“Hiduplah Seperti Sedang Menyewa Taxi” Trainer Mr. Amir Faisal 0815 769 8288

blog on March 24th, 2017 No Comments

Read more »

MEMECAHKAN MASALAH DENGAN NEUROLOGICAL LEVELS (NL) Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on March 22nd, 2017 3 Comments

(Versi lengkap artikel ini bisa didownload di e-book : “Destined To Be A Leader” – googlebooks.com )

Manusia, hubungannya dengan masalah yang dihadapi ada 5 macam :

1. Orang bermasalah : Yaitu mereka yang menghadapi konflik, tertekan, stress, depresi dan seterusnya. Selama mereka tidak berupaya mencari solusi atau jalan keluar, apa yang mereka hadapi justru akan semakin kumulatif

2. Orang yang lari dari masalah : Yaitu mereka yang mengira, bahwa masalahnya akan hilang kalau dihindari atau dilupakan. Padahal tidak mungkin orang hidup itu menghindari masalah. Sehingga kedepannya orang ini akan semakin bertambah kesulitan menghadapi masalahnya, karena ibarat PR kelas I belum dikerjakan, maka dia harus mengerjakan PR kelas II

3. Pembuat masalah : Yaitu mereka yang secara sengaja atau tidak punya kecenderungan membuat sesuatu menjadi kacau, tidak nyaman dan seterusnya

4. Pencari Masalah : Mereka yang selalu berupaya mencari tantangan-tantangan baru.

5. Pemanfaat masalah : Mereka yang mendapatkan peluang dari masalah yang dihadapi oleh orang-orang
Nomer 1 sampai nomer 3 itu kategorinya sama, yaitu orang-orang bermasalah. Sedangkan nomer 4 adalah mereka yang bisa sukses hidupnya dan nomer 5 adalah orang yang bisa kaya raya.

Robert Dilts, Developer NLP telah mengembangkan model pemecahan masalah dengan cara mengkategorikannya sesuai dengan situasi yang dihadapi maupun tingkat kemampuan seseorang dalam melakukannya.

Neurological Levels adalah salah satu model yang dikembangkan oleh Dilts yang sangat bermanfaat dalam memahami isu-isu perubahan individu dan mempermudah kita untuk mengetahui cara yang terbaik untuk melakukan treatment pada diri sendiri maupun orang lain.

Model ini sifatnya hierarkis dan meliputi enam level, dimulai dari situasi paling bawah hingga level paling atas. : semakin sederhana level masalahnya, semakin rendah NL yang digunakan. Sebaliknya Semakin tinggi NL seseorang, semakin tinggi skill untuk memecahkan masalah. Semakin tinggi NLL seseorang semakin sadar dimana kedudukannya dalam kaitannya dengan masalah tersebut. Dia juga tahu dalam NL mana dia harus menghadapi dan memecahkan masalah tersebut. Dengan NL ini setiap orang bisa merasakan sendiri, apakah ia menggunakan manajemen pikiran ataupun skill tertentu dalam problem solvingnya. Bahkan apakah ia telah mencapai NL tertinggi dalam problem solvingnya yaitu Level Spiritual. Karena hakekatnya NL adalah gerak dan bekerjanya impuls dari jalur persarafan kita saat kita mengatasi suatu masalah yang dikendalikan oleh pusat kesadaran kita.

Level I Lingkungan (dimana, kapan dan bersama siapa Anda melakukan sesuatu); Level ini tentang lingkungan eksternal – termasuk di mana Anda berada, lingkungan fisik, orang yang saat ini bersama Anda, masyarakat dan budaya yang lebih luas – dan potensi-potensi masalah yang bisa terjadi pada diri Anda. Agar perubahan terjadi di level ini, Anda bisa mengajukan tipe pertanyaan “dimana” dan “kapan”. Jika, misalnya, Anda memimpin tim, Anda mungkin bisa bertanya apakah lingkungan kerja Anda bisa meningkatkan suasana kerja tim?

Level II Perilaku (apa yang Anda katakan atau lakukan) ; Level ini terkait dengan apa yang Anda lakukan pada lingkungan – termasuk: berpikir, berbicara, mendengar, bereaksi, mengambil tindakan secara sadar, dengan harapan untuk mencapai sesuatu. Hal ini juga setara dengan apa yang orang tidak ingin lakukan. Misalnya, jika Anda menarik diri dari situasi tertentu pun sebenarnya Anda masih tetap memengaruhinya dengan satu atau lain hal.

Anda bisa secara aktif berpartisipasi dalam even-even tim dan bisa membantu melambungkan semangat tim, atau Anda bisa mengabaikan orang lain dalam tim dan berjalan dengan cara Anda. Saat Anda jadi anggota tim, perilaku Anda akan membawa dampak baik atau buruk kepada para kolega dan berdampak pada suasana lingkungan tempat Anda bekerja. Begitu juga sebaliknya.

Level III Kapabilitas (bagaimana Anda melakukannya); Level ini terkait dengan skill, bakat, kemampuan, strategi dan sumber-sumber yang membimbing perilaku Anda dan membuat Anda bisa mengambil tindakan.

Level ini tentang bagaimana Anda melakukan sesuatu. Tentang skill dan proses yang membuat Anda tahu bahwa Anda menjalankan tugas atau melakukan sesuatu dengan cara tertentu. Saat Anda belajar sesuatu yang baru, misalnya bersepeda atau main piano, Anda tentunya memulai dari nol di level ini, lalu secara bertahap kapabilitasnya akan semakin baik sehingga mencapai poin tertinggi saat Anda tidak perlu berpikir lagi untuk melakukannya.

Oleh karena kapabilitas adalah hal-hal yang kita bisa lakukan dengan andal, dengan konstan, dan dengan berulang-ulang, bahkan seringkali tidak. Seolah-olah, kapabilitas-kapabilitas itu bisa kita dapatkan dengan cuma-cuma.

