Complex Modelling Memanfaatkan Neurological Levels, Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on January 30th, 2020 No Comments

NLP awalnya pada dasarnya adalah ilmu modelling. Richard Bandler dan John Grinder pada mulanya mempelajari secara mendalam transkrips dan rekaman audio dan video dari seminar-seminar Fritz Perls ( Psikiatris dan Ahli Gestalt Therapy) dan Virginia Satir (Ahli di bidang Family Therapy).

Dari pengkajian itu diperoleh kongklusi, dengan cara memodel aspek-aspek tertentu, bahasa dan perilaku Satir dan Perls, mereka bisa memperoleh hasil yang sama dengan kedua pendahulunya itu. Kemudian dengan mengulang-ulang pola-pola perilaku seseorang, maka orang lain bisa melakukan, seperti yang dilakukan oleh orang itu.

Contoh lain, sebelum tahun 1950an, Ice Sky dianggap permainan orang dengan kelas tertentu. Kemudian NLP mengubah total cara berfikir seperti itu. Perombak jalan pikiran itu adalah Prof. Edward T Hall, penulis The Silence Languages. Dia berprinsip, jika sesuatu bisa dilakukan oleh seseorang, maka siapapun bisa belajar melakukannya”

Hall men-shooting sejumlah pemain ski di kawasan Alpen dan direkam dalam film hitam putih 16 mm. Kemudian diamati film-film itu frame demi frame. Dia lalu membagi gerakan-gerakan lembut ski ke dalam apa yang disebut sebagai “isolates” atau unit-unit terkecil dari perilaku.

Mengamati permainan ski dengan cara itu, ia jadi tahu bahwa meski masing-masing pemain ski mempunyai gaya berbeda, tetapi mereka ternyata menggunakan “isolates” yang sama. Kemudian ketika isolates itu diajarkan kepada orang biasa atau para pemain ski pemula, mereka bisa dengan cepat bisa bermain ski dengan baik. Bahkan siapa saja bisa meningkatkan kemampuan ski mereka dengan melakukan sesuatu yang biasa dilakukan secara natural oleh pemain ski yang hebat. Kuncinya adalah mengidentifikasikan esensi dari skill mereka – yakni gerakan-gerakan tertentu yang membuat mereka menjadi  pemain ski hebat – sehingga orang lain bisa juga mempelajarinya. Inilah esensi dari me-model.

Prinsip-prinsip me-model diatas ternyata tidak hanya diterapkan untuk skill bermain ski saja, melainkan dapat dilakukan untuk memodel ekselensi di bidang apa saja. Gerakan-gerakan kuncinya bukan lagi pada gerakan ototnya melainkan dalam inner tought nya si model. Dari kata-kata ataupun silence language, yaitu tatanan tersembunyi dari pikiran-pikiran dan tindakan, penggambaran-penggambaran perasaan bahkan keyakinan-keyakinan mereka.

Bandler menempuh cara yang unik untuk memodel Dr. Fritz Perls, psikiatris Jerman itu. Ia menirukan apapun yang melekat pada diri Perls dengan cara memanjangkan jenggot, menjadi perokok, bahkan membiasakan berbahasa Inggris dengan logat Jerman. Grinder dan Bandler secara sistematis menggabungkan puzel yang semula kelihatannya tidak saling berhubungan, tetapi dengan sebuah ketekunan mereka menemukan esensi dari tehnik-tehnik Perls.

Proses Modeling yang dilakukan oleh Richard Bandler dan John Grinder menggunakan presupposition yang berisi prinsip-prinsip pragmatis yang dipikirkan dan dirasakan oleh sang Mentor, yang mempunyai manfaat yang tak ternilai untuk membantu mereka menemukan kunci-kunci pembuka pintu gerbang sumber dayanya sendiri.

Presupposition tersebut dimanfaatkan sebagai instrumen untuk memahami dan mengenali sang Mentor dalam bersikap dan dalam memandang dunia, akan mempermudah kita menguasai dan mengambil benefit dari NLP, karena semua teknik NLP diderivasikan dari presupposition, seperti yang juga digunakan oleh Hall, yakni :

“Jika seseorang bisa melakukan sesuatu, maka siapa saja bisa belajar melakukannya”

 “Pengalaman seseorang itu mempunyai struktur.”

Jadi modelling adalah suatu teknik untuk mempelajari struktur pengalaman para model,  menemukan “code” nya, agar struktur itu bisa dipindahkan ke orang lainnya. Ketika Edward memotong-motong gambar film tersebut diatas, dimaksudkan untuk mengubah struktur itu menjadi “chunks” yang lebih kecil dan lebih detil.

Presupposition yang menarik untuk dipelajari dari orang-orang ekselen :

Peta Tidak Sama Dengan Wilayah

Peta Tidak Sama Dengan Wilayah, atau Map is not the territory adalah presupposition dasar dalam memahami dan menjalankan tools serta terapi-terapi dalam NLP ( Neuro Linguistic Programming ). Tanpa pemahaman presupposisi ini dengan benar, niscaya tidak bisa menerapkan NLP dalam kehidupan kita.

Terjadinya gap antara peta dan wilayah ini dikarenakan ada kekurang akuratan dalam memahami realitas ataupun stimulus yang masuk kedalam (peta) pikiran seseorang. Ketika seseorang berfikir, yang tergambar dalam otaknya, bukan realitas sebenarnya, melainkan gambar yang ada di peta mentalnya. Atau bisa disebut , pikiran termanipulasi oleh peta mental kita ( lihat bab1 subbab  : Terjadinya Inside Out Conflict)

Orang  mempunyai segala sumber ( dalam diri mereka sendiri) yang mereka butuhkan.

