Memimpin Generasi Milenial Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on October 31st, 2018 No Comments

Amir Faisal 0815 769 8288,  baca buku Tiba-tiba Jadi Bos dari  gramedia.com

Artikel ini bermanfaat untuk para pemimpin bisnis dan non bisnis, Guru, Dosen, dan orang tua.

Suatu hari jika Anda berkeliling mengunjungi kantor-kantor, perusahaan-perusahaan ataupun lembaga-lembaga pendidikan, setidaknya Anda akan menemukan tiga generasi yang aktif bekerja, yaitu generasi Baby Boomers yang lahir sebelum tahun 1965, Gen X yang lahir antara tahun 1965-1979 dan Gen Y atau sering disebut generasi Milenial, yang lahir antara tahun 1980-2000.

Masing-masing generasi punya keunikan tersendiri, memiliki kelebihan dan kekurangan, yang bila tidak dikelola dengan baik bisa menimbulkan “generation gap” yang bisa merusak corporate culture yang sudah dibangun. Untuk itu para pemimpin perlu memahami fenomena tersebut.

Ketika mengikuti Coaching & Workshop Digital Marketing kelas Asia Tenggara, saya dapatkan data data yang sangat meyakinkan tentang berapa waktu yang dihabiskan oleh masing-masing generasi di internet. Hal itu telah menyebabkan terjadinya pergeseran tata nilai, perilaku dan cara berkomunikasi yang diakibatkan oleh penggunaan yang semakin massive peralatan teknologi digital terutama oleh generasi usia 45 tahun kebawah, atau yang disebut sebagai Gen Y dan Z, sehingga mau tidak mau kita perlu mengubah strategi kepemimpinan dalam organisasi bisnis, non bisnis dan pendidikan kita.

Jadi, era milenial menyebabkan perubahan perilaku positip, seperti : lebih kritis, melek teknologi, sadar akselerasi, haus informasi dan pengetahuan, kreatif, transparans, menghargai kejujuran dan orisinalitas, equality, apresiasi pada kompetensi dan ekspertise, serta semangat berkolaborasi, lebih peduli, suka publikasi dan sebagainya.

Sebaliknya ada juga ekses negatipnya, seperti : kurang memahami etika (subyektif menurut gen X), permisif, real social skill uncompetence, uncompetence on values n believing, serta cenderung liberal, dan tidak mau dikekang.

Setiap generasi tentu memiliki sisi positip dan negatif, dimana perilaku negatipnya bisa dieliminir, kemudian perilaku positipnya diimprove sehingga menghasilkan karakter dan keunggulan-keunggulan dalam karya yang kreatif inovatif.

Kemudian, era digital menghadapkan kita pada dua kemungkinan. Pertama, kita menjadi korban, atau yang kedua, kita bisa mendapat manfaat, dan bahkan keuntungan –keuntungan komersial maupun non komersial. Siapapun Anda sudah pasti tidak ingin menjadi korban.

Oleh karenanya lakukan langkah antisipatif supaya bisa mengambil manfaat dari era yang tidak mungkin dihindari yang telah secara massive masuk dalam kehidupan keluarga, pekerjaan dan bisnis kita itu.

Dalam keluarga aplikasi di smartphone, jika tidak dikelola dengan baik justru bisa mengancam eksistensi manusia itu sendiri. Sikap malas, egois, asyik hidup di dunia kita sendiri dan perilaku serba instant merupakan beberapa hal negatif yang melekat pada manusia yang hidup di era milenial ini.

Di lingkungan kantor dan perusahaan yang saat ini pekerjanya berasal dari generasi milenial, tentu saja juga perlu menyesuaikan dengan trend baru ini,dan bukan hanya perlatannya saja.

Untuk itu, siapapun Anda yang merasa diamanati menjadi pemimpin ataupun pendidik di era milenial ini, perlu mengubah dan mendevelop mindset kepemimpinannya dan melakukan antisipasi agar bisa mereduksi semua dampak negatif dan sebaliknya mampu mengoptimalkan semua potensi positip diatas.

Di bawah ini terdapat beberapa karakter dan tindakan antisipatif yang perlu kita lakukan.