Level IV Keyakinan dan Nilai-Nilai (apa yang penting bagi Anda); Apa yang kita nilai tinggi, dan kepercayaan yang kita yakini tentang hidup, akan sangat memengaruhi cara kita berpikir dan bertindak. Jika Anda merasa yakin dapat memimpin dengan baik, maka akan sangat mungkin memengaruhi kapabilitas Anda secara keseluruhan. Hal ini akan bisa dilihat orang lain karena perilaku Anda akan terwujud seperti apa yang Anda yakini saat itu.

Sebaliknya, jika Anda bisa mengembangkan skill dan membangun kepercayaan diri di bidang itu, Anda akan terkejut sendiri karena keyakinan tentang kemampuan Anda itu sudah berubah. Sebaliknya seringkali kita memiliki keyakinan-keyakinan yang justru bisa menghambat atau membatasi diri kita. Keyakinan dan nilai-nilai umumnya beroperasi di luar alam pikiran sadar. Dari sinilah muncul bagaimana seseorang bisa begitu kuat mempertahankan pandangan-pandangan yang memengaruhi apa pun yang mereka, katakan dan lakukan.

Apa yang Anda junjung tinggi dan apa yang anggap penting itu bisa berevolusi dalam perjalanan hidup. Setiap pengalaman yang Anda miliki dan setiap orang yang Anda temui akan – dalam kadar tertentu – membentuk keyakinan dan nilai-nilai Anda. Banyak organisasi telah menetapkan nilai-nilai yang mewakili apa yang mereka anggap penting. Jika ada ketidakcocokan antara nilai-nilai perusahaan dengan nilai-nilai yang dianut oleh para karyawannya, atau antara dua kolega dalam perusahaan, maka hal itu dapat berpotensi konflik.

Individu, juga, tidak selalu konsisten. Seseorang dalam waktu bersamaan bisa memegang dua nilai-nilai yang bertentangan. Misalnya menjunjung tinggi kebebasan menentukan pendapat, namun kadang-kadang melakukan tindakan otoriter. Pertentangan ini bisa menimbulkan konflik internal yang membuat seseorang merasa terbelah di dua arah yang berbeda.

Level V Identitas (siapa diri Anda); Level ini melibatkan perasaan tentang siapa diri Anda – peran Anda dalam kehidupan – dan tentang siapa yang bukan diri Anda. Orang kadang-kadang bisa jatuh dalam jebakan perilaku membingungkan (apa yang mereka lakukan) dengan identitas (siapa mereka).

Level ini adalah tentang tujuan Anda dalam hidup. Salah satu cara Anda untuk bisa mengenal identitas Anda misalnya dalam konteks memimpin. Anda bisa bertanya pada diri sendiri, “Sebagai seorang pemimpin, siapakah diri saya?” atau “Pemimpin macam apa saya ini?”

Identitas Anda tercipta dari semua informasi dan pengaruh yang telah Anda pelajari dan padukan dalam sepanjang kehidupan Anda yang pada akhirnya membentuk orang (yakni diri Anda sendiri) seperti yang Anda rasakan saat ini. Jika sesuatu sudah mencapai Level Identitas, biasanya bersifat permanen, misalnya, kenapa ada yang selalu peduli, charity, bahkan aultris? Jawabannya, hal itu disebabkan sudah menjadi identitas atau karakter orang itu, karena karakter hakekatnya sekumpulan penemuan atas identitas diri kita sepanjang hidup kita.

Level VI Spiritualitas / Keterhubungan (tujuan lebih tinggi /kontribusi terhadap dunia); Kebanyakan orang merasa menjadi bagian atau terhubung dengan sistem yang lebih besar dibanding diri mereka masing-masing. Maka dari itu, level ini terkait dengan tujuan besar Anda. Terkait dengan apa yang harus Anda berikan pada masyarakat dan dunia.

Neurological Levels dalam Kenyataan; Salah satu cara mudah untuk memahami Neurological Levels adalah dengan mempertimbangkan model itu sebagai suatu sistem. Jika Anda membuat suatu perubahan dalam suatu level, maka hal itu bakal ada pengaruhnya terhadap keseluruhan hierarki. Perubahan itu bisa saja diawali dari bawah kemudian bergerak ke atas, atau menetas dari atas ke bawah. Jika Anda sudah berpengalaman menggunakan itu, Anda akan bisa mengecek konsistensinya di semua level. Jika ada seseorang meminta Anda membocorkan rahasia tertentu, ataupun tindakan yang tidak terpuji misalnya – dan Anda bersedia melakukannya – maka hal itu akan menciptakan konflik dalam nilai-nilai Anda tentang integritas dan bisa menghilangkan respek dari orang lain. Anda bisa merasa tidak nyaman atas apa yang baru Anda lakukan, karena hal itu berada di luar karakter sejati orang yang Anda yakini sebagai diri Anda.

Dalam sebuah sesi TOT ada seorang peserta yang juga seorang Trainer senior,  bertanya : “Saya pada dasarnya adalah pemanfaat masalah, artinya saya memberikan klien klien saya dengan solusi. Artinya kalau mereka tidak punya masalah, berarti saya tidak dapat income. Pertanyaannya, apakah saya cukup berada di level kapabilitas saja atau harus berada pada level spiritualitas?

 


Jawaban saya : “Bisa pada kedua-duanya. Tergantung apakah kita menghayati setiap yang kita kerjakan sebagai sesuatu yang bernilai, ataukah hanya berfikir pragmatis saja. Tetapi yang jelas,  penyelesaian menggunakan Level Spiritualitas, endingnya selalu membahagiakan kita maupun Klien kita.

