Trainer Amir Faisal : Spiritualitas dan Religiusitas, 08157698288

blog on September 25th, 2017 No Comments

Akhir-Akhir ini banyak orang yang mengakui eksistensi Tuhan, akan tetapi tidak mau memeluk atau menjalankan perintah agama.

Dianggapnya agama sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman. Padahal kesimpulan itu belum didasarkan pada pengkajian yang mendalam. Hanya dengar “katanya”, ataupun membaca blog yang tidak jelas kompetensi Narasumbernya.

Umumnya mereka merasa kecewa dengan perilaku orang beragama terutama perilaku sebagian pemimpinnya yang tidak bisa menjadi suri tauladan.

Sebab lain, akibat pengaruh dari kuatnya iklan dan promosi dari paham materialisme, ateisme, sekularisme, liberalisme, hedonisme, dan sosialisme, justru karena faham-faham itu dalam mempromosikan dirinya seolah-olah tidak menolak akan adanya eksistensi Tuhan.

Isu inilah yang memikat. Mereka introdusir ungkapan “Spiritualisme not Religion.” Menurut mereka agama itu yang penting penghayatan dan pengamalannya. Padahal ini adalah jebakan agar orang meninggalkan keyakinan agamanya. Anak-anak generasi milenial gen Y dan Z sangat antusias dengan isu ini.

Kelihatannya ungkapan ini benar, akan tetapi sangat menyesatkan. Bagaimana mungkin mengamalkan kebaikan, tetapi hanya mengikuti hati nurani saja tanpa mengikuti tuntunan Agama?

Mari kita telaah dengan pendekatan Antropologi sosiologis. Dalam agama ada konsep tentang manusia, seperti yang ditulis oleh Ali Isa Othman dalam “Manusia Menurut Al-Ghozali”

Kalangan materialisme (induk dari faham-faham yang disebutkan diatas) tidak mengakui eksistensi Tuhan Sang Maha Pencipta tentunya tidak mau menerima kebenaran Kitab Suci yang merupakan produk Agama sebagai pedoman hidup manusia.

Sedangkan bagi Ummat beragama, Kitab Suci merupakan guidance book. Tuhan sebagai Pendesain dan Pencipta manusia berkepentingan untuk memelihara semua ciptaannya baik alam semesta maupun manusia, maka diciptakanlah Kitab suci yang dibawa oleh para utusanNya. Mudahnya, produsen mobil saja merasa perlu menciptakan buku petunjuk pemeliharaan produknya, apalagi produk manusia yang memiliki aspek yang lebih kompleks dan complicated.

Analisa Aspek Antropologis

Hal-hal yang menyertai penciptaan manusia meliputi antara lain :
1⃣Tujuan penciptaan
2⃣Pemeliharaan (mudlorot dan manfaat)
3⃣Kapasitas

Hendaknya kita bersikap kritis dan mempertanyakan, apakah kaum materialis yang bukan pencipta manusia bisa menjelaskannya dengan benar, apa tujuan penciptaan manusia?

Seandainya saking hebatnya mereka sehingga sanggup menciptakan robot yang bisa berfungsi seperti manusiapun, tentu desain dan prototipenya pasti tidak sama dengan Adam dan keturunannya.

Ibarat mobil diesel pasti tidak sama dengan mobil bensin. Mungkin mereka bisa menjelaskan konsep robot itu utk apa diciptakan, tetapi jelas akan banyak mengalami kekeliruan saat menjelaskan konsep untuk apa tujuan manusia diciptakan. Padahal ciptaan manusia tidaklah sesederhana produk otomotif.

Banyak sekali misteri yang belum bisa diungkap oleh ilmu pengetahuan tentang kompleksitas manusia itu. Misalnya kenapa manusia umumnya baru bisa menggunakan kapasitas otaknya 1 hingga 3 persen?

Apa hubungan perasaan cinta di jantung dengan hormon oxytocine yang ada di otak? Kenapa bisa terjadi antara dorongan untuk menyintai sesama dengan nafsu berkuasa yang bisa membantai manusia melibatkan bagian otak yang sama dan seterusnya.

Dalam hal ini hanya ilmu agama yang bisa menjelaskan, karena hal itu berhubungan dengan ruh. Belum ada satupun penemuan teknologi yang bisa mengungkap fenomena ruh ini. Anda boleh menyangkalnya, tetapi Anda pasti merasakan bahwa Anda bisa menikmati hidup ini karena dalam tubuh Anda ada “benda” itu, yang mana keluarga Anda yang telah meninggal dunia, karena ruhnya telah berpisah atau keluar dari tubuhnya. Ini adalah fakta yang tak terpungkiri.

Aspek kedua tentang “pemeliharaan”, mungkin kalangan materialisme mampu menjelaskan dengan baik, bisa meriset ataupun bahkan menciptakan produk untuk memenuhi kebutuhannya. Akan tetapi perlu diingat bahwa manusia adalah jenis makhluk yang punya keinginan tak terbatas termasuk keinginan yang bisa membahayakan atau menghancurkan dirinya.

Aspek ini juga memerlukan tuntunan Agama, karena agama mengajarkan perilaku dan tuntunan hidup yang menyehatkan jasmani dan rohani yang sesuai dengan fitrahnya.

Baru pada aspek ketiga yaitu “kapasitas” ini barangkali mereka memiliki keunggulan, karena keterangan Kitab suci dalam hal ini masih bersifat global

Jika dalam Antropologi peranan Agama sangat diperlukan, apalagi dalam sosiologi yang meliputi hubungan antar manusia, supaya tidak terjadi kedzaliman dalam pengaturan norma dan hukum, mencari pendapatan atau memenuhi kebutuhan ekonomi, maupun mengatur masyarakat (politik)

Wallahu a’lam

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Kaya Dan Miskin Bukan Takdir, Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on July 31st, 2017 No Comments

 (Artikel ini dinukil dari buku : Think Like a Millionaire, Amir Faisal, Change Publisher)

Jika Anda mengatakan bahwa Anda miskin karena takdir, sama halnya Anda telah MENUDUH Tuhan berbuat tidak adil pada Anda, karena di dunia ini banyak orang yang ditakdirkan jadi kaya raya. Seandainya tuduhan Anda betulpun, bahwa kaya dan miskin adalah takdir Tuhan, Anda sendiri juga tidak mengetahui, Anda termasuk kelompok yang ditakdirkan jadi kaya atau miskin. Kenapa Anda malah cepat-cepat menyimpulkan bahwa Anda telah ditakdirkan miskin?