Sumber yang dimaksud disini adalah : skill, kondisi, kualitas serta atribut yang dimiliki oleh seseorang, misalnya hasrat yang besar, keberanian dan kepercayaan diri, impian ataupun obsesi hidup.

Walaupun bukan berarti setiap orang bisa mendapatkan apa saja yang diinginkan, tetapi pengalaman hidup seseorang – persepsi, respon dan tindakan – membentuk landasan mental dan bahkan sumber-sumber fisik kita, yang jauh lebih penting.

Jika seseorang bisa melakukan sesuatu, orang lain bisa belajar untuk melakukannya.

Fakta menunjukkan bahwa pengalaman seseorang  mempunyai struktur yang berujud peta mental, dimana peta mental ini nanti akan menghasilkan produk mental yang berupa respon dalam menjawab sejumlah masalah dan tantangan yang dihadapi. Bahkan kitapun dapat memanfaatkan peta mental orang lain untuk kita jadikan model.

Presupposition pengusaha bengkel diatas menunjukkan sebuah produk mental dari pengalamannya sendiri sekaligus menggunakan model pengalaman orang lain (mantan bossnya) yang kemudian menghasilkan kesuksesan hidup bagi dirinya sendiri. Banyak orang beranggapan bahwa kesusuksesan itu adalah semacam anugerah khusus atau hak bagi orang yang mempunyai talenta tertentu. Padahal kenyataannya, bahwa setiap orang mempunyai talenta tertentu, dimana setiap talenta mempunyai struktur dan urutan perilaku. Masalahnya adalah bagaimana caranya memanfaatkan semua pengalaman-pengalaman itu. Selain itu talenta orang lainpun ternyata dengan mudah bisa dipelajari. Misalnya karisma seseorang ketika berbicara di depan publik. Intonasi, caranya mengambil jeda, pandangan mata ketika menyapu para hadirin maupun trik-trik yang dilakukan.

Setiap orang sudah berfungsi dengan sempurna

Banyak orang berfikir, jika tidak bisa melakukan sesuatu yang diinginkan, itu pertanda ketidakmampuan, kekurangan, atau cacat. NLP beranggapan, taka da seorangpun di dunia ini yang tidak mampu, kurang atau cacat atau bahkan sial. Setiap orang itu tercipta dengan sempurna dan berfungsi dengan sempurna. Jika seseorang melakukan kesalahan ataupun bahkan tersesat mengikuti petunjuk arah, NLP justru menganggap dia telah melakukan secara sempurna dalam hal menemukan jalur yang berbeda ( dari yang diikuti oleh orang pada umumnya). Perbedaan cara berfikir ini diperlukan untuk menguji strategi dan keyakinan agar nantinya menjadi lebih efektif. Penilaian diri yang positip, dalam NLP, dipegang sebagai hal yang konstan bersama pembedaan antara orang dan yang dilakukannya.

Orang yang paling fleksible yang akan mempunyai kesempatan terbanyak untuk meraih apa yang diinginkan

Sikap fleksibel akan memberi kita mempunyai lebih banyak pilihan. Solusi yang kita miliki untuk suatu masalah mungkin memang tepat dalam konteks, lingkungan atau budaya tertentu, tetapi tidak selalu efektif dalam situasi lainnya. Padahal situasi selalu berubah. Kita tidak bisa lagi sekedar mengulang apa yang sudah kita lakukan sebelumnya. Semakin kompleks sistemnya, akan semakin banyak fleksibilitas yang diperlukan.

Jika terus melakukan apa yang yang kita lakukan sekarang, maka kita akan mendapat hasil yang sama dengan yang kita dapatkan sekarang.

Untuk mencapai kesuksesan tidak hanya diperlukan sikap persistence, ketekunan, keuletan, ketelatenan dan kemauan untuk mengulangi lagi, melainkan juga berusaha membuat variasi dalam melakukan tindakan terhadap kegagalan sampai mendapatkan metode yang cocok. Ibaratnya memasukkan mur ke dalam baut, sekali tidak cocok ukurannya, walaupun dipaksakan sekeras apapun tetap tidak akan berhasil.

Banyak orang yang sudah merasa berusaha sekeras-kerasnya. Mereka sudah hampir putus asa, semua sumber daya telah dikerahkan sepenuhnya, tetapi tidak didapatkan hasil yang memadai. Jangankan melakukan lompatan, untuk mendapatkan hasil yang lebih bernilai dibanding dari sumber yang dikerahkanpun terasa sulit. Maka dalam hal ini yang harus dievaluasi adalah, apakah strategi, metode yang diterapkan sudah tepat. Atau bahkan pendekatan, pola pikir dan paradigmanya yang dipakai untuk menilai masalah, barangkali yang harus diubah. Albert Einstein pernah berkata, ”Hanya orang gila yang menginginkan perubahan, tetapi setiap hari ia melakukan hal yang sama”.

Tidak ada hal yang dianggap sebagai kegagalan, melainkan hanya menemukan umpan balik (feedback)  dan catatan identifikasi masalah.

Sebenarnya manusia tidak mempunyai konsep kegagalan. Kegagalan hanya bisa terjadi jika seseorang enggan untuk mengalami ketidaknyamanan akibat ketidaksuksesan yang dialaminya pada masa yang lalu, yang berakibat tidak mau mengulangi lagi.

