Memanfaatkan Meta Anchoring untuk Mencapai Puncak Keunggulan Manusia, Trainer Amir Faisal 08157698288.

blog on January 14th, 2020 1 Comment

Trainer Amir Faisal 0815 769 8288, buku Destined To Be A Leader Amir Faisal dari google books

NLP ( Neuro Linguistic Programming ) pada awalnya adalah modelling. Bahkan banyak terapi dalam NLP, misalnya teknik anchoring yang menggunakan prinsip modelling, yaitu memodel pengalaman kesuksesan kita sendiri di masa lalu, untuk distop dan dihadirkan pada saat kita hendak melakukan tindakan yang memerlukan motivasi ataupun dukungan kepercayaan diri.

Pertanyaannya, bagaimana jika kita merasa tidak memiliki prestasi dimasa lalu. Atau model yang hendak kita anchorkan di masa lalu itu tidak cukup kuat untuk menghadapi tantangan pada saat ini?

Untuk itu bisa kita gunakan Meta Anchoring, yaitu pengalaman religius kita sendiri dengan Tuhan yang setiap orang pasti punya, termasuk mereka yang tidak mengakui adanya Tuhan sekalipun. Penelitian Dean Hammer membuktikan bahwa di thalamus otak setiap manusia terdapat memori itu.

Setiap orang pernah mengalami kejadian supranatural, keajaiban atau miracle atau apapun mereka menamainya, dan orang memiliki keyakinan dan ekspektasi bahwa kejadian itu akan bisa berulang, terutama saat menghadapi tantangan yang cukup berat atau masalah yang dengan cara normal rasanya sulit untuk bisa diatasi.

Bagaimana konsep meta anchoring dalam pikiran dan perasaan kita itu?

Manusia sesungguhnya makhluk yang paling istimewa di muka bumi ini. Coba visualkan, matahari yang besarnya ratusan ribu kali bumi saja jika dibandingkan dengan gugusan galaxi, ukurannya tidak lebih besar dari setitik debu – dapat dibayangkan betapa maha mikronnya manusia jika dibandingkan dengan galaxi – padahal ada milyaran galaksi di alam semesta. Tetapi mahluk yang super mikro ini mampu merusak dan meruntuhkan sistem alam semesta yang sangat besar.

Meskipun manusia secara fisik amat sangat kecil, tetapi oleh  Tuhan Allah SWT diberikan kedudukan yang paling tinggi. Uniknya manusia bisa melakukan tindakan-tindakan luhur yang sanggup menggetarkan syaraf kekaguman kita – Besarnya pengikut tokoh-tokoh itu merupakan ukuran nyata dari pengaruh yang mereka miliki. Namun demikian kita juga mempunyai sejarah kelam yang diakibatkan oleh ulah manusia.

Al-Ghazali mengatakan bahwa pada awalnya Tuhan menciptakan manusia dalam kondisi yang disebut taswiyah (kondisi cocok untuk menerima ruh) maka barulah Tuhan Meniupkan ruh kedalamnya.

Pada tahap ini kondisinya disebut sebagai Tafidhu ( keadaan resam tubuh yang telah rela menerima Rahmat Allah sehingga menjadi kepribadian tertentu atau dalam bahasa psikologi acceptance ). Peniupan ruh ini sekaligus sebagai pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya, dimana ruh itu nanti yang akan menuntun sang jasad supaya senantiasa pada jalan yang benar sesuai dengan tujuan penciptaan.

Ketika ruh yang berada dalam tubuh itu telah lahir ke dunia, ia berupaya mencari pengetahuan tentang Tuhannya dan tidak akan pernah merasa tenteram  apabila, atau karena sesuatu hal tidak memperoleh kesempatan untuk mendapatkannya.

Semacam “titian karier” di dalam dunia yang fana ini. Dan ini merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman empiris dan pengetahuan tentang bagaimana Tuhan mengatur tatanan kehidupan dari semua ciptaanNya, termasuk human being kita.