Apakah yang dimaksud dengan kekayaan itu ?
Arti kekayaan adalah kepemilikan harta dan asset lainnya. Semakin banyak, maka seseorang akan semakin kaya. Jadi artikel ini tidak membicarakan tentang kaya hati. Tetapi kenapa orang bisa kaya dan yang lain tidak. Atau kenapa orang bisa kaya, kemudian tidak lama kemudian jadi miskin lagi, bangkrut, dan bahkan banyak utang?

Mindset kaya dan miskin
Menurut Milton Erickson, masa lalu dan pengalaman seseorang itu memiliki struktur dan membentuk CETAK BIRU atau Paradigma berfikir. Beruntunglah Anda jika Anda dibesarkan oleh lingkungan yang tidak mengkerdilkan Mindset Anda menjadi miskin. Semakin sering seseorang menerima pengalaman pahit, maka akan semakin kuat pikiran, anggapan ataupun keyakinan dalam dirinya, bahwa ia memang sudah bernasib demikian dan terkadang ada yang menyalahkan situasi atau orang lain.

Terdapat pola-pola tertentu yang bersifat konsisten pada orang-orang kaya ataupun orang-orang miskin yang diakibatkan oleh peta mental atau peta pikiran masing-masing, yang bersemayam di otaknya yang menciptakan “cetak biru”

Ternyata orang-orang sukses dan kaya memiliki “cetak biru” berupa paradigma yang berbeda dengan orang miskin, dimana cara mereka memandang dunia atau realitas kehidupan menyebabkan mereka mampu melakukan tindakan-tindakan yang luar biasa yang mengantarkan mereka pada kesuksesannya itu.

Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk menolong diri sendiri adalah menyelamatkan diri dari jebakan mental block atau dengan merubah pikiran yang digunakan untuk merespon dan mensikapi segala kejadian dan membangun “cetak biru” baru yang sama sekali berbeda dengan yang sebelumnya. Karena selama kita menggunakan CETAK BIRU yang lama (dengan pola gagal), maka kita akan memiliki ANGGAPAN-ANGGAPAN dan KEYAKINAN yang lama dalam merespon kejadian, sehingga membuat kita selalu MENGAMBIL KEPUTUSAN dan melakukan tindakan yang sama, serta akan mengHASILkan kegagalan-kegagalan yang sama pula.

CETAK BIRU > BELIEF>MINDSET>RESPON> TINDAKAN> HASIL

Beberapa survey terhadap orang-orang kaya membuktikan ternyata kekayaan mereka tidak terkait dengan jenis usaha yang dipilih, alternatif dan besarnya modal yang mereka miliki ataupun situasi ekonominya. Apapun pilihan dan kondisinya, mereka tetap mampu “mencetak” uang dalam jumlah yang besar. Mereka umumnya pernah mengalami kebangkrutan, tetapi dalam tempo yang tidak lama bisa kembali menjadi kaya. Jadi bukan pada jenis usaha atau situasi yang dihadapi tetapi tergantung pada pola pikir mereka dalam menyikapi situasi itu.

Kenapa bisa demikian? Karena, walaupun orang-orang kaya itu kehilangan uang mereka dalam jumlah yang sangat besar, tetapi mereka tidak pernah kehilangan “pola pikir besar” nya. Saya pernah meeting dengan salah seorang kaya di negeri ini dalam sebuah kegiatan sosial, dimana dia tetap menyumbangkan uang ratusan juta rupiah, walaupun habis merugi hampir 1 T. Bayangkan seandainya Anda yang mengalami kerugian seperti itu, masih terpikirkankah untuk memberikan sumbangan?

Orang-orang kaya sudah terbiasa berfikir dalam skala besar. Jika mereka sudah biasa mendapat keuntungan jutaan dolar, maka kerugian dalam jumlah segitu, juga dianggap hal biasa.

Konsep Tentang Kekayaan & Uang
“Kalau kita tidak dengan sadar membangun kekayaan, bisa jadi kita sedang membangun kemiskinan.” ( Heppy Trenggono )

Bagi Orang-orang kaya, kekayaan merupakan konsep hidup, bukan sekedar keinginan atau impian seperti kebanyakan orang. Sebab adanya konsep, akan menciptakan visi hidup. Konsep itu merupakan salah satu bentuk “cetak biru” yang sudah tersusun dan teraplikasi. Jika menjadi kaya hanya sekedar sebuah keinginan ataupun impian, maka ia akan dengan mudah dibajak oleh pikiran bawah sadar kita. Banyak orang yang secara sadar ingin menjadi kaya, tetapi terbajak oleh pikiran bawah sadarnya, sehingga gagal menjadi kaya.

Dibawah ini disajikan beberapa kasus hambatan menjadi kaya

1⃣Pada mulanya, seseorang begitu gigih mencari uang, tetapi ketika sudah mencapai jumlah tertentu, dia menjadi kehilangan motivasi yang sangat mempengaruhi kinerjanya, sehingga pendapatannya menurun dengan drastis. Begitu orang itu melihat rekeningnya mulai menipis, barulah dia bersemangat lagi mencari uang hingga mencapai jumlah tertentu, kemudian semangatnya menurun lagi. Begitu seterusnya.

2⃣Ada orang yang sebenarnya berbakat bisnis. Pandai mencari peluang dan pandai menjalin relasi ataupun menjual. Tetapi entah kenapa, ia tidak pernah bisa mendapat untung besar. Setiap kali ia akan mengambil keputusan untuk mengambil margin keuntungan, ada semacam perasaan bersalah yang mengganggu pikirannya untuk mengambil untung besar. Akhirnya dia memutuskan untuk mengambil keuntungan yang kecil saja, tetapi ia merasa tenteram.

3⃣Ada juga orang yang giat bekerja mencari uang, tetapi setelah uang itu terkumpul, tiba-tiba seperti ada sesuatu yang mendorong orang tersebut untuk cepat-cepat menghabiskannya lagi, dengan berbelanja barang-barang mewah, sehingga uangnya habis lagi. Kemudian giat lagi, berbelanja lagi dan habis lagi. Demikian seterusnya.

Pada ketiga kasus diatas,
Walaupun pikiran sadar orang-orang itu ingin menjadi orang kaya, tetapi dalam bawah sadarnya, mereka sebenarnya takut, merasa bersalah, atau bahkan marah dengan uang dan kekayaan.