Hal penting lain yang perlu dicermati, otak adalah organ yang berinteraksi dengan sesuatu yang berada diluar diri kita. Oleh karenanya level NL kita sedikit banyak akan dipengaruhi oleh lingkungan di sekitar kita . Misalnya jika Anda selalu berinteraksi dengan orang yang tingkat intelektualitasnya lebih tinggi dari Anda, maka Anda akan ikut jadi pintar. Berinteraksi dengan orang yang income rata-ratanya lebih tinggi dari kita, bisa menaikkan pendapatan kita dan seterusnya.

Dengan NL, juga bisa merasakan, apakah kita termasuk orang yang bisa memengaruhi lingkungan atau justru ikut arus dan terombang-ambing ? Bisa tidak kita menjadi orang yang bisa membahagiakan dan memberikan manfaat bagi orang lain ataukah sebaliknya malah bikin orang lain merasa tertekan?

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

SEKOLAH BISNIS GRATIS, Trainer Amir Faisal 0815 769 8288

blog on March 13th, 2017 3 Comments



Read more »

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

NLP Gratis Trainer Amir Faisal 08157698288 : Membangun Kemesraan Rumah Tangga Dengan NLP

blog on February 13th, 2017 No Comments

NLP PRACTITIONER
( Dinukil dari buku : Destined To Be A Leader, Amir Faisal, 2016)

Bagaimana kalau suami isteri memiliki sistem representasi primer yang berlawanan ?

Jawabannya, bisa menjadi sangat harmonis karena saling mengisi atau sebaliknya akan sering terjadi cekcok, karena perbedaan sistem representasi itu bisa menyulut perbedaan yang lebih kompleks. Oleh karena itu dibawah ini akan disajikan tips dalam bentuk ceritera nyata :

Ada seorang suami yang visual murni mempunyai isteri yang kinestetik murni. Karena pekerjaannya, sang suami sering meninggalkan rumah hingga beberapa hari, terkadang lebih dari seminggu, sementara sang isteri ditinggal di rumah dalam keadaan kesepian dan dilanda perasaan rindu. Hubungan mereka hanya dilakukan dengan telepon selular, itupun hanya sebentar. Sang isteri selalu memutus terlebih dahulu sebelum pembicaraan mereka selesai.

Pada saat sang suami ikut coaching NLP, hal itu ditanyakan kepada coach nya. Oleh sang pelatih ditanyai tentang ciri-ciri isterinya. Pelatih berkesimpulan bahwa isterinya seorang kinestetik murni, sedangkan sang suami visual murni. Pada saat menerima telepon dari sang isteri – karena sistem primernya itu – dia hanya memberikan respon seperlunya saja, rasional, pragmatis, suaranya keras, bahkan si isteri membayangkan pasti suaminya berbicara di telepon didepan orang banyak. Karena merasa kecewa, maka serta merta teleponnya ditutup, kendati pembicaraannya belum selesai.

Sang pelatih pun memberikan beberapa tips  menerima telepon dari sang isteri, (ketika HP nya berbunyi dan di memori terbaca dari isteri, maka spontan sang suami menyapa dengan suara lembut) :“Eh mama sayang, apa kabaar . .?” “Ma , saya pas lagi mau telepon mama, eh udah keduluan. Mama terasa ya?”

Dari seberang, sang isteri menjawab : “Memangnya ada apa Pa, kok mau call ?”

Suami :“Kangen doong . . . , kan udah seminggu ga lihat Mama . .” sahut suami.

Isteri : “Ah masa . . biasanya ga pernah bilang kangen, hayo ada apa ?”, sang isteri malah curiga.

Suami :“Ga tahu ma, akhir-akhir ini kenapa ya, papa jadi punya perasaan begitu . . .?” dan seterusnya. Pembicaraan pun jadi hangat dan berlangsung jauh lebih lama.

Beberapa bulan kemudian sang suami mencari pelatih NLP, dimana dia pernah ikut pelatihan. Dia ingin mengucapkan terima kasih, bahwa sekarang dia bisa berlama-lama mengobrol dengan isteri melalui pesawat selular. Tetapi rupanya ada masalah baru, yaitu setiap pulang ke rumah sehabis bekerja beberapa hari di luar kota, maka dia harus menyediakan waktu hampir satu setengah jam untuk mendengarkan curhat isterinya. Setengah jam tentang kenakalan anak-anak, setengah jam tentang ketidak beresan rumah dan pembantu dan setengah jam lain untuk masalah menyangkut tetangga, teman, saudara dan lain-lain. “Ooh itu sih mudah . . .” kata sang pelatih.

Kemudian pelatih memberikan tips lagi kiat pulang ke rumah. Sesampai di rumah setelah bepergian beberapa hari, kiat itu betul-betul dipraktekkan. Saat si isteri membuka pintu, spontan sang suami menyapa :“Mama sayang . . . “ (sambil si isteri dipeluk dengan hangat hampir setengah menit, dicium pipinya sebelah kiri) kemudian ketika keduanya sudah duduk di sofa, sang suamipun bertanya, “Gimana Ma kabarnya anak-anak ?”
Mama : “Apa ya ?, lupa . . . !

Sebaliknya, suami visual selalu menuntut kerapian keadaan rumah, kamar tidur, cara isteri berpakaian dan lebih suka melihat anak-anak sudah pada mandi ketika dia sampai di rumah. Isteri kinestetik, kadang-kadang kurang begitu perhatian masalah kerapian, oleh karenanya isteripun juga harus belajar memahami sistem representasi primer suaminya

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

NLP Gratis Trainer Amir Faisal 08157698288 : “What ‘s Your Biggest Problem?”

blog on February 7th, 2017 1 Comment


President IIBF dan CEO Bali Muda Group, Ir Heppy Trenggono punya Mentor bisnis yang bernama Keith Cunningham yang juga mentornya Robert T Kiyosaki

Suatu kali dalam suatu sessi di Kantor Pusat Kospin Jasa yang dihadiri oleh para Pengusaha dan Profesional beliau bercerita, bahwa setiap kali mau ketemu mentornya itu, yang secara maksimal paling hanya diberi kesempatan sekitar 30 menit, harus mengeluarkan biaya perjalanan puluhan juta rupiah.