Sepanjang orang berani mengulang lagi kegagalannya, sambil belajar dari kesalahan – untuk tidak terperosok pada lobang yang sama – maka kegagalan itu justru akan menjadi umpan balik, sebagaimana yang dialami oleh Thomas Alfa Edison. Semakin bayak mengalami ketidaksuksesaan, akan semakin banyak memiliki identifikasi masalah..

Orang yang mempunyai sikap positip terhadap sejumlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya akan terdorong untuk melakukan tindakan-tindakan yang tepat untuk belajar dan memperbaiki kesalahan. Maka dalam hal ini justru kegagalan yang dialaminya akan menjadi umpan balik yang sangat berharga.

Tidak terjadi kesalahan, melainkan menemukan versi yang berbeda dari yang secara umum digunakan

Seseorang yang tidak mau terjebak kemacetan, maka ia berusaha berbelok kekanan ataupun ke kekiri ketika terliha ada jalan pintas. Para penemu seringkali secara tidak sengaja mendapatkan penemuannya justru ketika berani mencoba sesuatu yang tidak lazim dilakukan.

Para pioneer perubahan pada umumnya gagasan-gagasan hebatnya yang bisa memacu transformasi ditentang oleh masyarakat di lingkungannya.

Jika seseorang bisa melakukan sesuatu, orang lain bisa belajar untuk melakukannya.

Fakta menunjukkan bahwa pengalaman seseorang  mempunyai struktur yang berujud peta mental, dimana peta mental ini nanti akan menghasilkan produk mental yang berupa respon dalam menjawab sejumlah masalah dan tantangan yang dihadapi. Bahkan kitapun dapat memanfaatkan peta mental orang lain untuk kita jadikan model.

Presupposition pengusaha bengkel diatas menunjukkan sebuah produk mental dari pengalamannya sendiri sekaligus menggunakan model pengalaman orang lain (mantan bossnya) yang kemudian menghasilkan kesuksesan hidup bagi dirinya sendiri. Banyak orang beranggapan bahwa kesusuksesan itu adalah semacam anugerah khusus atau hak bagi orang yang mempunyai talenta tertentu. Padahal kenyataannya, bahwa setiap orang mempunyai talenta tertentu, dimana setiap talenta mempunyai struktur dan urutan perilaku. Masalahnya adalah bagaimana caranya memanfaatkan semua pengalaman-pengalaman itu. Selain itu talenta orang lainpun ternyata dengan mudah bisa dipelajari. Misalnya karisma seseorang ketika berbicara di depan publik. Intonasi, caranya mengambil jeda, pandangan mata ketika menyapu para hadirin maupun trik-trik yang dilakukan.

Orang tidak dapat tidak berkomunikasi

Setiap hari kita tidak mungkin untuk tidak melakukan komunikasi – sekurang-kurangnya komunikasi non verbal ataupun dengan diri kita sendiri. Bahkan kita bisa memengaruhi orang saat kita secara fisik tidak berada di tempat orang itu. Sebagai contoh, coba pikirkan tentang orang yang tidak menyenangkan ataupun kolega yang menyulitkan. Kemudian rasakan bagaimana perasaan dan pemikiran ini diam-diam memengaruhi perilaku kita terhadap mereka. Sebaliknya, coba rasakan dan pikirkan perasaan dan respon positip kita terhadap orang yang tidak ada di tempat.

Dalam beberapa proses ( khususnya yang kita proses melalui inderawi visual, auditorial dan kinestetikal) yang terungkap pada orang lain melalui mata, suara, sikap dan gerak tubuh kita, akan memengaruhi orang lain serta berdampak pada orang lain, bahkan saat kita memilih menghindari komunikasi langsung dengan kata-kata.

Makna dari komunikasi adalah respon yang kita dapatkan

Makna sejati dari pesan adalah apa yang pada kenyataannya diterima oleh pihak lain. Orang akan merespon atas apa yang mereka pikir Anda maksudkan. Itu bisa menjadi interpretasi akurat atas makna yang Anda maksudkan, mungkin juga tidak.

Kebanyakan komunikasi termuat dalam aspek non verbal, terutama komunikasi tentang, atau melibatkan, derajat tertentu dari perasaan atau emosi. Oleh karenanya jika ingin berkomunikasi secara efektif, kita harus terus menerus sadar akan respons pihak lain terhadap apa yang kita katakana (verbal maupun non verbal) dan menyesuaikan komunikasi kita – bukannya menganggap mereka akan otomatis memahami apa yang kita maksudkan agar mereka pahami.

Terdapat puluhan anggapan dasar-anggapan dasar (pre-supposition) dalam NLP yang bisa dijadikan “model pola pikir”. Tetapi dalam artikel ini hanya dikutip sebagian saja.

Modelling Memanfaatkan Neurological Levels (NLL).

Sebagaimana dijelaskan dalam bab sebelumnya bahwa NLL terdiri dari beberapa level, yang mengacu pada sistem proses pengalaman neurologis orang yang bersangkutan. Oleh karena dalam memodel sang Mentor disesuaikan level-level tersebut, yaitu sebagai berikut :

Level lingkungan : Mengobservasi bagaimana, kapan, dan dimana skill sang Mentor ditunjukkan. Peran seperti apa yang hendak diduplikasi. Jika ada kendala dalam konteks sang Model mengalami kesulitan, deskripsikan seperti apa adanya.

Level Perilaku : Temukan apa yang benar-benar dilakukan oleh sang Mentor saat ia berada di lingkungan spesifik seperti yang sudah di identifikasikan diatas. Sambil mengobservasi perilaku yang ditunjukkan, minta sang Mentor untuk mengingat-ingat apa yang ia lakukan atau ajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam atas apa yang terjadi.