Kerinduan dan proses pencarian untuk menemukan kembali suasana perjumpaan dengan sang Pencipta merupakan sebuah petualangan yang melibatkan curahan pikiran, perasaan dan jiwa. Karena di dalam ruh itu itu sudah terpateri namaNya sejak sebelum ditiupkan, disertai dengan pernyataan masing-masing ruh itu untuk senantiasa mengabdi kepadaNya.

Selain dari pada itu perjalanan panjang di dunia ini sekaligus merupakan perjuangan ruh itu untuk bisa kembali kepadaNya – disamping memenuhi kodratnya untuk melakukan tugas Ketuhanan di dunia – karena keadaan yang paling menenteramkan bagi ruh itu hakekatnya ketika berada didekatNya, sebagaimana tempat yang paling nyaman bagi bayi adalah dalam dekapan ibunya.

Beberapa presupposition yang bisa diterapkan dalam meta anchoring :

Kebahagiaan itu bersumber dari dalam diri kita

Kebahagiaan  adalah sebuah subyek. Dia tidak memerlukan sebab, melainkan justru menjadi sebab bagi perasaan-perasaan yang lain. Kebahagiaan  sudah ada dan telah bersemayam dalam hati kita. Kebahagiaan telah dianugerahkan oleh Tuhan sejak kita lahir yang dibawa oleh ruh kita.

Para ahli tasawuf mengatakan bahwa ruh manusia bisa merasakan dan berfikir. Karena ruh itu pula yang mempunyai kekuatan untuk mencintai Tuhannya, mencari pengetahuan tentangNya dan berusaha untuk selalu mendekatiNya. Oleh karenanya jika ingin merasakan kebahagiaan, maka sebenarnya kita tinggal mengambil begitu saja seberapa banyak yang kita butuhkan. Misal, ketika sedang membaca buku ini berbicaralah dengan diri Anda sendiri – “Ya Tuhan betapa beruntungnya aku ini, Engkau karunia aku otak yang cerdas dan bisa merasakan nikmatnya belajar” – niscaya Anda akan merasakan arti kebahagiaan.

Jika kebahagiaan ibarat danau yang luasnya tak bertepi, maka rasa syukur adalah gayungnya.

Sebaliknya ketidakbahagiaan atau kekurangbahagiaan diakibatkan karena kita membuat persepsi dalam diri, bahwa ia berada di luar diri kita.

Tujuan hidup kita adalah mencari kebahagiaan disisi Tuhan Allah SWT

Jiwa manusia berasal dari Tuhan dengan begitu pasti ia akan selalu mencari jalan untuk kembali kepadaNya. Peristiwa dan proses sebelum ruh dihembuskan kedalam rahim ibu  menunjukkan bahwa setiap manusia sebenarnya pernah dipertemukan dengan Dzat Yang Maha Rahman dan Rahim itu.

Peristiwa itu telah terekam begitu kuatnya kedalam sel dan DNA manusia. Oleh karenanya tidaklah mengherankan apabila sesudah bayi itu lahir ke dunia dan menjadi manusia utuh dengan kecerdasan intelektual dan emosinya, nalurinya akan mendorong untuk mencari cinta pertamanya itu, bagaikan mencari kekasih yang telah bertahun-tahun lamanya terpisah, ada semacam kerinduan untuk bertemu kembali dan  mendekat serta sesering mungkin bercakap-cakap denganNYA dan jikalau tidak terpenuhi, sudah pasti jiwanya akan menderita.

Ada semacam hukum tarik menarik antara jasad kita yang bersifat materi dengan ruh kita yang selalu ingin berdekatan dengan Tuhan, dari mana dia berasal. Jika terpenuhi ia akan merasa bahagia, sebaliknya kalau dipisahkan atau dijauhkan ia akan menderita sakit.

Mengingat, kebahagiaan itu sifatnya rohaniah – bukan jasmaniah sebagaimana seringkali dipahami secara salah – maka ia tergantung dari sejauh mana jasmani kita bersedia memenuhi tuntutan jiwa Anda itu.