Pengalaman negatip masa lalu yang terpendam di alam bawah sadar seperti rasa takut, rasa bersalah atau bahkan rasa marah tiba-tiba muncul begitu saja dipermukaan ketika memiliki kekayaan. Banyak keluarga dari orang tua kandung kita yang hidup rukun dan damai ketika kakek nenek kita masih hidup. Setiap ada acara keluarga selalu berkumpul dalam suasana suka cita. Tetapi sesudah sepasang kakek nenek itu meninggal, suasananya berubah menjadi panas dan hampir setiap hari mata kita yang masih polos di usia anak-anak, disuguhi pertengkaran demi pertengkaran, yang tidak sedikit berujung di pengadilan dan berakibat putusnya hubungan keluarga. Apa penyebab utamanya? Tidak lain adalah harta warisan. Akibatnya, saat sekarang, pikiran bawah sadar kita akan berusaha mencegah kita, saat akan memiliki harta dalam jumlah besar, karena begitu uang itu terkumpul, berarti akan datang malapetaka. Kita merasa takut yang menyebabkan energi kita menurun drastis dalam mencari uang. Atau terkadang rasa takut itu munculnya sangat halus. Misalnya ketika Anda menyimpan uang, apa niat yang terbersit dalam pikiran Anda? Untuk jaga-jaga atau untuk apa? Coba Anda pikirkan, motif jaga-jaga itu termasuk rasa takut bukan? Menurut penelitian, rasa aman dan rasa takut didorong oleh motif yang sama. Apakah tidak lebih baik pikirannya Anda rubah, “Saya simpan uang untuk saat-saat menyenangkan dalam kehidupan saya di masa depan”

Kasus kedua diakibatkan nilai-nilai ketimuran kita yang luhur, tanpa sengaja telah memberikan bias, misalnya pamrih materi / uang dalam memberikan jasa kita pada orang lain kadang-kadang dianggap kurang etis. Padahal, bagi kita yang sering mempekerjakan orang untuk kepentingan diri kita, tentu kita lebih suka apabila kontraprestasinya disebutkan dalam satuan uang, bukan balas budi, yang tidak jelas sampai kapan lunasnya. Oleh karena itu pikiran semacam itu seharusnya di update, bahwa meminta bayaran untuk jasa yang mereka berikan justru meringankan beban pikiran si pemberi kerja sendiri. Jika tidak, setelah menjadi profesional yang layak dibayar dengan harga yang tinggi, pikiran bawah sadar itu akan terus membebani. Dalam berdagang kita seringkali dianjurkan oleh para orang tua untuk mencari keuntungan yang wajar-wajar saja. Padahal harga ditentukan berdasarkan mekanisme pasar. Kalau kita menjual barang dengan harga yang tinggi untuk kualitas yang sama dengan produk sejenis, tentu saja tidak akan laku. Tidak ada istilah wajar dan tidak wajar.

Kemudian kasus yang ketiga, yaitu seseorang yang berbelanja membabibuta menghabiskan uang, bisa jadi disebabkan oleh rasa marahnya terhadap penderitaan pada masa lalunya. Ataupun pernah mendapat perlakuan yang merendahkan harga dirinya yang menyangkut kekayaan. Maka saat ia sudah menguasai uang yang sangat besar, suara bawah sadarnya berkata,”Sudah berapa tahun saya dipandang rendah, kini saatnya saya . . . . “

Pertanyaannya, apakah dengan berbelanja berlebihan dan melakukan investasi secara serampangan akan melepaskan mereka dari penderitaan masa lalu. Tidak! Mereka akan semakin menderita, karena dendam kemarahan itu ternyata tidak pernah kunjung padam, sementara pengeluaran tanpa kendali itu membuat manajemen finansial mereka semakin buruk dan meluncur kepada kebangkrutan.

Persepsi Negatip tentang kekayaan
Kita sering mendengar ungkapan-ungkapan negatip tentang kekayaan, yang seolah-olah merupakan anjuran yang baik :

  • Lihatlah, orang yang banyak uang itu hidupnya tidak tenteram. Setiap malam tidak bisa tidur, takut disambangi pencuri atau perampok.
    ( KOREKSi : Orang yang tidak punya uang juga gak bisa tidur, karena mikirin utang)
  • Umumnya orang-orang setelah menjadi kaya, banyak yang berubah sikapnya.
    ( KOREKSi : Berubah sikap, bisa menjadi lebih buruk atau lebih baik)
  • Orang tuamu selalu cekcok karena masalah uang
    ( KOREKSi : Mereka cekcok, karena uangnya pas-pasan, sedangkan kebutuhannya banyak)
  • Anak kecil jangan mainan uang, kotor, jijik, banyak bakterinya.
    ( KOREKSi : Tidak ada benda ditempat umum yang tidak terkontaminasi bakteri dan yang kotor dan menjijikkan bukan hanya uang)
  • “Cari uang itu sulit !”
    ( KOREKSi : Mungkin cara mencarinya yang keliru. Buktinya banyak yang mudah mendapatkan uang)
  • “Kalau masih kuliah jangan cari uang dulu, nanti tidak lulus-lulus”
    ( KOREKSi : Banyak mahasiswa abadi yang bukan karena nyambi bekerja ataupun berbisnis)
  • Uang adalah akar dari kejahatan dan korupsi
    ( KOREKSi : Akar kejahatan adalah mental, bukan uang. Membangun masjid dan naik haji juga pakai uang. Kenapa tidak disebut, akar ibadah adalah uang?
  • “Kalau lihat uang saja, matanya jadi hijau.”
    ( KOREKSi : Asal uang halal dan menjadi haknya dan juga bukan mengemis, why not? )
  • Kamu bukan keturunan orang kaya
    ( KOREKSi : Banyak pengusaha sukses dan kaya raya, keturunannya orang miskin)
  • Begitu orang itu menjadi kaya, teman-temannya pada menjauh
    ( KOREKSi : Salahnya yang menjauh. Emangnya gua pikirin)
  • Biasanya, orang semakin kaya, akan semakin pelit dan egois
    ( KOREKSi : Pelit dan egois adalah watak manusia, kaya ataupun miskin)
  • Dan seterusnya.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Mengajak Ibadah dan Berbuat Kebaikan Menggunakan NLP (Neuro Linguistic Programming), Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on July 26th, 2017 No Comments

Allah memerintahkan kita beribadah dan berbuat kebaikan itu untuk kebaikan kita sendiri. Misalnya yang berkaitan dengan ibadah shalat. Baru-baru ini telah ditemukan oleh seorang ahli neurosain bernama Dean Hammer ( dalam The God Gen : 2004), bahwa didalam thalamus – bagian otak yang berfungsi sebagai ”manager” yang pekerjaannya merespon semua stimulus yang masuk ke otak – ada GEN yang hanya akan “menyala” jika seseorang beribadah. Dampak yang diperolehnya luarbiasa. Orang akan menjadi tenang, khusyu, enlightenment, dst. Jika bagian otak ini tidak pernah difungsikan, maka seseorang akan mudah stres, marah dan putus asa.