Level Kapabilitas : Temukan proses pikiran yang melatarbelakangi perilaku itu sehingga sang Mentor bisa mendapatkan skill tersebut. Strategi-startegi yang digunakan. Tahap ini merupakan inti dari modelling.

Level Keyakinan : Temukan informasi tentang sesuatu yang memotivasi, ataupun yang menjadi passion sang Mentor, sehingga memiliki perilaku dan mendapatkan skill mereka. Dengan cara ini kita bisa mengerti bahwa apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang penting bagi mereka.

Level identitas : Temukan perasaan self sang Mentor dan bagaimana perasaan itu memengaruhi keyakinan dan juga nilai-nilai mereka. Dengan demikian kita bisa mengenali dan memahami apa yang memengaruhi perilaku serta proses pemikiran dan perasaan mereka.

Level Spiritual : Temukan keterhubungan perilaku sang Mentor dengan sesuatu dalam sistem yang lebih besar, lebih tinggi dan lebih agung, dimana mereka merasa sebagai bagiannya.

Tags: , , , , , , , ,

Simple Modelling, Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on January 29th, 2020 No Comments

Salah satu teknik dasar yang perlu dikuasai untuk bisa menjadi praktisi NLP ( Neuro Linguistic Programming) adalah teknik Modelling. Bahkan jika Anda belum bisa melakukan teknik ini, maka belum bisa dikatakan sebagai Praktisi NLP.



Dalam proses modelling kita perlu mencari tahu dan menggali bagaimana persisnya sang Model yang mempunyai suatu keunggulan tertentu dapat melakukan hal tersebut. Proses ini nampaknya sederhana namun dibutuhkan keuletan, ketelitian, kecermatan dan juga kesabaran.

Prinsip modeling adalah menyiapkan kondisi pikiran atau suasana mental kita sendiri dalam kondisi yang No Mind State. Artinya, saat melakukan modelling kita memerintahkan pikiran kita untuk tidak mengkritisi ataupun membandingkan apa saja informasi akan yang masuk ke pikiran bawah sadar.

Modelling bisa juga dimanfaatkan untuk mendesain kembali struktur internal seseorang, sesuai yang diinginkan. Dalam NLP, disebut sebagai inside moddeling atau Achoring. Dalam hal ini seseorang bisa mengganti model internalnya yang dianggap tidak bermanfaat, tidak sesuai keinginan, ataupun yang mensabotase, dengan model internalnya sendiri yang kaya sumber ataupun pengalaman sukses di masa lalu. (Bisa dibaca di artikel saya yang bertema Meta Anchoring).

Terdapat dua teknik modeling yang dapat kita gunakan untuk menduplikasi keunggulan seseorang, yaitu : Simple Modeling dan Complex Modeling, yang menggunakan Neuro Logical Levels.

Simple modelling

Dalam teknik ini, kita menduplikasi gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Role Model (orang yang ingin kita model), yang terjadi secara unconsciously. Dengan memperhatikan dan mengamati apa saja yang dilakukan oleh sang model dan mengizinkan pikiran bawah sadar kita menyerap semua yang kita amati dan observasi, kemudian mencoba untuk melakukan hal yang sama, maka kita dapat melakukan hal yang memiliki mirip dengan role model kita.

Sebagai contoh misalnya Anda ingin memodel kepiawaian berbicara seorang motivator, Anda tinggal merekam dengan HP, bahasa tubuh, narasi, diksi, intonasi, hingga joke-jokenya, kemudian Anda tiru secara berulang-ulang sendiri, maka Anda bisa memodel orang tersebut.

Inside Modelling dengan New Behaviour Generator (NBG)
NBG adalah strategi untuk menghasilkan perubahan dalam perilaku. Kita dapat menggunakannya untuk menghasilkan perilaku yang baru – sesuatu yang belum pernah kita lakukan sebelumnya – atau untuk membuat modifikasi dan mengubah perilaku yang sudah kita miliki, tetapi sekarang belum puas.

Proses ini memungkinkan kita untuk membangun representasi internal secara sistematis dalam sistem sensor utama dari perilaku spesifik yang kita inginkan. NBG bisa bekerja karena pikiran bawah sadar tidak bisa membedakan antara peristiwa nyata dengan visualisasi yang kita ciptakan.

Langkah pertama, menjadi Diri Sendiri
Mintalah Klien untuk memutar rekaman perilaku saat Klien Anda merasa tidak nyaman, bete dan miskin sumber, yang mengakibatkan terjadinya konflik. Misalnya di suatu tempat Klien Anda mendapatkan pelayanan yang tidak menyenangkan, sehingga mengganggu privilisnya, mengecewakan ataupun merugikannya, kemudian serta-merta ia marah-marah yang direspon oleh salah seseorang disitu yang justru membuat Ia semakin marah.

Kemudian identifikasikan perilaku baru yang Klien inginkan, kemudian bandingkan dari perilaku yang lama. Jelaskan pada diri Klien perilaku yang Klien inginkan itu, tanyakan pada diri sendiri, “Bagaimana performan saya waktu itu dan bagaimana ekspresi orang ketika melihat saya marah-marah?
Bagaimana seandainya waktu itu saya bersikap sebaliknya?