Tetapi beliau mengatakan, manfaat yang diperolehnya jauh lebih besar ketimbang cost nya.

Apakah yang didapatkan?

1⃣THE NEW ENERGY
Dalam NLP terdapat level-level seseorang dalam Problem Solution ataupun mencapai Excellency yang disebut Neurological Level (NL)

Level pertama adalah Environment. Riset menunjukkan bahwa otak kita senantiasa berinteraksi dengan lingkungan. Survey lain juga menunjukkan, kalau kita tiap hari berinteraksi dengan orang yang incomenya lebih tinggi dari kita, maka dalam tempo tertentu bisa menaikkan pendapatan kita.

NL lainnya meliputi Skill, Values hingga Spiritual.

Kesimpulannya, jika kita ingin MELEJITKAN KAPASITAS kita, sering-seringlah berinteraksi dengan orang yang lebih hebat dari kita.

2⃣THE NEW MINDSET.
Dalam pertemuan singkat itu pak Heppy diminta menuliskan The Big Problems nya dalam secarik kertas, kemudian diserahkan pada Cunningham. Anehnya curhatnya gak dibaca, alih-alih kertasnya malah diremas-remas dan dilemparkan ke keranjang sampah😱

Dalam NLP yang diajarkan oleh International Master Coach NLP, Krishna Murti, apa yang dilakukan oleh sang Mentor ini disebut Teknik Sub Modality dengan trik TOP OF MIND

Kemudian Keith bertanya :”Do You know, what ‘s Your Biggest Problem Mr Heppy?”

Heppy T :”No Sir”

Keith Cunninggam kemudian mengambil secarik kertas HVS lalu dia menulis dengan spidol tulisan besar-besar yang terdiri dari 3 huruf dan ditunjukkan pada pak Heppy

Rangkaian huruf itu adalah :

Y O U

NLP Gratis Trainer Amir Faisal 08157698288 : SUKSES atau BERUNTUNG?

blog on February 3rd, 2017 No Comments

Dalam setiap Pelatihan Eksekutif, saya sering menanyakan 2 hal pada peserta :

1⃣Jika Tuhan memberi kesempatan pada Anda untuk menanyakan takdir Anda kelak, apakah Anda akan menanyakan?

2⃣Seandainya Tuhan akan mengabulkan satu saja dari seluruh doa Anda, apakah yang akan Anda minta ? (satu kata saja)

✳JAWABAN NO 1 umumnya semua sepakat, TIDAK!

Why?

Hampir semua orang memilih agar takdir itu tetap menjadi misteri, supaya mereka memiliki kebebasan dalam membangun impiannya.

Sebab jika seseorang sudah mengetahui apa takdirnya kelak, bisa jadi malah akan stress dan kecewa. Menerima Takdir baik saja kecewa, apalagi buruk. Misal, seseorang mengimpikan bisa jadi pengusaha sukses, tetapi dia diberitahu oleh Tuhan bahwa takdirnya nanti hanya jadi pemilik warung kelontong. Bermimpi jadi menteri, tetapi ternyata takdirnya jadi pak Camat😇

✳JAWABAN PESERTA NO 2 agak beragam, tetapi kebanyakan menjawab, SUKSES, BAHAGIA dan KAYA

Sukses dan bahagia itu menurut ilmu bahasa pikiran masih abstrak dan perlu penjelasan lagi sedangkan kaya itu relatif dan juga perlu deskripsi lebih kongkrit lagi, misalnya, sukses seperti siapa, bahagia yang seperti apa dan seberapa besar kayanya? Masih memerlukan setting outcome yang lebih rinci.

Biasanya ada satu dua orang yang menjawab BERUNTUNG💝

Keberuntungan lebih mudah terbaca oleh indera begitu kita ucapkan, ketika hal itu terjadi dalam bisnis maupun dalam kejadian sehari-hari. Dalam NLP, salah satu syarat membuat outcome harus “terbaca” oleh indera kita.

DEFINISI SUKSES & BERUNTUNG

Sukses = Best Ending Process. Pengertian ini hanya menjelaskan hasil akhir, sehingga tidak diketahui bagaimana prosesnya. Sehingga orang melihat orang sukses hanya dengan melihat hasil akhirnya ( Soichiro Honda)

Sedangkan BERUNTUNG adalah suatu keadaan pada diri seseorang yang selalu CHANGE & GROWTH menuju yang terbaik.

“Siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia BERUNTUNG” (Hadits)

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

NLP FOR SELLING 1, Trainer Amir Faisal 0815 769 8288

blog on January 10th, 2017 No Comments

Baca juga buku saya :

Think Like A Millionaire

APA ENTREPRENEUR MARKETING ITU?

Entrepreneur Marketing adalah upaya membangun mindset seluruh jajaran penjualan agar memiliki pola pikir seperti ownernya.

Berdasarkan pengalaman, para CEO kebanyakan berasal dari profesi marketing. Hal itu disebabkan mereka memiliki passion menjual yang sangat tinggi. Kegiatan menjual mereka anggap sebagai pembelajaran (learning curve) untuk meraih karier setinggi-tingginya di perusahaan. Bukan semata-mata mengejar komisi.

Hanya saja berita buruknya, dalam prakteknya para Salesman sering mengalami konflik (Zig Ziglar) merasa kurang pede, pesimistik, lemah motivasi, tidak punya konsep penjualan, berpola pikir sempit dan kurang memiliki kebanggan terhadap merk.