Zakat adalah kebaikan yang tidak hanya bermanfaat bagi penerima (Mustahiq) tetapi juga bagi pemberinya (Muzzaki).Orang yang rajin berzakat dan bersedekah, maka hartanya justru akan tumbuh, karena arti “zakka” sendiri adalah bersih dan tumbuh. Jika harta seseorang itu dizakati, maka berarti tidak ada energi negatipnya. Sehingga seperti ada mukjizatnya, jika harta itu diinvestasikan akan cepat berkembang, dan jika dikonsumsi akan jadi berkah. Sedekah, selain bisa menolak bala, juga bisa jadi pupuk yang membuat “tanaman” kita bisa bertumbuh menjadi 70 cabang. Kita juga sering mendapat cerita motivasi, orang-orang kaya di dunia, pada umumnya suka bersedekah. Bisa jadi itu diakibatkan oleh doa orang kita beri zakat dan shodaqoh yang diijabahi oleh Allah SWT

Namun, walau sudah tahu hikmahnya seperti itu, sering kita mengalami kesulitan untuk mengajak orang melakukan kedua amaliyah itu. Bahkan kita sendiripun masih sering merasa enggan.

Memahami Tipe Motivasi Manusia

Banyak strategi dan metode untuk mengajak pada kebaikan. Tetapi kali ini kita akan menggunakan strategi NLP (Neuro Linguistic Programming) yang ditemukan oleh Richard Bandler dengan cara MEMPERHATIKAN Tipe Motivasi orang yang kita ajak itu.

Manusia di dunia dari segi motivasi dibagi menjadi dua, yaitu tipe Away From dan tipe Toward.

▶Terdapat dua anggapan ekstrim manusia dalam menyikapi keberadaannya di dunia. Ekstrim pertama mengatakan bahwa, manusia hidup di dunia ini dalam keadaan terpaksa dan berada di tempat yang tidak dikehendakinya. Motivasi hidup dari anggapan dengan ekstrim ini selalu berupaya untuk menghindari atau mengurangi sebanyak mungkin penderitaan yang harus dialaminya, menghindari masalah, kesulitan, rasa lapar, rasa sakit, rasa tidak enak atau tidak nyaman dan sebagainya (tipe manusia dengan motivasi away from).

▶Sedangkan ekstrim kedua beranggapan bahwa keberadaan manusia di bumi ini memang sudah pada tempatnya. Atau memang sudah seharusnya terjadi demikian. Sejak awal, manusia memang sudah dirancang untuk menjalankan tugas di muka bumi sebagai khalifah. Pembuktian oleh para ahli biokimia mengatakan bahwa hampir semua unsur yang ada di alam semesta ini ada dalam tubuh manusia. Begitu juga hukum-hukum fisika yang terjadi di alam semesta juga terjadi pada manusia (tipe manusia dengan motivasi Toward)

Mendakwahi seseorang sesuai dengan tipenya

Ini bukan soal tipe mana yang lebih baik, tetapi tentang bagaimana caranya mentreatment kedua tipe tersebut dalam mengajak untuk beribadah dan berbuat kebaikan.

✳ Poinnya,  untuk mengubah seseorang perlu mengubah Mindset orang tersebut terlebih dahulu. Dan untuk mengubah mindset perlu disesuaikan dengan TIPE MOTIVASI nya

Contoh treatmen mengajak shalat
1⃣ Untuk Tipe Away From :
– Lebih baik shalat Isya awal, ketimbang shalat sambil mengantuk

– Segera shalat, biar longgar, jika kewajibannya sudah ditunaikan

2⃣Tipe Toward :
– Shalatlah dulu Insya Allah pikiran mu semakin fresh shg Anda jadi lbh produktif

– Banyak sekali manfaat yang diperoleh jika kita selalu bisa khusyuk dalam shalat

Mengajak Zakat dan sedekah
1⃣Type Away From :
Angsurlah zakatmu setiap menerima penghasilan, shg pada akhir tahun buku, pembayarannya sudah ringan

2⃣Tipe Toward :
Zakat itu membuka pintu-pintu rizki dan menumbuhkan penghasilan, krn hartamu jadi bersih dan Anda didoakan sama Mustahiq

Bagaimana dengan Dai yang harus mengajak ibadah dan kebaikan pada banyak orang sekaligus?

✳Gunakan srategi 1⃣ untuk Tipe Away From  Read more »

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Bagaimana NLP (Neuro Linguistic Programming) Bekerja ?, Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on July 14th, 2017 No Comments


(Disunting dari buku saya : Destined To Be A Leader )

Secara bahasa, Neuro berarti sistem dan jalur persyarafan yang fungsi utamanya adalah melihat, mendengar dan merasakan. Linguistic adalah cara berbahasa atau kata-kata, baik verbal maupun non verbal yang dapat memengaruhi sistem pikiran, perasaan dan perilaku – termasuk didalamnya silence language (dialog pikiran). Kemudian Programming adalah pemrograman sebagaimana dalam pengertian teknologi informasi, dimana pikiran manusia sebagaimana halnya komputer, perangkat lunak diri kitapun bisa juga diprogram untuk melakukan tindakan-tindakan dan kebiasaan-kebiasaan serta bisa diubah ataupun di delete.

Jadi NLP adalah pemrograman bahasa atau kata-kata secara sengaja kedalam pikiran, perasaan dan hati untuk tujuan tertentu.

Saat kita mencoba menginput atau memproses data dengan menggunakan komputer, maka secara otomatis sistem akan “melayani” kita, dengan jenis layanan sesuai dengan yang kita butuhkan, serta komputer akan mengikuti semua instruksi-instruksi yang kita berikan. Begitu juga dengan otak kita. Semua input atau stimulus secara otomatis akan di proses ke dalam otak dan akan dilayani sesuai jalur-jalur syaraf masing-masing yang jumlahnya milyaran.

Masalahnya tergantung pada :
1⃣Data yang kita inputkan itu , apakah terseleksi dengan baik atau sembarang data kita masukkan?

2⃣Bagaimana respon pikiran kita. Menurut Steven R Covey, otak kita memberikan “jeda” beberapa detik sebelum memberikan respon, dan saat itulah justru yang paling krusial, karena pola pikir kita sangat memengaruhi respon yang kita ambil.