Langkah kedua, menjadi Sutradara
Carilah model yang bisa memerankan perilaku Klien yang baru sesuai yang Klien inginkan. Skenariokan dan mainkan model itu. Masukkan ia kedalam Time Line untuk mengalami seperti yang Klien alami, tetapi ia bersikap sebaliknya, seperti sangat penyabar, bertanya dan meminta penjelasan dahulu kenapa bisa terjadi kesalahan itu. Mencoba untuk mengerti bahwa itu bukanlah kesalahan pelaksana atau orang yang melayaninya. Seharusnya ia meminta bertemu dengan orang yang lebih punya otoritas, sehingga bisa dicarikan solusinya. Dan seterusnya.

Langkah ketiga, menjadi Model
Setelah Klien puas dengan “kinerja” Modelnya, saatnya Klien melangkah masuk ke dalam Time Line. Mintalah ia menvisualisasikan dalam imajinasinya, dan jalankan seolah-olah ia berada di sana, sekarang, mintalah ia melakukannya dengan sempurna. Saat ia melakukan peran itu, mintalah ia memperhatikan baik-baik perasaannya sendiri dan respons orang lain di sekitarnya yang melihatnya.

Jika ia merasa kurang puas, mintalah ia kembali pada langkah kedua. Mungkin ia perlu berganti model dengan orang yang lebih sesuai dengan profil idealnya. Begitu seterusnya.

(BERSAMBUNG)

Tags: , , ,

Berfikir dan Bertindak Efektif Dengan Neurological Levels (NLL), Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on January 21st, 2020 No Comments

Buku : Destined To Be A Leader diatas bisa di download di googlebook.com

( Sebelum membaca blog ini, ada baiknya blog saya sebelum ini yang berjudul “Peta Tidak Sama dengan Wilayah” dibaca ulang kembali)

Berfikir merupakan proses mental yang terkait dengan penciptaan gagasan. Berpikir memungkinkan seseorang untuk merepresentasikan dunia sebagai model dan memberikan perlakuan terhadapnya secara efektif sesuai dengan tujuan, rencana, dan keinginan.

Berpikir melibatkan manipulasi otak terhadap informasi, seperti saat kita membentuk konsep, terlibat dalam pemecahan masalah, melakukan penalaran, dan membuat keputusan.

Pengertian berfikir menurut Wikipedia pada aliniea pertama bersifat umum. Tetapi alinea kedua cukup menarik, karena ada kata “Manipulasi”. Berfikir melibatkan manipulasi otak.

Jika Anda baca dalam blog saya sebelumnya, maka Anda bisa memahami bahwa pikiran kita bisa memanipulasi, tetapi hati-hati, bisa juga termanipulasi.

Seperti apakah pikiran yang termanipulasi?

Pikiran Anda termanipulasi jika :

  • Gagasan-gagasan Anda tidak realistis
  • Kurang kaya sumber inspirasi, bahkan sering blank atau buntu
  • Akibatnya sering menghadapi hambatan dan kesulitan dalam mengambil keputusan
  • Tidak kreatif
  • Sulit berubah dan bertumbuh. Dari dulu cuman begitu-begitu aja
  • Tidak memiliki kemajuan yang berarti dalam mempelajari sesuatu

Robert Dilts yang dikenal sebagai Developer NLP ( Neuro Linguistic Programming ) menemukan isu yang bisa dimanfaatkan untuk menilai level berfikir Anda maupun orang lain, yang terdiri beberapa level, yang mengacu pada sistem proses pengalaman neurologis orang tersebut, yang disebut sebagai Neurological Levels (NLL).

Cara berfikir, perilaku dan sikap kita dipengaruhi oleh lingkungan, level-level keterampilan dan kapabilitas, nilai-nilai dan keyakinan, identitas yang berkaitan erat dengan misi hidup kita, dan peran yang kita jalankan, serta tujuan-tujuan dan visi-visi yang menuntun hidup kita selama ini.

NLL juga bisa dimanfaatkan untuk melakukan transformasi atau perubahan,  mengetahui dan menemukan cara terbaik dalam mentreatment diri sendiri maupun orang lain, serta untuk mengenali ataupun memetakan subyek yang akan kita ajak untuk berkomunikasi ataupun menjalin relationship.

Penggunaan NLL yang tepat juga bisa meningkatkan kejeniusan seseorang di dalam mengambil keputusan. Model ini sifatnya hierarkis dan meliputi enam level. Dengan NLL ini setiap orang bisa merasakan sendiri, apakah ia menggunakan manajemen pikiran ataupun skill tertentu dalam problem solvingnya. Bahkan apakah ia telah mencapai NLL tertinggi dalam problem solvingnya yaitu Level Spiritual. Karena hakekatnya NLL adalah gerak dan bekerjanya impuls dari jalur persarafan kita saat kita mengatasi suatu masalah yang dikendalikan oleh pusat kesadaran kita.

Satu hal yang juga penting untuk diketahui dalam mengaplikasi sistem kerja NLL, bahwa setiap tingkatan tidak berdiri sendiri, melainkan saling mempengaruhi, yang mana level yang lebih tinggi selalu mempengaruhi level-level di bawahnya. Begitu juga level-level dibawahnya-pun dapat mempengaruhi progres level-level diatasnya. Jika pada level bawah Anda tidak bisa bertindak efektif, maka ia akan memengaruhi efektifitas pada level berikutnya.

Jadi seperti permainan investasi. Apa yang Anda bayarkan pada saat ini memengaruhi hasil yang bisa Anda nikmati dikemudian hari. Oleh karena itu memastikan habit berfikir dan bertindak efektif sejak level paling bawah, adalah cara bijaksana untuk mendapatkan kesuksesan dan keberuntungan dimasa mendatang.