Oleh karenanya semua konflik itu perlu diatasi dengan baik oleh manajemen. Mereka perlu diubah supaya menjadi penjual yang memiliki passion dan kinerja yang tinggi seperti semangat yang dimiliki oleh para CEO. Mereka perlu dimotivasi supaya setiap hari melakukan marketing tanpa kenal lelah dan tanpa kenal waktu. Untuk itu mereka perlu diberi SKILL dalam membangun relationship dan menaklukkan konsumen agar menjadi pelanggan setia Anda.

BAHKAN, SEMUA ORANG DI JAJARAN PERUSAHAAN PERLU DIBANGUN AGAR MEMILIKI MINDSET MENJUAL DAN MEMILIKI KEBANGGAAN ATAS BRAND YANG DIMILIKI.

( BERSAMBUNG )

NLP Gratis Trainer Amir Faisal 08157698288 : Mentransformasi Diri menggunakan Neurological Levels

blog on October 11th, 2016 No Comments


Dari buku : Destined To Be A Leader

Prinsip-prinsip yang harus dipahami dalam melakukan Perubahan atau Transformasi diri dengan NLP (Neuro Linguistic Programming) adalah :

  1. Perubahan itu berkenaan dengan diri kita sendiri. Sesuatu yang ada dalam diri kita (inner kita). Bukan diluarnya. Oleh karenanya diperlukan Will Power yang dahsyat untuk bisa berubah ( lihat NLP Gratis yang ke 14)
  2. Jika kita punya skill untuk mengubah diri sendiri, otomatis kita bisa mengu

    bah orang lain, karena kita memiliki hukum-hukum pikiran yang sama. Misalnya jika ingin menjadi Penjual yang mampu melakukan Penawaran yang sulit ditolak. Maka pelajari apa saja yang membuat kita menolak sesuatu dan menerima sesuatu.

  3. Perubahan itu ada level-level nya.

Robert Dilts telah mengembangkan salah satu model yang mungkin sangat bermanfaat dalam memahami isu-isu perubahan individu dan mempermudah kita untuk mengetahui cara yang terbaik untuk mentransformasi diri sendiri ataupun mengubah orang lain, yang disebut Neurological Levels

Model ini sifatnya hierarkis dan meliputi enam level, dimulai dari situasi paling bawah hingga level paling atas.

Level Lingkungan (dimana, kapan dan bersama siapa Anda melakukan sesuatu); Level ini tentang lingkungan eksternal – termasuk di mana kita berada, lingkungan fisik, orang yang sering bersama kita, lingkungan masyarakat dan budaya – berikut potensi-potensi masalah yang bisa terjadi pada diri kita atau yang kita alami.

Level Perilaku (apa yang Anda katakan atau lakukan) ;Level ini terkait dengan apa yang kita lakukan pada lingkungan – termasuk: berpikir, berbicara, mendengar, bereaksi, mengambil tindakan secara sadar, dengan harapan untuk mencapai sesuatu. Hal ini juga setara dengan apa yang orang tidak ingin lakukan. Bahkan, jika Anda menarik diri dari situasi tertentu pun sebenarnya Anda masih tetap memengaruhinya dengan satu atau lain hal.

Level Kapabilitas (bagaimana Anda melakukannya); Level ini terkait dengan skill, bakat, kemampuan, strategi dan sumber-sumber yang membimbing perilaku Anda dan membuat Anda bisa mengambil tindakan. Level ini tentang bagaimana Anda melakukan sesuatu. Level ini tentang skill dan proses yang membuat Anda tahu bahwa Anda menjalankan tugas atau melakukan sesuatu dengan cara tertentu. Saat Anda belajar sesuatu yang baru, misalnya bersepeda atau main piano, Anda tentunya memulai dari nol di level ini, lalu secara bertahap kapabilitasnya akan semakin baik sehingga mencapai poin tertinggi saat Anda tidak perlu berpikir lagi untuk melakukannya. Oleh karena kapabilitas adalah hal-hal yang kita bisa lakukan dengan andal, dengan konstan, dan dengan berulang-ulang, bahkan seringkali tidak. Seolah-olah, kapabilitas-kapabilitas itu bisa kita dapatkan dengan cuma-cuma.

Level Keyakinan dan Nilai-Nilai (apa yang penting bagi Anda); Apa yang kita nilai tinggi, dan kepercayaan yang kita yakini tentang hidup, akan sangat memengaruhi cara kita berpikir dan bertindak. Jika Anda merasa yakin dapat memimpin Tim dan mengelola manajemen dengan baik, maka akan sangat mungkin memengaruhi kapabilitas Anda. Hal ini akan bisa dilihat orang lain karena perilaku Anda akan terwujud seperti apa yang Anda yakini saat itu. Sebaliknya, jika Anda bisa mengembangkan skill dan membangun kepercayaan diri di bidang itu, Anda akan terkejut sendiri karena keyakinan tentang kemampuan Anda itu sudah berubah. Sebaliknya seringkali kita memiliki keyakinan-keyakinan yang justru bisa menghambat atau membatasi diri kita. Keyakinan dan nilai-nilai umumnya beroperasi di luar alam pikiran sadar. Dari sinilah muncul bagaimana seseorang bisa begitu kuat mempertahankan pandangan-pandangan yang memengaruhi apa pun yang mereka, katakan dan lakukan.

Apa yang Anda junjung tinggi dan apa yang anggap penting itu bisa berevolusi dalam perjalanan hidup. Setiap pengalaman yang Anda miliki dan setiap orang yang Anda temui akan – dalam kadar tertentu – membentuk keyakinan dan nilai-nilai Anda. Banyak organisasi telah menetapkan nilai-nilai yang mewakili apa yang mereka anggap penting. Jika ada ketidakcocokan antara nilai-nilai perusahaan dengan nilai-nilai yang dianut oleh para karyawannya, atau antara dua kolega dalam perusahaan, maka hal itu dapat berpotensi konflik.