3⃣Apakah kita segera melakukan tindakan, jika sekiranya impulsnya mengatakan bahwa input itu bermanfaat untuk ditindaklanjuti dan me refuse nya sekiranya inputnya merugikan.

Begitu juga jika kita ingin melakukan transformasi ataupun perubahan. Melakukan perubahan tanpa disertai pemahaman tentang NLP, hanya akan menyentuh otot dan kulitnya saja. Karena NLP membelajarkan langsung dari sumber-sumber yang membuat orang mau berubah.

Pikiran, perasaan dan tubuh adalah sebuah SISTEM yang dikendalikan oleh pikiran sadar (Conscious Mind), Batang otak (Subconscious Mind) dan pikiran bawah sadar (Unconscious Mind).

NLP merupakan Mind Management untuk mengoperatori SISTEM tersebut diatas, agar kita bisa menjadi Boss dari diri kita. Bukan sebaliknya diombang-ambingkan oleh pikiran dan perasaan, atau situasi yang terjadi di lingkungan kita.

Ada suatu teknik dalam NLP yang disebut Sub of Modalities (SOM), yaitu sebuah teknik untuk mengoptimalisasikan ke 5 indera diatas (Visual Auditorial Kinestetikal Olfactorial dan Gustatorial), yang manfaatnya adalah:

1⃣Menemukan Circle of Excellent ( CoE). CoE adalah kemampuan terbaik kita. Sebagian orang ada yang mengatakan bakat

2⃣Mengeksplorasi potensi tersebut sehingga bisa memberikan manfaat bagi kita sendiri dan banyak orang.

3⃣Membongkar Mental Block, hambatan psikis dan terapi lainnya
4⃣Melakukan Transformasi diri

5⃣Menemukan The Power of Unconscious Mind

6⃣Finding Passion of Life
Membangun Ekspektasi, Dream Building & Goal Setting

7⃣Memodel Presupposi Kesuksesan

8⃣Menemukan passion of Life
dll

Teknik SOM bisa juga dimanfaatkan untuk
1⃣MEMENGARUHI & MEMANIPULASI PIKIRAN orang lain agar MELAKUKAN TINDAKAN sesuai yang kita inginkan

2⃣MENJUAL khas NLP (Menjual Produk / Jasa, Menjual Ide dan Menjual Ilmu untuk Trainer dan Pengajar) YANG SULIT DITOLAK

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,

“DASAR NDESO!”, Fosil Indonesia, Amir Faisal

blog on July 6th, 2017 No Comments


Cak Nun pernah membuat cerita pendek yang sarat nilai sosiokultur tentang polapikir orang pedesaan.

Tokohnya adalah Penjual Cendol di daerah Magelang yang melayani para petani yang lagi menuai padi. Mereka tidak menggunakan uang untuk mendapatkan semangkuk Cendol tetapi dengan segenggam padi, atau istilahnya barter.

Suatu hari, datang seseorang yang mengaku suruhan Kepala desa yang ingin memborong dagangan Dawet untuk perhelatan pernikahan puteri pak Kades

Alih-alih merasa gembira krn dapat rejeki nomplok, sang Penjual malah menolaknya dengan alasan, kalau dagangannya diborong, maka besok tidak ada yang melayani para petani itu, jika mereka kehausan.

Menurut analisis Cak Nun, bagi Penjual dawet itu, berdagang adalah sekedar menerima kodratnya untuk melayani petani dalam mata rantai kehidupan dan keseimbangan alam. Mereka tidak pernah berfikir untuk akumulasi modal lalu melakukan ekspansi usaha.

Laiya, wong dasar ndeso 😇

Membangun Kompetensi Sesuai Kinerja Persyarafan, Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on June 19th, 2017 No Comments

Artikel ini sama sekali tidak menafikan hati, karena selain Menciptakan persyarafan manusia, Allah juga berfirman : “Kami telah menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati” dimana semua prosesnya melalui jalur-jalur persyarafan.

Hati yang dimaksudkan dalam Al-Quran bersifat RUHIYAH, bukan faal. Ia bisa maujud di semua gen dan bagian persyarafan kita. Misalnya kita bahagia, maka dengan teknologi bidang persyarafan, dengan mudahnya rekaman otaknya bisa dilihat dan dibaca. Begitu juga sebaliknya jika kita sedang sedih.

Mengapersepsi

Para pakar psikologi pendidikan telah puluhan tahun mengimplementasikan hasil penelitian syaraf dalam melakukan proses pendidikan dan pembelajaran. Bagian paling menentukan bagi keberhasilan belajar adalah BATANG OTAK. Bagian ini mengait awareness (kesadaran), need (kebutuhan), interest (minat) dan seterusnya, dimana disitu terdapat “pintu” yang mempunyai 2 kemungkinan open atau close. Tugas utama Pendidik adalah membuka batang otak.

Albert Einstein pernah mengatakan :”Jika awalnya tidak gila, maka


selanjutnya akan biasa-biasa.” Maksudnya, dalam memproses pembelajaran  harus disertai strategi atau trik yang bisa menggugah, menyalakan batang otak sehingga peserta didik menjadi minat dan menganggap materi pembelajaran  adalah sesuatu yang bener-bener asyik, menggugah, indah,  mencerahkan, sangat “wow” dan sebagainya. Jika proses awal ini sukses dan bisa memuaskan otak naluri kita (otak reptil), maka jalur persyarafan akan menyodok Dopamin otak, sehingga akan memproduksi jutaan neurotransmiter ke seluruh impuls syaraf yang akibatnya kita menjadi sangat bergairah (passionate), antusias, tertantang, ingin tahu lebih lanjut atau curious.

Strategi pembelajaran .

Tetapi hati-hati. Anda jangan cepat puas dahulu, karena proses ini bisa padam sewaktu-waktu jika Anda tidak meneruskan dengan melakukan skenario pembelajaran yang juga tidak kalah hebohnya. Anda sudah capek-capek melakukan trik-trik untuk menggairahkan pembelajaran jangan sampai sia-sia justru ketika masuk pada inti atau konten pembelajarannya, Anda lakukan dengan monoton, kaku, datar, tanpa minat, tidak menggugah rasa ingin tahu dst. Fernon Magnesen dari Texas University telah melakukan penelitian, yang kesimpulannya, pencerapan materi pembelajaran akan mencapai 90 persen jika dilakukan dengan menggabungkan antara, MENDENGARKAN, MELIHAT, MENGALAMI / PRAKTEK DAN MENGUNGKAPKAN / MEMPRESENTASIKAN.