Fitrah jiwa manusia senantiasa ingin berdekatan dengan Tuhan yang menjadi visinya dan bukan menjauhinya, kebahagiaan itu  sudah bersemayam dalam diri tiap insan. Jika ingin menikmati rasa bahagia dalam hidup ini, tinggal kembali kepada fitrahnya, yaitu dekat dengan sang Maha Pencipta.

Orang-orang yang jauh dari Tuhan akan merasakan sesuatu yang kosong dalam hidupnya, merupakan bukti adanya jiwa manusia merupakan realitas yang tidak terelakkan lagi. Maka mereka merasa teralienasinya terhadap dirinya sendiri, orang-orang sekelilingnya maupun terhadap Tuhannya

Kebenaran mutlak atau yang “benar-benar benar” hanya bisa diakui oleh hati nurani.

Terdapat empat tingkatan kebenaran :

Tingkat kebenaran yang pertama adalah persepsi. Persepsi hanya didasarkan pada praduga, nampaknya, kedengarannya. Rel kereta api semakin jauh akan nampak semakin berimpit. Bulan purnama nampak berjalan menembus awan.  Pesawat nampak seperti berhenti di ketinggian langit.

Kita tidak bisa secara persis membedakan suara ban truk trailer yang pecah dengan ledakan bom yang low explosive. Ketika mendengar issue negatip tentang seseorang, kemungkinan kebenarannya masih setengah, mungkin betul mungkin salah dan seterusnya. Persepsi baru diketahui benar atau salah sesudah dilakukan pengamatan dengan seksama atau melakukan penelitian.

Tingkat yang kedua adalah kebenaran intelektual yang didasarkan pada kinerja otak cortex. Kebenaran pada tingkat ini sudah lebih masuk akal dibanding yang pertama, karena sudah menggunakan pengamatan dan penelitian baik empiris, melakukan konfirmasi ataupun menggunakan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya.

Tetapi kebenaran ini masih terbatas, karena penarikan kesimpulannya masih tergantung kepada asumsi-asumsi, batasan-batasan, aksioma-aksioma ataupun hukum-hukum yang dibuat sebelumnya. Selain itu hasilnya, apakah “benar-benar benar” atau dibenar-benarkan (pembenaran), masih mengandung dua kemungkinan. Misalnya, konfirmasi pernyataan politik dari sumber terpercaya terkadang sulit dipercaya. Para peneliti dalam membuat report, yang bersangkutan kadang-kadang masih meragukan beberapa hal.

Kebenaran tingkat ketiga adalah kebenaran berdasarkan rasa. “Perasaan tidak mungkin tidak jujur”. Tetapi perasaan terkadang memihak, tidak fair, mudah dipengaruhi, terpengaruh oleh situasi dan kondisi.

Tingkat kebenaran yang keempat adalah kebenaran berdasarkan hati nurani. Sebagai contoh, pada saat bertengkar, kita berusaha membela dan membenarkan diri mati-matian sekaligus mempersalahkan pihak lawan. Tetapi pada saat itu sekilas sempat terbersit di pikiran kita, “Dia ada benarnya juga ya ?“ “Dalam beberapa hal saya ada salahnya juga !”

Oleh sebab itu, kebenaran ini walaupun terkadang sifatnya inspiratif, berdasarkan bisikan suara hati paling dalam, tetapi karena sangat tulus dan apabila yang bersangkutan mengalami situasi yang yang benar-benar flow dan fullenlightenment –  maka yang bersangkutan akan mendapat semacam miracle, berupa keyakinan yang “benar-benar benar.”

Sebagai contoh, Murakami ketika sudah merasa mencapai batas akhir yang paling mungkin dilakukan sebagai peneliti serta sudah menggunakan peralatan yang paling mutakhir, tetapi tetap saja belum menemukan faktor yang paling dominan terhadap gen pembawa sifat, maka dia mengatakan,

Apa yang dilakukannya sebagai ilmuwan telah mencapai titik optimalnya. Dan dia telah memasuki wilayah yang tidak mungkin dijangkaunya lagi, karena berada pada dimensi yang berbeda. Dia hanya mengatakannya bahwa itu berasal dari sesuatu yang Agung.

