Membangun Kompetensi Sesuai Kinerja Persyarafan, Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on June 19th, 2017 No Comments

Artikel ini sama sekali tidak menafikan hati, karena selain Menciptakan persyarafan manusia, Allah juga berfirman : “Kami telah menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati” dimana semua prosesnya melalui jalur-jalur persyarafan.

Hati yang dimaksudkan dalam Al-Quran bersifat RUHIYAH, bukan faal. Ia bisa maujud di semua gen dan bagian persyarafan kita. Misalnya kita bahagia, maka dengan teknologi bidang persyarafan, dengan mudahnya rekaman otaknya bisa dilihat dan dibaca. Begitu juga sebaliknya jika kita sedang sedih.

Mengapersepsi

Para pakar psikologi pendidikan telah puluhan tahun mengimplementasikan hasil penelitian syaraf dalam melakukan proses pendidikan dan pembelajaran. Bagian paling menentukan bagi keberhasilan belajar adalah BATANG OTAK. Bagian ini mengait awareness (kesadaran), need (kebutuhan), interest (minat) dan seterusnya, dimana disitu terdapat “pintu” yang mempunyai 2 kemungkinan open atau close. Tugas utama Pendidik adalah membuka batang otak.

Albert Einstein pernah mengatakan :”Jika awalnya tidak gila, maka


selanjutnya akan biasa-biasa.” Maksudnya, dalam memproses pembelajaran  harus disertai strategi atau trik yang bisa menggugah, menyalakan batang otak sehingga peserta didik menjadi minat dan menganggap materi pembelajaran  adalah sesuatu yang bener-bener asyik, menggugah, indah,  mencerahkan, sangat “wow” dan sebagainya. Jika proses awal ini sukses dan bisa memuaskan otak naluri kita (otak reptil), maka jalur persyarafan akan menyodok Dopamin otak, sehingga akan memproduksi jutaan neurotransmiter ke seluruh impuls syaraf yang akibatnya kita menjadi sangat bergairah (passionate), antusias, tertantang, ingin tahu lebih lanjut atau curious.

Strategi pembelajaran .

Tetapi hati-hati. Anda jangan cepat puas dahulu, karena proses ini bisa padam sewaktu-waktu jika Anda tidak meneruskan dengan melakukan skenario pembelajaran yang juga tidak kalah hebohnya. Anda sudah capek-capek melakukan trik-trik untuk menggairahkan pembelajaran jangan sampai sia-sia justru ketika masuk pada inti atau konten pembelajarannya, Anda lakukan dengan monoton, kaku, datar, tanpa minat, tidak menggugah rasa ingin tahu dst. Fernon Magnesen dari Texas University telah melakukan penelitian, yang kesimpulannya, pencerapan materi pembelajaran akan mencapai 90 persen jika dilakukan dengan menggabungkan antara, MENDENGARKAN, MELIHAT, MENGALAMI / PRAKTEK DAN MENGUNGKAPKAN / MEMPRESENTASIKAN.

Membangun Kompetensi

Kompetensi adalah keterampilan, pengetahuan, sikap dasar serta nilai yang dicerminkan ke dalam kebiasaan berpikir dan bertindak yang sifatnya berkembang, dinamis, kontinyu (terus menerus) serta dapat di raih setiap waktu. Kebiasaan berpikir serta bertindak dengan konstan, konsisten dan dilakukan secara terus-menerus akan membuat seseorang menjadi kompeten.

Beberapa dimensi yang terkandung dalam konsep kompetensi yaitu sebagai berikut :

1⃣Understanding atau pemahaman, yaitu kedalaman kognitif yang dimiliki oleh seseorang

2⃣Skill atau kemampuan, yaitu sesuatu keterampilan ataupun bakat yang dimiliki oleh individu untuk melakukan pekerjaan yang dibebankan kepadanya.

3⃣Knowledge atau pengetahuan, yaitu kesadaran dalam bidang kognitif, yang berarti mengetahui apa yang harus diperbuat.

4⃣Interest atau minat, yaitu kecenderungan seseorang yang tinggi terhadap sesuatu atau untuk melakukan sesuatu perbuatan.