Individu, juga, tidak selalu konsisten. Seseorang dalam waktu bersamaan bisa memegang dua nilai-nilai yang bertentangan. Misalnya menjunjung tinggi kebebasan menentukan pendapat, namun kadang-kadang melakukan tindakan otoriter. Pertentangan ini bisa menimbulkan konflik internal yang membuat seseorang merasa terbelah di dua arah yang berbeda.

Level Identitas (siapa diri Anda); Level ini melibatkan perasaan tentang siapa diri Anda – peran Anda dalam kehidupan – dan tentang siapa yang bukan diri Anda. Orang kadang-kadang bisa jatuh dalam jebakan perilaku membingungkan (apa yang mereka lakukan) dengan identitas (siapa mereka).

Level ini menyangkut tujuan Anda dalam hidup. Salah satu cara Anda untuk bisa mengenal identitas Anda misalnya dalam konteks memimpin. Anda bisa bertanya pada diri sendiri, “Sebagai seorang pemimpin, siapakah diri saya?” atau “Pemimpin macam apa saya ini?”

Identitas Anda tercipta dari semua informasi dan pengaruh yang telah Anda pelajari dan padukan dalam sepanjang kehidupan Anda yang pada akhirnya membentuk orang (yakni diri Anda sendiri) seperti yang Anda rasakan saat ini.

Level Spiritualitas/Keterhubungan (tujuan lebih tinggi /kontribusi terhadap dunia);Kebanyakan orang merasa menjadi bagian atau terhubung dengan sistem yang lebih besar dibanding diri mereka masing-masing. Maka dari itu, level ini terkait dengan tujuan yang lebih mulia. Terkait dengan apa yang harus Anda berikan pada masyarakat, negara dan dunia.

NEUROLOGICAL LEVELS DALAM KENYATAAN SEHARI-HARI;

Salah satu cara mudah untuk memahami Neurological Levels adalah dengan mempertimbangkan model itu sebagai suatu sistem. Jika Anda membuat suatu perubahan dalam suatu level, maka hal itu bakal ada pengaruhnya terhadap keseluruhan hierarki. Perubahan itu bisa saja diawali dari bawah kemudian bergerak ke atas, atau menetas dari atas ke bawah. Jika Anda sudah berpengalaman menggunakan itu, Anda akan bisa mengecek konsistensinya di semua level. Jika ada seseorang meminta Anda membocorkan rahasia tertentu, ataupun tindakan yang tidak terpuji misalnya – dan Anda bersedia melakukannya – maka hal itu akan menciptakan konflik terhadap diri Anda sendiri atau integritas pribadi Anda, sekaligus bisa menghilangkan respek dari orang lain. Anda bisa merasa tidak nyaman atas apa yang baru Anda lakukan, karena hal itu berada di luar karakter sejati orang yang Anda yakini sebagai diri Anda.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

NLP Gratis 14 Trainer Amir Faisal 08157698288 : Mesin Pengendali Pikiran Manusia

blog on September 29th, 2016 No Comments

Dari buku : Destined To Be A Leader

Mengenali Panel Kontrol Otak

Robert Sapolsky, seorang ahli neorobiologi dari Stanford University (Kelly McGonigal, Ph.D : 2012) melakukan penelitian atas fungsi prefrontal cortex atau otak depan sebelah kanan dan kiri.

Saat hendak memulai perubahan atau melakukan transformasi diri, maka cortex kiri depan akan membantu Anda untuk bertahan misalnya dalam masa-masa berjuang untuk bangun pagi pada musim dingin, rutin melakukan latihan-latihan dan olah raga. Otak bagian ini juga mendukung ketekunan Anda membaca buku, mempelajari hal-hal yang sulit, bertahan dalam masa-masa penuh tantangan dan sebagainya. Otak depan juga merupakan otak visi, maka secara otomatis dopamine akan ikut campur tangan mengirim bantuan berupa jutaan neurotransmitter ke otak depan, ketika visi atau impian bisa Anda rasakan, karena Anda bisa melihat bentuknya yang akurat.

Sebaliknya otak kanan depan menangani kekuatan, “Saya tidak akan”, atau mencegah diri dari upaya Anda untuk berubah. Ia berusaha menuruti dorongan hati atau keinginan-keinginan dan habit yang sudah TERLANJUR NYAMAN.

Manusia diberi dorongan instinktif untuk selalu berupaya menuruti semua hasrat kesenangan dan kenikmatan ataupun sebaliknya mengendalikan diri dari keinginan akan kesenangan itu demi melindungi tujuan yang lebih panjang.

Setiap detik selalu terjadi konflik baik dalam derajad ringan hingga berat dalam pikiran kita, antara hasrat yang menggebu-gebu yang bersumber dari otak amygdala yang merupakan otak bawah sadar di otak limbic dengan otak cortex depan sebagai pengendali yang merupakan otak sadar.

Perangkat itu bisa bermanfaat atau merusak tergantung pada kekuatan pengendalinya, yaitu Anda sendiri. Secara naluriah manusia kadang-kadang tergoda untuk memuaskan hasrat sesaat yang bisa merusak reputasi (seperti berselingkuh), hingga hal-hal sepele tetapi bisa berakibat fatal, misalnya pada saat konsentrasi menyetir tiba-tiba terdengar pesan singkat dari pesawat selular Anda, maka otak kiri dan kanan depan Anda secara otomatis akan berdebat sengit, “Akan saya respon atau tidak?”. Jika keputusan Anda adalah “tidak”, niscaya akan bisa menyelamatkan diri Anda dari kemungkinan buruk.

Power itu bisa selalu Anda on kan atau Anda biarkan off, terserah Anda. Banyak orang yang sengaja menyerah pada godaan, karena ujud lahiriahnya terlalu amat sangat menggiurkan untuk ditolak, padahal otak kiri depan sudah memberikan warning, bahwa tawaran itu bisa menghancurkan masa depan, karier dan reputasi Anda.