Membangun Kompetensi

Kompetensi adalah keterampilan, pengetahuan, sikap dasar serta nilai yang dicerminkan ke dalam kebiasaan berpikir dan bertindak yang sifatnya berkembang, dinamis, kontinyu (terus menerus) serta dapat di raih setiap waktu. Kebiasaan berpikir serta bertindak dengan konstan, konsisten dan dilakukan secara terus-menerus akan membuat seseorang menjadi kompeten.

Beberapa dimensi yang terkandung dalam konsep kompetensi yaitu sebagai berikut :

1⃣Understanding atau pemahaman, yaitu kedalaman kognitif yang dimiliki oleh seseorang

2⃣Skill atau kemampuan, yaitu sesuatu keterampilan ataupun bakat yang dimiliki oleh individu untuk melakukan pekerjaan yang dibebankan kepadanya.

3⃣Knowledge atau pengetahuan, yaitu kesadaran dalam bidang kognitif, yang berarti mengetahui apa yang harus diperbuat.

4⃣Interest atau minat, yaitu kecenderungan seseorang yang tinggi terhadap sesuatu atau untuk melakukan sesuatu perbuatan.

5⃣Attitude atau sikap, yaitu reaksi seseorang terhadap rangsangan yang datang dari luar, misal; rasa senang, suka atau tidak suka.

6⃣Value atau nilai, yaitu suatu standar perilaku atau sikap yang dipercaya secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang

Proses Menjadi Kompeten

Fase 1 : Unconscious Incompetence

Pada masa ini seseorang tidak sadar bahwa dirinya tidak mempunyai pengetahuan dan kemampuan serta tidak menyadari apa perlunya menguasai kedua hal itu. Sebagai contoh, setiap anak berusia kira-kira 1,5 tahun tadinya tidak menyadari bahwa dirinya suatu saat nanti harus bisa mengendarai sepeda. Tidak ada interes dan tahu apa manfaatnya bisa mengendarai sepeda. Oleh karenanya proses pembelajaran yang dilakukan berupa AWAKENING atau menggugah kesadaran dan menumbuhkan need. Jika menyangkut kompetensi spiritual, bisa ditanamkan VALUES tentang Ketuhanan dan amal sholeh

Fase 2 : Conscious Incompetence

Pada Fase ini seseorang sudah menyadari bahwa dirinya perlu mempunyai pengetahuan dan kemampuan serta menyadari perlunya memiliki kedua hal itu, tetapi dia tidak memiliki pengetahuan ataupun kemampuan. Kalau dalam contoh bersepeda tadi, karena anak itu melihat anak-anak lain bermain-main sepeda, iapun kemudian tertarik ingin mencoba atau pinjam sepeda bekas kakaknya didorong kesana kemari. Saat itulah ia mulai menyadari dirinya harus bisa naik sepeda. Karena tergiur oleh teman-temannya yang sudah bisa, iapun mulai berminat untuk berlatih naik sepeda, sampai akhirnya bisa.

Maka proses pembelajaran pada fase ini dilakukan dengan contoh kongkrit, keteladanan serta berinteraksi dan berpraktek. Untuk kompetensi spiritual dilakukan dengan cara membangun habit ibadah maupun akhlaqul karimah.

Fase 3 : Conscious Competence

Pada fase ini seseorang sudah sadar bahwa dirinya punya pengetahuan ataupun skill walaupun belum mahir betul. Maka proses pembelajaran pada fase ini adalah mendorong belajar dan terus memupuk semangat berlatih, mengulang dan memberikan presupposisi, SEMAKIN IA BELAJAR DAN BERLATIH SERTA MENGUASAI BIDANG TERTENTU SEMAKIN MUDAH UNTUK MENDAPATKAN SKILL LAINNYA. Dalam kompetensi spiritual bisa melalui pemberian pencerahan, diajak melakukan refleksi, merasakan hikmahnya amalan-amalan agama.

Fase 4 : Unconscious Competence

Fase ini seseorang sudah tidak menyadari bahwa dirinya menguasai begitu banyak pengetahuan dan skill. Kalau dalam contoh naik sepeda tadi, sesudah anak itu bertahun-tahun naik sepeda, akhirnya ia sudah tidak menyadari lagi, apa yang harus ia pikirkan dan lakukan ketika harus menjaga keseimbangan kendaraan yang beroda dua itu. Bahkan kita sering melihat sekelompok anak-anak bermain sepeda ala motor cross, yaitu melakukan jumping atau manuver-manuver dahsyat.

Hal tersebut juga berlaku pada skill lainnya seperti seorang pembicara publik yang hebat, pakar di berbagai bidang, pemimpin masyarakat, dokter spesialis terkenal, teknisi andal dan seterusnya. Dalam kompetensi spiritual seseorang menjadi sudah sangat aware terhadap agamanya, bahkan dia sudah bisa melakukan transfer of values terhadap orang lain. Inilah tujuan paripurna dari proses belajar yaitu MENJADI UNCONSCIOUS COMPETENCE

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Public Hoax, artikel Leadership Amir Faisal

blog on June 6th, 2017 No Comments


Di negara-negara maju, tarohlah Amerika, honesty atau trust yang berarti kejujuran merupakan standar tertinggi bagi seorang pemimpin.

Clinton dan Obama adalah dua presiden yang sama-sama tersandung kasus perselingkuhan. Tetapi kenapa Obama tidak di impeachment? Karena dia mengakui dengan jujur dan tidak mbulet.

Di era transparansi dan tanpa sekat sosial seperti sekarang ini, tidak ada ruang lagi bagi pemimpin untuk melakukan hoax. Walaupun itu sekedar mengeluarkan statemen yang bombastis. Karena publik langsung akan mencocokan ucapan pemimpin itu dengan perilaku ataupun kinerja kesehariannya.

Sebagai contoh, akhir-akhir ini banyak pejabat publik yang dengan lantang berteriak AKU PANCASILA.

Mari kita tilik makna dibalik ucapan itu

Bangsa kita ini terkena “mental block”, seakan-akan kalau kita bicara Pancasila, itu hanya masalah keberagaman, Kebhinekaan saja. Atau terkait Sila Ketuhanan

Padahal ada problem Pancasila yang lebih krusial lagi yaitu yang terkait dengan Sila ke 5 yaitu Keadilan Sosial.

Kita tahu sumber dari carutmarutnya bangsa ini adalah masalah KEADILAN, baik di bidang hukum, politik dan ekonomi.