Level I Lingkungan (dimana, kapan dan bersama siapa Anda melakukan sesuatu); Level ini tentang lingkungan eksternal – termasuk di mana Anda berada, lingkungan fisik, orang yang saat ini bersama Anda, masyarakat dan budaya yang lebih luas – dan potensi-potensi masalah yang bisa terjadi pada diri Anda.

Jika pada level ini — lingkungan, kapan dan dimana kita beraktivitas sehari-hari kita bisa menciptakan dan mengembangkan  sumber daya yang dapat kita manfaatkan untuk mencapai tujuan kita, maka lingkungan itu efektif membentuk cara berfikir kita. Dengan mental positif kita dapat memilih perilaku dan sikap yang sesuai dengan waktu dan tempat dimana kita beraktivitas saat itu, tentunya kita perlu memilih lingkungan yang positif konstruktif pula untuk hidup kita.

Mudahnya, jika misalnya Anda ingin menjadi pebisnis sukses, maka masukilah komunitas pengusaha yang sukses. Tanpa terasa, lama kelamaan pola pikir dan tindakan Anda akan semakin efektif yang bisa membuat income Anda meningkat. Anda juga semakin aware untuk berinvestasi

Level II Perilaku (apa yang Anda katakan atau lakukan) ; Level ini terkait dengan apa yang Anda lakukan pada lingkungan – termasuk: cara berpikir, berbicara, mendengar, bereaksi, mengambil tindakan secara sadar, dengan harapan untuk mencapai sesuatu. Hal ini juga setara dengan apa yang orang tidak ingin lakukan. Misalnya, jika Anda menarik diri dari situasi tertentu pun sebenarnya Anda masih tetap memengaruhinya dengan satu atau lain hal.

Anda bisa secara aktif berpartisipasi dalam even-even ataupun pekerjaan dalam, serta bisa membantu melambungkan semangat di komunitas. Saat Anda jadi member, perilaku Anda akan membawa dampak baik atau buruk kepada para kolega dan berdampak pada suasana lingkungan tempat Anda beraktifitas. Begitu juga sebaliknya.

Oleh karena itu keikhlasan mengorbankan waktu di komunitas untuk kegiatan yang bisa meningkatkan skill dan pengetahuan berbisnis, bisa mengubah cara berfikir dan cara berperilaku Anda menjadi lebih efektif.

Level III Kapabilitas (bagaimana Anda melakukannya); Level ini terkait dengan skill, bakat, kemampuan, strategi dan sumber-sumber yang membimbing perilaku Anda dan membuat Anda bisa mengambil tindakan.

Level ini tentang bagaimana Anda melakukan sesuatu. Tentang skill dan proses yang membuat Anda tahu bahwa Anda menjalankan tugas atau melakukan sesuatu dengan cara tertentu. Saat Anda belajar sesuatu yang baru, misalnya menjual, bernegosiasi, presentasi bisnis, Anda tentunya memulai dari nol di level ini, lalu secara bertahap kapabilitasnya akan semakin baik sehingga mencapai poin tertinggi.

Semua pekerjaan itu pada awalnya Anda sering melakukan kesalahan ataupun tindakan yang tidak efektif. Tetapi lama kelamaan dikarenakan pengalaman berulang-ulang, ditambah dengan mengikuti pelatihan, skill Anda semakin meningkat, sehingga Anda tidak perlu berpikir lagi untuk melakukannya.

Oleh karena kapabilitas adalah hal-hal yang kita bisa Anda lakukan dengan andal, konstan, dan dengan cara berulang-ulang, sehingga tidak terasa seolah-olah, kapabilitas-kapabilitas dan  keahlian itu bisa kita dapatkan dengan cuma-cuma.

Kunci dari peningkatan secara terus menerus kapabilitas yang Anda miliki adalah dengan cara berfokus pada outcome yang sudah Anda tentukan. Fokus bukan berarti berfikir hanya pada satu hal, tetapi konsiten pada missi yang telah dibuat sehingga bisa terlaksana dengan sukses.

Semakin tinggi kapabilitas Anda otomatis akan memengaruhi cara berfikir Anda dan perilaku Anda. Anda tidak lagi membuang-buang waktu, karena Anda merasa waktu Anda menjadi sangat berharga dan Anda akan berfikir bahwa berkompromi dan berkolaborasi lebih baik dari pada berseteru.

Level IV Keyakinan dan Nilai-Nilai (apa yang penting bagi Anda); Apa yang kita nilai tinggi, dan kepercayaan yang kita yakini tentang hidup yang kita alami, akan sangat memengaruhi cara kita berpikir dan bertindak. Jika Anda merasa yakin dapat memimpin dengan baik, maka akan sangat mungkin memengaruhi kapabilitas Anda secara keseluruhan. Hal ini akan bisa dilihat orang lain karena perilaku Anda akan terwujud seperti apa yang Anda yakini saat itu.

Sebaliknya, jika Anda bisa mengembangkan skill dan membangun kepercayaan diri dalam suatu bidang, Anda akan terkejut sendiri karena keyakinan tentang kemampuan Anda itu sudah berubah. Sebaliknya seringkali kita memiliki keyakinan-keyakinan yang justru bisa menghambat atau membatasi diri kita. Keyakinan dan nilai-nilai umumnya beroperasi di luar alam pikiran sadar. Dari sinilah muncul bagaimana seseorang bisa begitu kuat mempertahankan pandangan-pandangan yang memengaruhi apa pun yang mereka, katakan dan lakukan.