Mereprogram Otak
Hampir mustahil Anda membuat perubahan atau mentransformasi diri kalau Anda tidak pandai memanajemeni pikiran  itu. Karena ia sudah terprogram sebegitu rupa di dalam sistem pikiran bawah sadar Anda.

Disini akan penulis sajikan langkah-langkak praktis dan sederhana yang bisa Anda lakukan, hingga menjadi habit, yang lama-lama otak  akan menyesuaikan dengan habit Anda yang baru. Jika otak sudah menyukai habit yang baru, otomatis Anda akan memiliki mind management yang baru juga di otak.

Sugesti diri Anda;
Anda sebenarnya secara tidak sadar setiap hari sudah mempraktekkan teknik sugesti diri, seperti :
• Sugesti diri atas nikmatnya ranjang, selimut dan bantal pada pagi hari yang dingin.
• Sugesti diri para perokok atas nikmatnya asap tembakau berselang-seling dengan hirupan kopi panas.
• Sugesti diri, merasa kalah dengan kemacetan di kota-kota besar.
• Sugesti diri bahwa perempuan lain lebih menggairahkan dibanding isteri sendiri yang setia dan sangat menyintai kita

Disepanjang hidup, kita telah tersugesti secara tidak sadar. Pertanyaannya, jika kita mampu mensugesti diri kita terhadap hal-hal tersebut diatas, kenapa kita tidak melakukan sugesti terhadap diri kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang sebaliknya?

Anda sebenarnya bisa menciptakan program-program baru yang merupakan kebalikan program-program tadi kedalam pikiran Anda dengan melakukan sugesti dan tindakan lain yang lebih konstruktif dan bermanfaat?

Jadi perubahan itu sesederhana memberikan instruksi yang sugestif kepada diri kita, kemudian ditaati oleh diri kita sendiri.

Bongkar pola lama dan ciptakan New Habit;
Terdapat dua naluri dasar manusia, yaitu mencari kenikmatan atau kenyamanan dan menghindari kesulitan atau masalah. Apa saja yang kita biasakan dalam hidup kita, seburuk apapun, akan menciptakan kenyamanan hingga ketagihan. Banyak kebiasaan buruk lain dalam hidup ini selain merokok dan minum alkohol yang membuat kita merasa nyaman dan kemudian ketagihan, mulai dari yang ringan-ringan – seperti mengobrol berjam-jam, bersantai dan bermalas-malasan, keluar masuk Mall dan Supermarket, berbelanja mengikuti nafsu konsumtif, memboroskan uang atau makan secara berlebihan demi memanjakan lidah dan perut, makanan yang mengandung kadar gula atau lemak yang tinggi – hingga kebiasaan buruk seperti berselingkuh menikmati libido.

Kita tentu tahu, bahwa naluri bukanlah harus selalu dituruti. Selain naluri, kita juga dianugerahi pikiran untuk memutuskan mana yang benar dan tidak benar, apa yang baik dan apa yang buruk, mana yang bermanfaat dan mana yang mubadzir. Selama pikiran bisa berfungsi optimal, maka dengan mudah naluri dapat dikendalikan. Naluri akan mendorong perilaku dan perilaku menciptakan habit.

Cara membongkar pola lama yang buruk dapat dilakukan dengan membiasakan habit baru yang lebih menarik dan menantang, misalnya kesukaan mengobrol bisa diganti dengan bergabung dengan kelompok-kelompok diskusi. Kesukaan bersantai dan bermalas-malasan ditambahi dengan belajar membaca buku. Mulailah semuanya dengan easy steps, misalnya Anda bukan tipe orang idealis, tentunya jangan memasuki kelompok diskusi yang serius, atau kalau memilih buku untuk dibaca bisa dimulai dengan buku-buku ringan yang sesuai dengan kesukaan Anda.

Ada juga orang yang saking penginnya berubah, maka ia melakukan punishment pada dirinya sendiri, misalnya kalau sampai ia kedapatan merokok lagi, maka ia akan bersedekah dengan jumlah yang cukup besar. Atau kalau ia sampai bangun kesiangan, sepulang dari kerja nanti ia akan membersihkan kamar mandi dan WC dan seterusnya.

Perubahan juga sesederhana membuat habit-habit baru yang tadinya tidak terpikirkan untuk dilakukan.

Nikmati Habit baru;
Pada awalnya semua hal yang belum terbiasa terasa tidak menyenangkan serta membosankan. Tetapi kalau dibiasakan, lama-lama akan menjadi menyenangkan, bahkan ketagihan. Mungkin awalnya Anda akan mengatakan, “Saya tidak suka membaca buku!.” Kata “tidak suka” disitu kalau diterjemahkan dalam bahasa pikiran, sama dengan, “Hormon serotonin saya tidak berfungsi ketika saya membuka halaman demi halaman buku!” Jadi masalahnya adalah bagaimana membuat supaya otak yang tadinya tidak welcome dengan tulisan, angka dan gambar bisa bekerja dan menstimulir serotonin supaya bekerja, sehingga buku itu yang tadinya membosankan menjadi menyenangkan untuk dibaca.

Menurut penelitian, otak akan segera menyesuaikan diri, bahkan akhirnya akan menyukai hingga ketagihan terhadap apa saja dilakukan secara berulang-ulang, apalagi disertai oleh fantasi, kesenangan tertentu atau ada passionnya.

Setiap orang berhak merubah-rubah, memilih dan menentukan mana hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya dan mana yang tidak.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

NLP Gratis 13 Trainer Amir Faisal 08157698288 : Transformasi Diri Sedini Mungkin

blog on August 25th, 2016 2 Comments

Seri : Buku Destined To Be A Leader

Transformasi Dini

Suatu hari saya bertemu dengan seorang mantan diplomat. Kepadanya penulis berikan beberapa buku karya penulis sendiri. Dua bulan kemudian, kami bertemu lagi dalam sebuah jamuan makan malam. Saat itu beliau langsung menyapa dengan ucapan,

“Wah, buku-buku Anda benar-benar luar biasa. Seandainya saya membaca buku itu ketika masih muda, mungkin saya sekarang sudah menjadi Menteri Luar Negeri.”