5⃣Attitude atau sikap, yaitu reaksi seseorang terhadap rangsangan yang datang dari luar, misal; rasa senang, suka atau tidak suka.

6⃣Value atau nilai, yaitu suatu standar perilaku atau sikap yang dipercaya secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang

Proses Menjadi Kompeten

Fase 1 : Unconscious Incompetence

Pada masa ini seseorang tidak sadar bahwa dirinya tidak mempunyai pengetahuan dan kemampuan serta tidak menyadari apa perlunya menguasai kedua hal itu. Sebagai contoh, setiap anak berusia kira-kira 1,5 tahun tadinya tidak menyadari bahwa dirinya suatu saat nanti harus bisa mengendarai sepeda. Tidak ada interes dan tahu apa manfaatnya bisa mengendarai sepeda. Oleh karenanya proses pembelajaran yang dilakukan berupa AWAKENING atau menggugah kesadaran dan menumbuhkan need. Jika menyangkut kompetensi spiritual, bisa ditanamkan VALUES tentang Ketuhanan dan amal sholeh

Fase 2 : Conscious Incompetence

Pada Fase ini seseorang sudah menyadari bahwa dirinya perlu mempunyai pengetahuan dan kemampuan serta menyadari perlunya memiliki kedua hal itu, tetapi dia tidak memiliki pengetahuan ataupun kemampuan. Kalau dalam contoh bersepeda tadi, karena anak itu melihat anak-anak lain bermain-main sepeda, iapun kemudian tertarik ingin mencoba atau pinjam sepeda bekas kakaknya didorong kesana kemari. Saat itulah ia mulai menyadari dirinya harus bisa naik sepeda. Karena tergiur oleh teman-temannya yang sudah bisa, iapun mulai berminat untuk berlatih naik sepeda, sampai akhirnya bisa.

Maka proses pembelajaran pada fase ini dilakukan dengan contoh kongkrit, keteladanan serta berinteraksi dan berpraktek. Untuk kompetensi spiritual dilakukan dengan cara membangun habit ibadah maupun akhlaqul karimah.

Fase 3 : Conscious Competence

Pada fase ini seseorang sudah sadar bahwa dirinya punya pengetahuan ataupun skill walaupun belum mahir betul. Maka proses pembelajaran pada fase ini adalah mendorong belajar dan terus memupuk semangat berlatih, mengulang dan memberikan presupposisi, SEMAKIN IA BELAJAR DAN BERLATIH SERTA MENGUASAI BIDANG TERTENTU SEMAKIN MUDAH UNTUK MENDAPATKAN SKILL LAINNYA. Dalam kompetensi spiritual bisa melalui pemberian pencerahan, diajak melakukan refleksi, merasakan hikmahnya amalan-amalan agama.

Fase 4 : Unconscious Competence

Fase ini seseorang sudah tidak menyadari bahwa dirinya menguasai begitu banyak pengetahuan dan skill. Kalau dalam contoh naik sepeda tadi, sesudah anak itu bertahun-tahun naik sepeda, akhirnya ia sudah tidak menyadari lagi, apa yang harus ia pikirkan dan lakukan ketika harus menjaga keseimbangan kendaraan yang beroda dua itu. Bahkan kita sering melihat sekelompok anak-anak bermain sepeda ala motor cross, yaitu melakukan jumping atau manuver-manuver dahsyat.

Hal tersebut juga berlaku pada skill lainnya seperti seorang pembicara publik yang hebat, pakar di berbagai bidang, pemimpin masyarakat, dokter spesialis terkenal, teknisi andal dan seterusnya. Dalam kompetensi spiritual seseorang menjadi sudah sangat aware terhadap agamanya, bahkan dia sudah bisa melakukan transfer of values terhadap orang lain. Inilah tujuan paripurna dari proses belajar yaitu MENJADI UNCONSCIOUS COMPETENCE

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

No Responses to “Membangun Kompetensi Sesuai Kinerja Persyarafan, Trainer Amir Faisal 08157698288”

Leave a Reply