Termasuk values yang Anda junjung tinggi dan apa yang Anda anggap penting itu bisa berakselerasi dalam perjalanan hidup. Setiap pengalaman yang Anda miliki dan setiap orang yang Anda temui akan – dalam kadar tertentu – membentuk keyakinan dan nilai-nilai Anda. Banyak organisasi telah menetapkan nilai-nilai yang mewakili apa yang mereka anggap penting. Jika ada ketidakcocokan antara nilai-nilai perusahaan dengan nilai-nilai yang dianut oleh para karyawannya, atau antara dua kolega dalam perusahaan, maka hal itu dapat berpotensi konflik.

Seringkali pula dijumpai, seseorang tidak selalu konsisten, yaitu dalam waktu bersamaan bisa memegang dua nilai-nilai yang bertentangan. Misalnya menjunjung tinggi kebebasan menentukan pendapat, namun kadang-kadang melakukan tindakan otoriter. Pertentangan ini bisa menimbulkan konflik internal yang membuat seseorang merasa terbelah di dua arah yang berbeda. Pemimpin yang berfikir efektif bisa melakukan kendali diri terhadap kecenderungan ini

Level V Identitas (siapa diri Anda) atau sering juga disebut sebagai karakter; Level ini melibatkan perasaan tentang siapa diri Anda – peran Anda dalam kehidupan – dan tentang siapa yang bukan diri Anda. Orang kadang-kadang bisa jatuh dalam jebakan perilaku membingungkan (apa yang mereka lakukan) dengan identitas (siapa mereka).

Level ini adalah tentang tujuan Anda dalam hidup. Salah satu cara Anda untuk bisa mengenal identitas Anda misalnya dalam konteks memimpin. Anda bisa bertanya pada diri sendiri, “Sebagai seorang pemimpin, siapakah diri saya?” atau “Pemimpin macam apa saya ini?”

Identitas Anda tercipta dari semua informasi dan pengaruh yang telah Anda pelajari dan padukan dalam sepanjang kehidupan Anda yang pada akhirnya membentuk diri Anda sendiri,  seperti yang Anda rasakan saat ini. Jika sesuatu sudah mencapai Level Identitas, biasanya bersifat permanen, misalnya ada pemimpin yang dikenal peduli, charity, punya trust dst. Hal itu disebabkan sudah menjadi identitas atau karakter orang itu, karena karakter hakekatnya sekumpulan penemuan atas identitas diri kita sepanjang hidup kita.

Dalam level ini cara berfikir seseorang biasanya sudah mantap dan tidak mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang terjadi di lingkungan.

Level VI Spiritualitas / Keterhubungan (tujuan lebih tinggi /kontribusi terhadap dunia); Kebanyakan orang merasa menjadi bagian atau terhubung dengan sesuatu sistem yang lebih besar, lebih tinggi dan lebih mulia dibanding diri mereka masing-masing. Maka dari itu, level ini terkait dengan tujuan besar Anda, bahkan hidup Anda sesudah mati, yang mensinspirasi cara berfikir, berperilaku dan perbuatan apa yang harus Anda berikan pada masyarakat dan dunia.

Para CEO berkelas dunia, ataupun ilmuwan top yang sudah mencapai level ini, biasanya justru mampu menghasilkan kinerja yang spektakuler, sehingga mendatangkan keberlimpahan kekayaan di bidangnya ataupun karya-karya mengagumkan sehingga meraih nobel dan lain-lain. Pada orang-orang biasa seperti kita, bisa juga merasakan bahwa berfikir dan bertindak pada level spiritual akan berakhir secara membahagiakan.

Pertanyaannya, bagaimana cara kita mengukur bahwa strategi berfikir kita semakin efektif?

Caranya mudah, pastikan bahwa dari waktu kewaktu, level neurologis Anda semakin meningkat menuju ke level yang tertinggi. Maka buatlah sebuah time line. Jika Anda merasa menghadapi kendala pada salah satu level yang membuat pikiran Anda tersabotase, sehingga tidak efektif, maka lakukan backtracking pada level itu. Temukan konfliknya seperti apa? Jika Anda berhasil mengatasinya, kembalilah ke level Anda yang sekarang.

Back Tracking adalah melakukan pemaknaan ulang atas konflik yang terjadi di masa lalu, dengan menghadirkan diri kita yang sekarang.

Misalkan Anda pernah mengalami konflik pada masa lalu, saat Anda masih berada pada level lingkungan, kemudian Anda sekarang hadir secara dissociated sebagai pribadi yang sudah pada level identitas. Buatlah time line. Kemudian mundurlah Anda ke tahun dimana Anda menghadapi konflik. Lalu visualkan seolah-olah Anda memberikan pertimbangan-pertimbangan ataupun saran untuk mengatasi konflik yang Anda alami pada masa itu.

Selamat mencoba.

Tags: ,

Peta Tidak Sama Dengan Wilayah, Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on January 20th, 2020 No Comments

Peta Tidak Sama Dengan Wilayah, Trainer Amir Faisal 08157698288

Peta Tidak Sama Dengan Wilayah, atau Map is not the territory adalah presupposition dasar dalam memahami dan menjalankan tools serta terapi-terapi dalam NLP ( Neuro Linguistic Programming ). Tanpa pemahaman presupposisi ini dengan benar, niscaya tidak bisa menerapkan NLP dalam kehidupan kita.

