip membimbing Tom untuk menyadari, bahwa perilaku nervous nya itu bukanlah perilaku yang hina dalam dirinya, sebagaimana yang dirasakannya selama ini, melainkan itu hanyalah sebuah upaya untuk melindungi dirinya. Setelah menyadari penuh atas hal itu, Tom diajak untuk melangkah maju dan mencari jalan keluar, bagaimana cara melindungi diri sendiri dari kritik aktual dan imajiner dengan cara yang berbeda dengan sebelumnya, selain dibimbing untuk memiliki self-confidence. Hasilnya Tom sekarang mampu tampil dengan prima diatas panggung, seolah-olah Ayah Tom mengekspresikan persetujuan dan pujian terhadap permainannya.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

No Responses to “Tidak Ada yang Salah Dalam NLP, Trainer Amir Faisal 08157698288”

Leave a Reply