Tapi artikel ini hanya membatasi diri pada keadilan ekonomi. World Bank mengatakan bahwa 74 persen lahan di negeri ini dikuasai hanya 2 persen orang. Bisa terjadi di negara Pancasila dan berkeadilan sosial ini satu orang menguasai 5 juta hektar lahan. Kemudian survey ekonomi menyebutkan 10 persen orang menguasai kekayaan 77 persen, sedangkan sisanya yang 23 persen dibagi pada 90 persen penduduk.

10 persen orang itulah kelompok yang mendapatkan akses-akses ekonomi, perbankan, sumber daya alam dan kekayaan negeri ini

Ketimpangan diatas tidak mungkin terjadi, jika kita memiliki pemimpin yang bisa mengADMINkan Sila ke 5 atau KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA dengan benar.

Akar dari akar masalah konflik, perpecahan, dan kerusuhan BUKANlah masalah INTOLERANSI tetapi masalah KEADILAN

Atau dengan kata lain, jika keadilan ekonomi bisa tercapai, otomatis hubungan antar anak bangsa bisa terjalin dengan harmonis, krn tidak ada yang merasa diperlakukan tidak adil, dipinggirkan, tertindas dan sebagainya. Semuanya mendapatkan akses yang sama

Selain itu, lihat saja kehidupan di masyarakat. Jika menyangkut penghidupan keekonomian, tidak ada konflik keragaman Agama, etnis, budaya dan sebagainya. Jika tidak ada pihak yang mencurangi yang lain.

Sebagai misal :

1⃣Para buruh tidak akan pernah berani mempermasalahkan agama atau keyakinan Majikannya, apalagi mendebat ataupun menistakan.
Apalagi kalau sang majikan, termasuk orang yang baik hati, maka para buruh akan lebih apresiatif pada majikannya.

2⃣Dalam kerjasama di dunia bisnis, kita akan menghindari sekali menyinggung masalah agama yang sensitif. Apalagi menunjukkan perbedaan kita dengan Klien.

ADMINKAN KEADILAN SOSIAL DALAM EKONOMI KITA, BARU KATAKAN AKU PANCASILA

🙏🏽😇❤🇮🇩

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Motivator TERHEBAT Manusia, oleh : Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on April 23rd, 2017 No Comments

Buku Destined To Be A Leader Amir Faisal diatas bisa Anda download di google book

✳Beberapa tahun yang lalu Michael H Hart meneliti 100 tokoh berpengaruh di dunia dan menempatkan Nabi Muhammad SAW pada urutan pertama.

✳Baru-baru ini, Thomas J Stanley PhD meriset 733 orang sukses di dunia dan menghasilkan 30 Faktor Sukses yang dirangking dari peringkat 1 hingga ke 30.

Ternyata :
IQ hanya menempati urutan ke 21

Kampus faforit pada urutan 23

✳APA 4 BESAR PERINGKAT UTAMANYA, yang menjadikan orang bisa sukses dan kaya raya?

Inilah hasil risetnya :

PERINGKAT :
1⃣Being Honest with all people = SHIDIQ

2⃣Being well disciplined =
AMANAH

3⃣Getting Along with people = TABLIGH nya non Dai

4⃣Leadership Qualities etc = FATHONAH

😇😇😇

Allahumma sholli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad🙏

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Beda NLP Dengan Training Motivasi, Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on April 22nd, 2017 No Comments

Buku Destined To Be A Leader Amir Faisal diatas bisa Anda download di google book

2 Tipe Ekstrim Manusia Di Dunia.
Manusia, dalam kaitannya dengan tanggung jawab yang diembannya, dapat dibagi menjadi dua, yaitu manusia penghindar dan manusia pengambil alih. Kesuksesan hanya akan menjadi milik mereka yang bersedia mengambil alih tanggung jawab.
Terdapat dua anggapan ekstrem manusia dalam menyikapi keberadaannya di dunia :

  1. Ekstrem pertama mengatakan bahwa, manusia hidup di dunia dalam keadaan terpaksa dan berada di tempat yang tidak dikehendakinya. Motivasi hidup dari anggapan dengan ekstrem ini selalu berupaya untuk menghindari atau mengurangi sebanyak mungkin penderitaan yang harus dialami, menghindari masalah, kesulitan, rasa lapar, rasa sakit, rasa tidak nyaman, dan sebagainya (tipe manusia dengan strategi motivasi Away from).
  2. Sedangkan ekstrem kedua beranggapan bahwa keberadaan manusia di bumi ini memang sudah pada tempatnya atau memang sudah seharusnya terjadi demikian. Sejak awal, manusia memang sudah dirancang untuk menjalankan tugas Tuhan di muka bumi. Pembuktian oleh para ahli biokimia mengatakan bahwa hampir semua unsur yang ada di alam semesta ini ada dalam tubuh manusia. Begitu juga hukum-hukum fisika yang terjadi di alam semesta juga terjadi pada manusia. Anggapan ekstrem kedua akan menciptakan sikap tanggung jawab dan keberanian untuk menghadapi masalah dan tantangan, derta memanfaatkan peluang-peluang sehingga bisa memunculkan kreativitas yang luar biasa untuk menundukkan alam (Toward)

Beda Training NLP ( Neuro Linguistic Programming ) dengan Training Motivasi pada umumnya.
Training Motivasi pada umumnya hanya mengeksplor EKSTRIM TOWARD. Padahal pada kenyataannya manusia terbagi ke dalam 2 ekstrim. Kalau kita termasuk jenis manusia AWAY FROM bagaimana dong?, apakah ada solusinya?

Ada! NLP selalu punya solusi, karena memang diciptakan untuk memberikan Problem Solution pada manusia dengan cara yang sangat praktis.

Jika Anda termasuk

Tipe                    Maka

AWAY FROM ——>  ACCEPT
TOWARD ———–> FOLLOW

Maksud Accept disini adalah, perasaan takut sulit, takut rasa sakit, takut gagal itu jika  Anda TERIMA, maka justru itulah terapi terbaik bagi Mental Block Anda.

Terapi Self Acceptance
Terapi ini berfokus pada sikap penerimaan terhadap realitas yang sedang dihadapi pada saat sekarang ini ( Izaac Tamzil), seperti apapun pahitnya, dan bukan pada pengalaman traumatis masa lalu. Ketika kapal yang Anda tumpangi tenggelam, tidak ada gunanya lagi Anda mengklaim buruknya sistem pengamanan kapal itu, tetapi lebih bermanfaat untuk berfokus bisa menyelamatkan diri. Atau ketika tiba-tiba Anda mengalami kebangkrutan berhentilah menyalahkan situasi ekonomi atau tim marketing Anda, karena semuanya itu sama sekali tidak akan menolong.