Mendevelop mindset milenial
Dampak nyata akibat dari datangnya era digital ini adalah, era milenial telah mengubah perilaku dan cara berkomunikasi. Oleh karenanya para pemimpin bisnis dan non bisnis perlu untuk memiliki pola pikir baru sebagai berikut :

  • Menyesuaikan diri dengan Mindset baru; Dengan semakin banyaknya pengguna smartphone, maka akses komunikasi seolah sudah tidak bersekat lagi. Hierarkhi jabatan, ataupun kedudukan di masyarakat menjadi hilang. Dengan mudah seorang Abege mengkritik pejabat tinggi. Bahkan tekadang bisa langsung. Ruang pertemuan fisik beralih ke ruang pertemuan digital. (Saat ini pun sudah menjadi kewajaran jika seseorang memiliki puluhan  group di WA, FB ataupun Telegram). Pemimpin di era milenial perlu mengubah mindsetnya mengenai kewibawaan, dari membuat jarak, menjadi kompetensi atau skill
  • Memanfaatkan kemajuan teknologi ini untuk menghadirkan proses kerja yang efisien dan efektif di lingkungan kerjanya. Misalnya dengan mengadakan rapat via WA ataupun Anywhere Pad, mengganti surat undangan cetak  dengan undangan via email, atau Group WA dan membagi product knowledge ke klien via group itu.
    Jika seorang pemimpin tidak berupaya mendigitalisasi pekerjaannya di era saat ini, maka dia akan dianggap tidak adaptif oleh kliennya dan bahkan rekan kerjanya sendiri. Seperti yang dilansir oleh DDI (Development Dimensions International), mayoritas milenial leader menyukai sebuah perusahaan yang fleksibel terhadap jam kerja dan tempat mereka bekerja. Hal ini tentu saja disebabkan karena kecanggihan teknologi yang membuat orang bisa bekerja dimana saja dan kapan saja.
  • Bersikap egaliter dan menjadi pendengar yang baik; Pemimpin di era milenial harus bisa bersikap egaliter, tidak sok kuasa. Tidak boleh bertindak sebagai boss, melainkan menjadi leader, mentor, dan sahabat bagi anggota timnya, serta menjadi pendengar aktif yang baik bagi anggota tim. Apalagi jika mayoritas timnya adalah kaum milenial. Hal ini dikarenakan kaum milenial tumbuh beriringan dengan hadirnya media sosial yang membuat mereka ingin diakui eksistensinya dan didengar aspirasinya. Mereka akan sangat menghargai dan termotivasi jika diberikan kesempatan untuk berbicara, berekspresi, dan diakomodasi ide-idenya oleh perusahaan. Mereka haus akan ilmu pengetahuan, pengembangan diri dan menyukai untuk berbagi pengalaman.
  • Disisi lain, mereka pun tidak ragu untuk melakukan otokritik, jika mereka merasakurang sependapat. Oleh karena itu alangkah baiknya supaya para pemimpin, in-group di media sosial milik mereka seperti Facebook, Instagram, WA dan Telegram. Apabila perusahaan kita mempunyai market segmen kaum milenial, maka pendekatan yang sama bisa diterapkan untuk mendapatkan insight mereka. Dan ketika berinteraksi, jadilah bagian dari mereka seutuhnya.
  • Cerdas menangkap peluang; Pemimpin di era digital perlu jeli melihat peluang dan prospek bisnis, mengapersepsi gagasan dan mendiskusikannya dengan Tim, mengakomodirnya dengan sistem yang ada serta menfasilitasinya supaya peluang itu dapat ditangkap. Discontuinity yang seringkali dihindari, bisa diubah menjadi antisipatip untuk menemukan kemungkinan terbaik dari yang paling buruk. Karena disruption identik dengan discontuinity. Uncertainty bisa terjadi pada sistem manajemen, perubahan teknologi, maupun situasi pasar
  • Berani tampil beda; Masih banyak pemimpin yang takut melakukan transformasi dan mengubah kebiasaan orang-orang di sekitarnya. padahal jika situasi dan kondisi buruk dibiarkan, akan menjadi menghambat perusahaan untuk maju. Seringkali tradisi di sebuah perusahaan membuat orang lebih suka membenarkan yang biasa daripada membiasakan yang benar. Ini adalah tantangan bagi para pemimpin milenial dalam mengubah kondisi tersebut dan menanamkan nilai bahwa berbeda itu boleh asalkan dengan perencanaan dan tujuan yang jelas.
    Oleh karena itu, untuk memberi contoh, pemimpin harus berani berbeda, baik dari cara berpikir, kebijakan, maupun penampilannya. Tentu perbedaan itu demi kebaikan tim dan perusahaan, misalnya membebaskan pakaian kerja tim yang semula berseragam menjadi pakaian semi formal agar menambah semangat bekerja mereka karena tampil keren di hadapan teman kantornya. Menekankan kepada tim bahwa setiap orang memiliki keunikannya masing-masing dan diberdayagunakan untuk kepentingan organisasi juga salah satu tugas dari pemimpin.
  • Pantang menyerah; Semua pemimpin harus memiliki sikap pantang menyerah. Apalagi memimpin generasi di era milenial yang lekat dengan sikap malas, manja, dan merasa paling benar sendiri. Pemimpin milenial wajib memiliki sikap positive thinking dan semangat tinggi dalam mengejar goals-nya. Hambatan yang muncul seperti kurangnya respect dari pegawai senior maupun junior harus bisa diatasi dengan sikap ulet dan menunjukkan kualitas diri. Kondisi persaingan kerja di era globalisasi harus memicu pemimpin untuk meningkatkan soft competence skillsnya, seperti kemampuan bernegosiasi, menginspirasi, dan critical thinking, dan hardskills-nya seperti membuat desain grafis dan berbahasa asing. Maka dari itu, wajib bagi pemimpin untuk menjadi sosok yang unbeatable yang memiliki kemampuan bangkit dari kegagalan dengan cepat dan pantang menyerah dalam menggapai tujuannya.
  • Penjaga moral; Jack Ma, kampiun digital berkelas dunia mengatakan bahwa teknologi dan sain dengan mudah dapat dikalahkan oleh komputer. Tetapi values dan nilai-nilai moral tidak bisa. Karena komputer tidak mengenalnya. Justru di era milenial dimana nilai-nilai moral semakin longgar, kejahatan semakin canggih, penghargaan manusia sebagai human being semakin menurun, maka para pemimpin perlu menginspirasi dan menanamkan nilai-nilai keluhuran, kemuliaan dan kemanusiaan pada para anggotanya. Tentu saja harus disertai contoh-contoh tauladan yang kongkrit. Mengingat karena era digital adalah era transparansi, maka perilaku pemimpin bisa diamati selama 24 jam.

