Peta Tidak Sama Dengan Wilayah, Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on January 20th, 2020 No Comments

Trainer Amir Faisal 0815 769 8288, buku Destined To Be A Leader Amir Faisal dari google books

Peta Tidak Sama Dengan Wilayah, atau Map is not the territory adalah presupposition dasar dalam memahami dan menjalankan tools serta terapi-terapi dalam NLP ( Neuro Linguistic Programming ). Tanpa pemahaman presupposisi ini dengan benar, niscaya tidak bisa menerapkan NLP dalam kehidupan kita.

Ketika orang berfikir, otaknya akan memunculkan gambar atau visual tertentu – misal berfikir mau bepergian, segera muncul gambar kendaraan, jalanan macet, panasnya cuaca dan seterusnya. Gambar-gambar dalam pikiran akan disaring ( di filter) kemudian direspon sesuai dengan persepsi yang ada dalam peta mentalnya ( lihat gambar dibawah)

Ketika berfikir gulai kambing, maka yang muncul dalam pikiran bisa :

  • Seporsi gulai kambing yang membangkitkan selera, kemudian secara reflek orang itu melakukan respon mengambil smartphone, dan segera mencarinya di gofood, karena memang sudah waktunya makan siang.
  • Seporsi gulai kambing yang membangkitkan selera, kemudian secara reflek orang itu ingat nasihat dokter atas penyakit kolesterolnya yang tinggi, maka dia batalkan untuk menikmati hidangan itu.
  • Seporsi gulai kambing yang membangkitkan selera, kemudian secara reflek orang itu malah terinspirasi membuka usaha kuliner

Terjadinya gap antara peta dan wilayah ini dikarenakan ada kekurang akuratan dalam memahami realitas ataupun stimulus yang masuk kedalam (peta) pikiran seseorang. Ketika seseorang berfikir, yang tergambar dalam otaknya, bukan realitas sebenarnya, melainkan gambar yang ada di peta mentalnya. Atau bisa disebut , pikiran termanipulasi oleh peta mental kita.

Jadi, seseorang dikatakan pikirannya termanipulasi, jika ia memahami sesuatu sesuai dengan realitas yang ada dalam pikiran, dan bukan kejadian atau realitas yang terjadi secara nyata. Jika realitas dalam pikiran disebut “peta” dan realitas nyata disebut “wilayah”, maka peta tersebut tidak bisa menggambarkan atau menterjemahkan secara akurat realitas wilayah di dunia nyatanya.

Sebagaimana sebuah peta. Dengan menggambar sebuah peta, kita akan memahami dunia dengan lebih mudah. Misalkan kita ingin tahu bentuk wilayah dari negeri kita, maka akan lebih mudah jika kita menggunakan sebuah peta. Tapi yang namanya peta tetaplah peta. Dia bukanlah wilayah Indonesia sebenarnya. Peta Indonesia tidak sama dengan wilayah Indonesia.

Begitu juga dengan Realitas yang kita hadapi. Apa yang terjadi di luar diri kita tidak sama dengan apa yang muncul dalam pikiran kita.

Simaklah ilustrasi berikut ini :

Pada suatu siang, saat memberikan kuliah, Prof Alfred Korzybski mengeluarkan sebungkus biskuit dan membagikannya kepada para mahasiswanya. Dengan senang hati para mahasiswa segera mengambil makanan itu dan mengunyahnya dengan lahap.

Sang Profesor terus menyobek bungkus biskuit bagian berwarnanya, sehingga kelihatan kertas bagian putihnya. Disitu terbaca dengan jelas sebuah tulisan, ”BISKUIT UNTUK ANJING”. Maka serta merta beberapa mahasiswa merasa mual-mual perutnya dan mereka berhamburan keluar, sambil meletakkan kedua telapak tangannya dibawah mulutnya, kemudian muntah-muntah di toilet.

Mahasiswa itu telah merespon tulisan itu sesuai dengan gambar yang muncul dalam pikirannya, anjing yang sedang menjilat-jilat biskuit. Padahal realitas nyatanya, bahan dan proses pembuatan biskuit untuk anjing dan manusia nyaris tidak ada bedanya. Dan seandainya tidak diperlihatkan tulisan itu nyaris tidak akan ada yang bermasalah.

Dari kasus biskuit diatas, kita bisa membayangkan betapa peta mental yang telah terbentuk di bawah sadar, menjadi trigger semua respon kita.

Mengapa tidak berani bermimpi?

Perhatikan kisah berikut ini :

Suatu hari ada seorang petani menemukan sarang burung elang yang berisi sebutir telur. Dengan hati-hati telur itu dibawa itu pulang. Sesampai dirumah diletakkannya ditengah-tengah telur ayam yang sedang dierami induknya. Beberapa minggu kemudian menetaslah semua telur itu termasuk telor elang. Syahdan anak elang itu hidup bersama-sama dengan anak-anak ayam. Induk ayam sama sekali tidak bisa membedakan antara anaknya sendiri dengan anak musuhnya. Maka anak elang itu dipeliharanya seperti anaknya sendiri dalam habitat ayam. Setelah remaja, saat anak elang itu bermain-main, diangkasa terlihat seekor elang  sedang terbang kesana kemari. Meluncur keangkasa, menembus awan. Kemudian menukik lagi dan seterusnya. Maka dengan hati takjub, anak elang tadi berkata pada dirinya sendiri, “Hebat, benar-benar luar biasa burung itu !! Seandainya aku bisa menjadi dia, alangkah bahagianya. Tetapi, sayangnya aku hanya ditakdirkan menjadi seekor ayam .  .  .”

Cerita diatas tentunya hanya sebuah metafora. Kejadiannya tidak pernah ada, tetapi peristiwanya sebagian dari kita mungkin pernah mengalaminya. Anak elang itu telah menganggap dirinya bukanlah seekor elang yang hidupnya di angkasa raya, melainkan seekor ayam yang habitatnya di bumi. Tragisnya, semua bakatnya yang hebat menjadi terpasung. Ini adalah sebuah contoh yang mudah untuk menjelaskan bagaimana terbentuknya program konsep diri, siapa aku?

Marshall Silvers menciptakan hukum-hukum pikiran. Salah satunya adalah : Setiap orang hanya akan menjadi seperti persepsinya terhadap dirinya.

Berdasar hukum ini, jika Anda tidak berani mengimpikan diri Anda sendiri akan menjadi apa di masa mendatang, maka nasib Anda akan seperti si anak elang yang malang itu.

Kenapa demikian?

Karena belief dalam map atau peta mental anak elang itu telah terbangun sedemikian rupa, sehingga menciptakan keyakinan bahwa dirinya adalah anak ayam. Maka akibatnya dia telah kehilangan kehidupan dia yang seharusnya luarbiasa, yaitu mampu terbang dengan gagah perkasa berratus kilometer dari tempat tinggalnya, menjadi hanya beberapa meter saja, serta tidak mengetahui bahwa bumi itu sesungguhnya indah dan luas tiada tara.

Treatment dan terapi

Cara menterapinya dengan menginterupsi kedalam peta mentalnya untuk melakukan pemaknaan ulang atau memrogram ulang ( Map reprogramming).

Tekniknya sangat banyak, tetapi prinsipnya melakukan collapsing anchor yang membentuk peta mental, kemudian menginjeksi presupposisi-presupposisi ( pra anggapan) baru memodel orang-orang ekselen, yang telah terbukti sukses dalam kehidupannya.

Tags: , , , ,

No Responses to “Peta Tidak Sama Dengan Wilayah, Trainer Amir Faisal 08157698288”

Leave a Reply