Inilah pengakuan jujur yang keluar dari hati nurani seorang ilmuwan tentang realitas dan kebenaran Allah SWT dari seorang ilmuwan yang jujur dan rendah hati.

Tujuan ilmu pengetahuan adalah memperpendek jarak antara keterbatasan ilmu kita dengan ketidakterbatasan ilmu Tuhan

Ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang bebas nilai, tetapi ia punya tujuan, yaitu sebagai upaya untuk mendekati sumber dari segala sumber pengetahuan, sumber dari segala sumber kebenaran dan sumber dari segala sumber cahaya kehidupan.

Al-Ghazali mengatakan bahwa suatu ilmu layak dianggap sebagai ilmu pengetahuan apabila bisa mendekatkan atau memperpendek jarak antara keterbatasan ilmu yang dimiliki oleh manusia dengan ilmu Allah yang tidak terbatas, sedangkan ilmu yang tidak berfungsi mendekatkan kita kepadanya hanya menduduki tempat sebagai ilmu alat.

Ilmu alat hanya berkenaan dengan cara hidup, sedangkan hakekat ilmu pengetahuan adalah menemukan tujuan hidup, karena salah satu nama Allah adalah Al’Alim ( Yang Maha Mengetahui) dan salah satu sifat wajibNya adalah ‘Ilm (Maha Menguasai Segala Ilmu Pengetahuan).

Kita didesain secara sempurna untuk menjadi wakil Tuhan di bumi, tidak mungkin terjadi kegagalan jika tugas itu dilakukan sesuai dengan desainnya.

Terdapat  dua  anggapan  ekstrim  mengenai  eksistensi  manusia  di dunia. Ekstrim  pertama  mengatakan  bahwa, manusia  hidup  di dunia  ini  dalam keadaan  terpaksa  dan berada di tempat  yang tidak dikehendakinya.  Maka anggapan  dengan  ekstrim  ini – selama  berada  di  dunia – selalu  berupaya  untuk  mengurangi  sebanyak  mungkin penderitaan  yang  harus dialaminya – semacam away from – menghindari  masalah,  kesulitan,  rasa lapar,  rasa sakit,  rasa kantuk  dan  sebagainya.

Sedangkan  ekstrim  kedua beranggapan bahwa  keberadaan manusia  di bumi ini memang sudah pada tempatnya. Atau  memang  sudah  seharusnya  terjadi  demikian. Sejak awal manusia memang sudah dirancang untuk menjadi “wakil” Tuhan di muka bumi. Bertindak atas dan untuk namaNya. Pembuktian oleh para ahli biokimia mengatakan bahwa hampir semua unsur yang ada di alam semesta ini ada dalam tubuh manusia. Begitu juga hukum-hukum fisika yang terjadi di alam semesta juga terjadi pada manusia.

Anggapan dasar dari ekstrim kedua  akan menciptakan sikap tanggung jawab dan keberanian untuk mengatasi masalah –bukannya menghindari masalah – serta memunculkan kreatifitas yang luar biasa untuk menundukkan alam. Kedudukan manusia lebih penting dibandingkan alam semesta yang sengaja diciptakan dalam rangka rencana besar Tuhan untuk menciptakan manusia. Satu sisi, manusia adalah  wakil  Tuhan di bumi yang diberi tugas mengelola kehidupan di dunia, Namun kedudukannya terhadap Tuhan tetap sebagai seorang hamba.

Hakekatnya tidak ada dikotomi antara tugas Ketuhanan dengan tugas kemanusiaan. Tugas Ketuhanan dengan tugas di pemerintahan, di bidang bisnis, politik, hukum, sosial, budaya, militer dan pekerjaan sehari-hari lainnya.