Membangun Kepemimpinan yang antisipatif

Antisipasi untuk menghadapi era digital menurut Renald Kasali adalah membangun awareness dan meningkatkan kemampuan strategis untuk membaca “where we are” dan “where we are going to”.

Menurutnya, era ini sekurang-kurangnya telah mengubah tiga hal : (1) Bergesernya owning menjadi sharing dalam kegiatan ekonomi, time liniear menjadi real time, suplay demand tunggal menjadi suplay demand jejaring.

Jack Ma tidak perlu memiliki (owning) Mall di berbagai negara, tidak perlu punya gudang untuk menyimpan barang, armada untuk mendistribusi, dan tidak perlu merekrut ribuan tenaga kerja untuk menjajakan barang yang bernilai ratusan trilyun, tetapi cukup membangun Startup.

Begitu juga yang dilakukan oleh Grab yang tidak perlu membeli mobil dan menggaji sopir beserta asuransinya. Traveloka bisa menjual kamar dan transportasi tanpa memiliki properti dan seterusnya.

Oleh karenanya, (2) Kepemimpinan yang dibutuhkan adalah kepemimpinan kolaboratif yang mampu menjaring network seluas-luasnya untuk diajak sharing, bukan kepemimpinan yang monopolistis.

Implikasi berikutnya adalah semua unit-unit jejaring perlu membangun sistem produksi yang ekspert serta delivery yang cepat dan andal. Sebab market place membutuhkan produk atau jasa yang real time dan on demand serta berkualitas baik, yang mana hal ini dituntut kepemimpinan yang memiliki skill untuk membangun korporasi yang memiliki competitive advantage.

Kemudian (3) Semua prinsipal perlu menyadari bahwa produk / jasa sejenis sama-sama mensuplai satu market yang sama, sehingga deferensiasi produk oleh konsumen hanya bisa dibedakan melalui values dan impresi iklan.

Untuk itu kepemimpinan yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang aware akan values yang menjadi idola masyarakat, dan kemampuan mengkomunikasikan produk dan jasa secara persuasif.

Organisasi non bisnis seperti lembaga pendidikan, lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah, mau tidak mau perlu menyesuaikan strategi kepemimpinannya seperti tiga hal yang telah disebutkan diatas, jika tidak ingin terdisrupsi oleh zaman digital ini. Sebab dalam perspektif bisnis, ketiga lembaga ini kategorinya sama dengan korporasi jasa.

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/semut-mengalahkan-gajah-ii

Amir Faisal

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

No Responses to “Memimpin Generasi Milenial Trainer Amir Faisal 08157698288”

Leave a Reply