Saya menjawab seloroh itu dengan mengatakan,

“He he he, Bapak bisa aja. Saya sendiri ketika mulai menulis buku-buku itu juga sudah tidak muda lagi”

Ucapan Bapak tadi menyimpan sebuah penyesalan, yang ditandai dengan kata-kata “seandainya ketika masih muda”, yang berarti beliau menyadari bahwa sudah terlambat untuk membuat perubahan yang berarti dalam hidupnya. Memang, orang sering mengatakan, “tidak ada kata terlambat untuk berubah.” Tetapi dalam konteks perjalanan karier Bapak tadi, tentunya faktor usia sangatlah berpengaruh.

Oleh karenanya, siapapun Anda, buatlah perubahan hari ini juga, semakin dini dan semakin revolusioner semakin baik. Sebab Menjadi hebat atau tidaknya Anda, tergantung dari secepat apa Anda menemukan kesadaran diri (self awareness) untuk melakukan transformasi diri.

Terdapat contoh tentang orang yang mampu melakukan trasformasi dini pada usia muda, yaitu Adam Khoo, orang muda terkaya di Singapura.

Adam Khoo remaja termasuk anak yang bodoh. Bahkan di sekolah, peringkat akademiknya hanya memungkinkan bisa memasuki ke sekolah menengah papan bawah di negaranya. Jauh sebelumnya, pada usia 8 tahun, pernah dikeluarkan dari sekolah dasar karena berperilaku buruk, rapotnya juga sangat jelek, yang membuatnya ditolak oleh 6 sekolah menengah.

Seperti remaja bermasalah pada umumnya, dia tergila-gila dengan permainan-permainan elektronik dan acara-acara TV yang konyol. Dapat dikatakan dia hanya berputar-putar dalam kehidupan yang tanpa harapan, hanya duduk-nekan tombol dan tuas, dengan mata melotot ke layar monitor, hingga akhirnya ia mengikuti program NLP (Neuro-linguistic Programming), Rupanya itulah yang menjadi titik balik kehidupannya, seperti pengalaman bersejarah yang diperolehnya semenjak ia mengikuti program itu, yaitu ungkapnya, sebagai berikut :

”Apa yang saya pelajari dari mentor-mentor saya memberi inspirasi, merangsang, dan menantang saya. Saya memutuskan untuk mengadopsi keyakinan baru bahwa, jika sesuatu itu mungkin bagi orang lain, maka akan mungkin pula bagi saya. Ini hanya masalah strategi.”

”Saya mulai mengujinya. Saya menentukan tiga tujuan yang tadinya tidak mungkin pada waktu itu. Tujuan pertama saya adalah menjadi anak terpandai di sekolah dalam setahun. Tujuan kedua adalah mengikuti ujian sebaik mungkin, sehingga dapat masuk junior college terkenal di Singapura (diperuntukkan bagi hanya 5% siswa terbaik dari seluruh negeri). Tujuan ketiga saya adalah dapat memasuki National University of Singapore dengan peringkat tinggi.”

”Anda dapat membayangkan ambisi tersebut, yang datang dari seorang anak yang mungkin berada di tempat paling bawah, mendekati 20% murid terbawah di seluruh negeri. Sebuah fantasi yang gila-gilaan.”

”Selama setahun Khoo masuk sepuluh besar di sekolah. Dalam tiga tahun, dia menjadi yang terbaik di sekolah, dan menjadi siswa pertama dan satu-satunya dari sekolah yang diterima di junior college nomor satu di Singapura tahun itu, Victoria Junior College. Kemudian dia berhasil memasuki National University of Singapore (menerima hanya 10% siswa terbaik di Singapura) dan dalam setahun masuk dalam satu persen mahasiswa dengan prestasi akademik terbaik di universitas tersebut dan menjadi salah satu dari 1 persen mahasiswa terbaik di seluruh negeri.”

“Adam Khoo membuat tantangan berikutnya yaitu menciptakan kesuksesan di luar kelas. Tujuan karier utamanya adalah menjadi jutawan pada usia 26 tahun, membangun bisnis bernilai jutaan dollar, dan menjadi salah satu pembicara terbaik di Asia. Dia mendedikasikan semua waktu dan energi saya untuk belajar dan membuat model pembicara-pembicara dan pengusaha-pengusaha terbaik di seluruh dunia.”

“Dia telah membaca 400 buku. Buku-buku biografi orang-orang yang telah membuat dirinya sendiri menjadi jutawan dan penemu. Buku-buku tentang peningkatan kesejahteraan, psikologi, bahasa dan pengembangan kepribadian. Adam Khoo memulai bisnis pertamanya pada umur 15 tahun, dan bisnis kedua (pelatihan dan konsultasi) pada umur 21 tahun, dan memasuki bisnis properti dan investasi pada umur 22 tahun.”

Adam Khoo adalah contoh orang yang melakukan transformasi diri pada usia yang masih sangat muda, dimana energi hidupnya yang masih menyala-nyala itu segera disalurkan untuk merubah segala-galanya. Sesudah mengikuti pelatihan NLP telah terjadi perubahan paradigma yang dahsyat dalam dirinya. Dia merubah semua semua habit dan kebiasaannya. Impiannya yang pertama adalah, “Menjadi orang muda terkaya di Singapura !” Untuk itu dia memodel ratusan orang-orang sukses dan kaya raya di dunia, serta bersemboyan,

“Jika sesuatu itu mungkin bagi orang lain, maka akan mungkin pula bagi saya.”

Tags: , , , , ,