Kegagalan dalam hubungan kemanusian sebagian besar karena tidak dipahaminya anggapan ini dengan baik. Berfikir secara dikotomis. Begitu melakukan tugas-tugas sehari-hari, tiba-tiba ia merasa bahwa apa yang ia lakukan di dunia ini tidak ada hubungannya dengan Tuhan,

Mereka merasa menjadi manusia bebas, mengaku diciptakan oleh Tuhan tetapi tidak mau dipelihara oleh, serta diatur olehNya. Tuhan hanya diberi hak untuk mengatur masalah akhirat, sedangkan apa saja yang dia lakukan di dunia sepenuhnya merupakan haknya pribadi.

Tuhan juga telah memberikan semacam buku petunjuk  (guidance book) berupa kitab suci untuk menjalankan kehidupan di dunia ini. Tidak ada kekeliruan terhadap rancangan Tuhan maupun dalam membuat buku petunjuknya. Sepanjang kehidupan dijalankan sesuai dengan buku petunjuk, kegagalan merupakan kemustahilan, sebagaimana menjalankan mobil Toyota tentu harus dengan buku petunjuk menjalankan dan perawatan mobil yang dikeluarkan oleh perusahaan itu.

Kita menjadi besar karena berfikir besar

Presupposisi diatas menciptakan presupposisi baru, yaitu Tuhan sebenarnya berkehendak agar kita menjadi manusia besar, tetapi seringkali kita sendirilah yang menganggap diri kita kecil, lemah, tidak berdaya dan sebagainya. Jika derajad kita bisa dibuat skala dari 0 sampai 9, berapa angka yang Anda pilih untuk menunjukkan kedudukan atau martabat Anda sendiri ?

Jika Anda memilih angka 9, berarti Anda telah menemukan visi Anda sesuai yang dimaksudkan oleh Tuhan. Tetapi jika masih terdapat keraguan tentangnya, maka dalam diri Anda masih terdapat anggapan negatip tentang maksud dan tujuan Tuhan menciptakan Anda.

Orang yang merasa diri martabatnya tinggi akan berperilaku sepantas orang-orang mulia, sebaliknya orang yang merasa martabatnya rendah akan berperilaku seperti layaknya orang rendahan. Pola pikir ini akan menarik perilaku dan perilaku akan menciptakan habit. Seseorang lama kelamaan akan benar-benar menjadi mulia bila selalu berperilaku terus menerus sebagaimana layaknya orang-orang mulia.

Orang-orang mulia adalah manusia yang tidak suka mempermasalahkan (dalam artian negatip) hal-hal yang kecil, berdebat,  cekcok  atau bertengkar hanya menyangkut perkara yang sepele. Mereka biasanya pemaaf, toleran, karena tidak ingin membuang waktunya kepada hal-hal yang dirasa manfaatnya kecil agar bisa lebih fokus pada hal-hal yang manfaatnya lebih besar bagi kemanusiaan.

Karena hasil akhir hanya bisa diprediksi, maka potensi kita jadi tidak terbatas.

Secara maksimal, apa yang namanya visi, impian dan outcome hanya berbentuk prediksi. Realitasnya akan tetap menjadi misteri. Bisa saja seseorang memiliki impian, sepuluh tahun lagi akan sanggup membeli sebuah pulau, tetapi ternyata  baru setahun usahanya bangkrut, menderita sakit dan seterusnya, tetapi sebaliknya ada yang impiannya tercapai jauh lebih cepat dari prediksinya. Itulah yang dimaksud sebagai misteri takdir.

Seandainya takdir tidak ada dan semua yang kita prediksikan pasti tercapai atau sebaliknya kita bisa melihat dengan pasti bahwa semua rencana kita akan gagal, maka manusia justru akan mati lemas, kehilangan energi. Sebab untuk apa lagi kita mengerahkan potensi, kreatifitas dan berjuang mati-matian, kalau hasil akhirnya sudah jelas.

Jadi takdir bukanlah tindakan kesewenang-wenangan Tuhan, melainkan sebuah tantangan yang mengandung misteri yang mengasyikkan ( seperti menebak teka-teki ) dan ujian keberanian menghadapi hidup.