Oleh karenanya ketika kapal Anda nyata-nyata telah karam, pahamilah bahwa itulah situasi riil Anda serta kondisi terbaik Anda saat itu, bahwa Anda masih bisa merasakan dan mengalami situasinya, sementara yang lain sudah tidak merasakannya lagi, karena sudah pada tewas tenggelam, merupakan keberuntungan Anda. Maka “terimalah” situasi itu. Ikhlaskan musibah itu, walau seberat atau sekritis apapun. Kemudian berfokuslah untuk mencari solusinya. Nanti akan terbukti bahwa yang menyebabkan orang terperangkap pada kejatuhan atau situasi yang sangat buruk justru dikarenakan oleh rasa takut dan kepanikan atau sikap tidak bersedia menerima realitasnya. Begitu rasa takut atau rasa sakitnya bisa diatasi dan kita terima sebagai sesuatu kenyataan yang logis, serta kita bisa bertindak dan berfikir dengan tenang, maka hidup kita tidak jadi “kiamat.” Oleh karenanya sebagaimana dalam film Kiamat 2012, sesudah air laut yang menenggelamkan bumi surut, segala sesuatunya bisa dimulai lagi dari awal.

(Terapi Sub Modalities jenis ini sangat banyak variasinya, tetapi harus dilakukan oleh seorang terapist berpengalaman dan hanya bisa didapatkan dalam Coaching secara langsung)

Ucapan untuk menterapi diri,
“Saya terima keadaan ini ( semua situasi buruk luar biasa yang sedang dialami) dengan ikhlas, saat ini juga!”

Self Therapy ini kemudian bisa diperkuat dengan afirmasi-afirmasi :

  • Mari kita buat sebuah rencana
  • Sekurang-kurangnya saya masih memiliki harapan
  • Banyak hal yang saya pelajari dari pengalaman pahit ini
  • Mungkin ini cara Tuhan menegur cara-cara saya yang tidak benar selama ini
  • Saya bersyukur isteri saya bisa menerima keadaan ini, dan malah banyak memberikan dorongan-dorongan pada saya
  • Saya masih mempunyai teman yang siap membantu saya
    Dan seterusnya

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Menggabungkan EFT Dengan NLP, Terapi Sub Modalities Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on March 31st, 2017 No Comments

Buku Destined To Be A Leader Amir Faisal bisa Anda download di google book

NLP (Neuro Linguistic Programming) memiliki banyak teknik terapi. Salah satunya adalah Terapi Sub modalities,  yaitu  penyembuhan dengan cara mengoptimalkan fungsi-fungsi indera atau Sistem Representasi seperti Visual (penglihatan), Auditorial (pendengaran), Kinestetikal (perasaan dan sentuhan), Olfactorial (penciuman) dan Gustatorial ( pencecapan). Dalam hal ini akan digunakan sebagai Behavioral Therapy sekaligus melejitkan kinerja.

Pada tahap awal,  Coachee diminta untuk membandingkan antara kondisi riil dan kondisi ideal dalam hidupnya. Lebih mudahnya isilah tabel dibawah artikel ini.

Hal yang dibutuhkan dari Coachee adalah kemampuan untuk merepresentasikan kehidupan riil atau apa adanya, dalam bentuk Chunk atau potongan-potongan yang lebih kecil, yaitu kondisi kehidupan pribadi, pekerjaan atau bisnisnya, kondisi keuangan, hubungan keluarga dan kesempatan aktualisasi dirinya.

Dalam mengidentifikasi perlu melibatkan seluruh kemampuan sistem representasi mereka ( dalam bentuk gambar, warna, suara, perasaan dan bahkan sensasi).

Sebagai contoh, Robert T Kiyosaki konon pernah mengalami masa hidup yang cukup pahit, yaitu tinggal di gudang bawah tanah dalam kurun waktu yang cukup lama. Kiyosaki sengaja melakukan semuanya itu untuk merasakan kondisi yang disebutnya sebagai dissatisfaction, rasa ketidaknyamanan yang luar biasa seperti, tinggal di tempat kumuh, panas berkeringat ketika siang hari dan menggigil kedinginan saat malam hari. Kemudian barulah dia mulai menvisualkan kondisi idealnya saat dream nya tercapai.

Kemampuan mengidentifikasikan perbedaan pada setiap chunk, perlu melibatkan sistem Visual, Auditori dan Kinestetik, Olfactorial dan Gustatorial (VAKOG). Itulah yang dimaksud dengan Sub Modalities.

Kemudian tahap berikutnya Coachee diajak mengidentifikasikan permasalahannya dengan teknik yang disebut Top of Mind

Proses Top of Mind

Secara berpasangan, mereka diminta untuk saling Curhat untuk mengidentifikasikan The Big Problem (No 2 ) masing-masing.

Kemudian sesudah saling curhat, Coachee diminta kembali duduk dalam posisi semula. Pada saat inilah kita COMBINE dengan terapi EFT ( Emotional Freedom Technique) dengan cara melakukan TAPPED dengan ujung jari tengah pada 12 meridian atau titik-titik energi, yaitu diatas mata kiri, dibawah mata kiri, antara hidung dan bibir, dada kiri, dibawah ketiak kiri, lengan kiri, setiap ujung jari kiri, kemudian dipunggung telapak antara jari telunjuk dan ibu jari ( tetapi caranya dengan menekan dengan sedikit putaran searah jarum jam).

Saat melakukan Tapped itu Coachee diminta untuk menghealing emosi yang dirasakan yang diakibatkan oleh konflik, kemarahan, kebencian, ketakutan, ketidakpercayaan diri, perendahan diri, dst. ( boleh diulang hingga beberapa kali)

Sesudah proses ini biasanya Coachee merasakan perasaan lega yang luar biasa hingga enlightenment.

Tahap berikutnya Coachee diminta untuk menentukan problem mana yang jika bisa diatasi (No 3 pada kolom tengah), maka problem yang lain ikut terselesaikan.

Langkah terakhir, Coachee diminta untuk menemukan self esteem nya, sosok diri sendiri yang diidealkan, yang penuh sumber  ( nomor 1) bisa dikaitkan dengan perannya di lingkungan pekerjaan, bisnis, keluarga ataupun hubungan dengan sesama. Hampir seperti menvisualkan Ideal Condition dalam TOTE Models, tetapi yang ini bersifat lebih aktif dan hal-hal yang bisa terjadi pada jangka pendek, sesudah mengikuti Coaching.

SELAMAT MENCOBA

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,