Tuhan telah berfirman, bahwa Ia akan mengikuti persangkaan hambaNya. Hal ini adalah sebuah perintah yang sangat jelas bagi kita agar kita membuat visi atau impian hidup dan selalu fokus pada impian itu, mengerahkan semua potensi dan energi, selalu melakukan optimalisasi diri dengan penuh gairah dan keyakinan bahwa memang itulah gambaran hari depan kita.

Semua kejadian akan berlaku sesuai Sunnatullah

Akan tetapi walaupun hidup ini mengandung misteri, tetapi Tuhan juga memberikan hukum-hukum kepastian. Kalau anda meminta kepada tiap orang yang lewat depan rumah Anda, untuk melemparkan bola, pasti bola itu sesudah melambung akhirnya akan jatuh ke tanah, apakah yang melempar itu Michael Jordan atau seorang kakek-kakek. Walaupun jarak lemparannya tidak sama persis, tetapi bolanya akan tetap jatuh ke bawah, karena adanya hukum gravitasi.

Hukum gravitasi termasuk hukum alam atau Sunnatullah yang sifatnya universal. Berlaku bagi siapa saja tanpa pandang bulu. Dengan hukum ini Tuhan memberikan kesempatan yang sama kepada manusia untuk melakukan prestasi atau memperoleh keunggulan, yaitu, jika kita membuat aksi A pasti akan menghasilkan B.

Memang Tuhan tidak terikat dengan hukum yang dibuatnya sendiri. Dia terkadang memberikan pengecualian tertentu, tetapi kita sebaiknya tidak usah mempermasalahkan hal ini. Disamping kemungkinannya tidak banyak, hal itu juga sepenuhnya menjadi hak prerogatifNya, dimana kita tidak mempunyai kekuasaan untuk ikut campur.   Maka kita hanya akan menggunakan anggapan dasar yang bersifat umum.

Presupposisi ini maksudnya hampir sama dengan presupposisi, “Jika seseorang bisa melakukan sesuatu, orang lain bisa belajar melakukannya.” Jadi nasib kita tergantung pada, kita mau secara proaktif atau tidak untuk melakukan aksi atau menciptakan sebab, agar Tuhan berkenan Memastikannya menjadi akibat yang sesuai dengan yang kita inginkan.

Keberuntungan dapat dikelola dan bukan milik orang tertentu

Didalam Al-Quran, Tuhan Berbicara tentang cara memperoleh keberuntungan sebanyak 40 kali. Hal ini menunjukkan bahwa keberuntungan itu sesuatu yang sangat manageble, serta siapapun bisa dengan mudah mendapatkankan. Bahkan orang tidak harus menjadi Muslim dulu untuk mendapatkan keberuntungan duniawiyah.

Tuhan telah memberikan jaminan kepada seluruh manusia tanpa kecuali, “Jika engkau berbuat kebaikan, maka kebaikan itu akan kembali kepada dirimu sendiri. Dan jika engkau berbuat keburukan, maka keburukan itu akan menimpa dirimu sendiri” (Q.S. 17 : 7). Jadi kebaikan hakekatnya sebuah investasi yang kelak pasti akan kita manfaatkan dan nikmati sendiri, sebaliknya kalau kita berbuat keburukan, berarti kita telah berutang dan utang suatu saat harus kita bayar.

Orang kaya yang baik dan dermawan pada umumnya kekayaannya lebih bertahan lama, bahkan selamanya. Hal itu dikarenakan mereka melakukan dual investment – menginvestasikan kekayaan pada dua sisi sekaligus – yaitu pada sisi lahir berupa uang atau aset-aset lainnya dan sisi batin yaitu sedekah yang bisa menggembirakan sesama manusia yang mereka terus mendoakannya supaya rejekinya selalu melimpah.

Sebaliknya orang kaya yang buruk dan bakhil, walaupun ia menginvestasikan harta dan asetnya tetapi dia terus menumpuk “utang batin” kepada sesama, yaitu berupa dendam, kemarahan dan kutukan dari orang-orang yang telah diperlakukan tidak adil.

Kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban terhadap sesuatu yang tidak ada pilihannya

Ketika di dunia, manusia mendapatkan dua hal pokok. Pertama mendapatkan hal-hal yang harus diterima tanpa pilihan, misalnya menyangkut kebangsaannya, kesukuan, jenis kelamin, warna kulit, jenis rambut, bentuk wajah, tubuh dll. Kedua, hal-hal yang kita mempunyai kebebasan memilih – seperti waktu, tenaga, pikiran, uang, energi – akan digunakan untuk apa saja. Untuk hal-hal yang pertama kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban dari Tuhan. Tetapi tidak demikian dengan hal-hal yang kedua.

Tuhan tidak akan bertanya kenapa rambut kita keriting ?, kenapa tubuh kita bulat ? dan sebagainya. Tetapi Tuhan akan menanyakan pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan yang kita lakukan sepanjang hidup kita, mulai dari kita bangun tidur, hingga naik ke peraduan.

Tuhan Maha Adil. Maka seandainya Tuhan membiarkan saja tanpa pertanggungjawaban atas pilihan buruk kita – misalnya perilaku para suami yang menggunakan uang, energi dan waktunya untuk melakukan perselingkuhan dengan wanita lain – maka justru Tuhan telah berbuat dzalim kepada para isteri yang dikhianati, begitu juga sebaliknya.

Tuhan juga tidak mungkin memperlakukan sama antara pemimpin yang jujur dan setiap hari waktu, pikiran, energi dan kapasitasnya hanya untuk mensejahterakan rakyatnya dengan pemimpin yang memanfaatkan kesempatan selama menjabat untuk memperkaya diri.

Takut diperlakukan tidak adil dan tidak jujur bukan berarti berpihak kepada ketidakadilan dan ketidakjujuran

Kalau Anda diperlakukan tidak adil dan tidak jujur atau ada seseorang berbuat curang kepada Anda, kemudian Anda membalas kepadanya dengan perlakuan yang setimpal, itu artinya Anda telah menjadikan dia sebagai guru atau Anda secara tidak sadar telah me-model dia. Apa akibatnya kalau dalam hidup ini kita berguru kepada orang yang salah ? Maka semua nilai-nilai kemuliaan diatas akan menjadi cacat.

Begitu juga, saat Anda mendapat kesempatan untuk berbuat tidak adil dan tidak jujur, kemudian Anda berfikir, “Kalau saya tidak mengambil kesempatan ini, seseorang pasti akan mengambilnya,”  maka Anda telah andil untuk menjadikan ketidakadilan dan ketidakjujuran menjadi semakin meluas. Atau dengan kata lain, Anda sendiri telah menjadi “wabah” ketidak adilan dan ketidakjujuran.

Oleh karena itu kalau Anda diperlakukan buruk dan Anda merasa tidak mampu untuk mengubahnya, maka tetaplah berpihak pada keadilan dan sekurang-kurangnya berdoalah agar keburukan itu tidak menular kepada Anda !

Penutup

Mungkin akan lebih menarik lagi jika meta anchoring ini kita hubungkan dengan  Neurological Levels. Dalam arti pada tahap-tahap mana pengalaman religi itu bisa kita rasakan? Tetapi artikel ini tidak atau belum berpretensi sejauh itu. Insya Alllah jika Tuhan berkenan memberikan ilham, akan saya tulis.

Saya hanya ingin menjelaskan bahwa meta anchoring ini bisa digunakan dalam terapi-terapi seperti Reframing, Perceptional Positions, New Behaviour Generator, Circle of Excellence, dan Sub Modalities.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

One Response to “Memanfaatkan Meta Anchoring untuk Mencapai Puncak Keunggulan Manusia, Trainer Amir Faisal 08157698288.”

  1. A. MUQOWAM says:

    Suatu saat saya harus ikut dalam training yang sangat bagus ini.

Leave a Reply