Ketika orang berfikir, otaknya akan memunculkan gambar atau visual tertentu – misal berfikir mau bepergian, segera muncul gambar kendaraan, jalanan macet, panasnya cuaca dan seterusnya. Gambar-gambar dalam pikiran akan disaring ( di filter) kemudian direspon sesuai dengan persepsi yang ada dalam peta mentalnya ( lihat gambar)

Ketika berfikir gulai kambing, maka yang muncul dalam pikiran bisa :

  • Seporsi gulai kambing yang membangkitkan selera, kemudian secara reflek orang itu melakukan respon mengambil smartphone, dan segera mencarinya di gofood, karena memang sudah waktunya makan siang.
  • Seporsi gulai kambing yang membangkitkan selera, kemudian secara reflek orang itu ingat nasihat dokter atas penyakit kolesterolnya yang tinggi, maka dia batalkan untuk menikmati hidangan itu.
  • Seporsi gulai kambing yang membangkitkan selera, kemudian secara reflek orang itu malah terinspirasi membuka usaha kuliner

Terjadinya gap antara peta dan wilayah ini dikarenakan ada kekurang akuratan dalam memahami realitas ataupun stimulus yang masuk kedalam (peta) pikiran seseorang. Ketika seseorang berfikir, yang tergambar dalam otaknya, bukan realitas sebenarnya, melainkan gambar yang ada di peta mentalnya. Atau bisa disebut , pikiran termanipulasi oleh peta mental kita.

Jadi, seseorang dikatakan pikirannya termanipulasi, jika ia memahami sesuatu sesuai dengan realitas yang ada dalam pikiran, dan bukan kejadian atau realitas yang terjadi secara nyata. Jika realitas dalam pikiran disebut “peta” dan realitas nyata disebut “wilayah”, maka peta tersebut tidak bisa menggambarkan atau menterjemahkan secara akurat realitas wilayah di dunia nyatanya.

Sebagaimana sebuah peta. Dengan menggambar sebuah peta, kita akan memahami dunia dengan lebih mudah. Misalkan kita ingin tahu bentuk wilayah dari negeri kita, maka akan lebih mudah jika kita menggunakan sebuah peta. Tapi yang namanya peta tetaplah peta. Dia bukanlah wilayah Indonesia sebenarnya. Peta Indonesia tidak sama dengan wilayah Indonesia.

Begitu juga dengan Realitas yang kita hadapi. Apa yang terjadi di luar diri kita tidak sama dengan apa yang muncul dalam pikiran kita.

Simaklah ilustrasi berikut ini :

Pada suatu siang, saat memberikan kuliah, Prof Alfred Korzybski mengeluarkan sebungkus biskuit dan membagikannya kepada para mahasiswanya. Dengan senang hati para mahasiswa segera mengambil makanan itu dan mengunyahnya dengan lahap.

Sang Profesor terus menyobek bungkus biskuit bagian berwarnanya, sehingga kelihatan kertas bagian putihnya. Disitu terbaca dengan jelas sebuah tulisan, ”BISKUIT UNTUK ANJING”. Maka serta merta beberapa mahasiswa merasa mual-mual perutnya dan mereka berhamburan keluar, sambil meletakkan kedua telapak tangannya dibawah mulutnya, kemudian muntah-muntah di toilet.

Mahasiswa itu telah merespon tulisan itu sesuai dengan gambar yang muncul dalam pikirannya, anjing yang sedang menjilat-jilat biskuit. Padahal realitas nyatanya, bahan dan proses pembuatan biskuit untuk anjing dan manusia nyaris tidak ada bedanya. Dan seandainya tidak diperlihatkan tulisan itu nyaris tidak akan ada yang bermasalah.

Dari kasus biskuit diatas, kita bisa membayangkan betapa peta mental yang telah terbentuk di bawah sadar, menjadi trigger semua respon kita.

Mengapa tidak berani bermimpi?

Perhatikan kisah berikut ini :

Suatu hari ada seorang petani menemukan sarang burung elang yang berisi sebutir telur. Dengan hati-hati telur itu dibawa itu pulang. Sesampai dirumah diletakkannya ditengah-tengah telur ayam yang sedang dierami induknya. Beberapa minggu kemudian menetaslah semua telur itu termasuk telor elang. Syahdan anak elang itu hidup bersama-sama dengan anak-anak ayam. Induk ayam sama sekali tidak bisa membedakan antara anaknya sendiri dengan anak musuhnya. Maka anak elang itu dipeliharanya seperti anaknya sendiri dalam habitat ayam. Setelah remaja, saat anak elang itu bermain-main, diangkasa terlihat seekor elang  sedang terbang kesana kemari. Meluncur keangkasa, menembus awan. Kemudian menukik lagi dan seterusnya. Maka dengan hati takjub, anak elang tadi berkata pada dirinya sendiri, “Hebat, benar-benar luar biasa burung itu !! Seandainya aku bisa menjadi dia, alangkah bahagianya. Tetapi, sayangnya aku hanya ditakdirkan menjadi seekor ayam .  .  .”

Cerita diatas tentunya hanya sebuah metafora. Kejadiannya tidak pernah ada, tetapi peristiwanya sebagian dari kita mungkin pernah mengalaminya. Anak elang itu telah menganggap dirinya bukanlah seekor elang yang hidupnya di angkasa raya, melainkan seekor ayam yang habitatnya di bumi. Tragisnya, semua bakatnya yang hebat menjadi terpasung. Ini adalah sebuah contoh yang mudah untuk menjelaskan bagaimana terbentuknya program konsep diri, siapa aku?

Marshall Silvers menciptakan hukum-hukum pikiran. Salah satunya adalah : Setiap orang hanya akan menjadi seperti persepsinya terhadap dirinya.

Berdasar hukum ini, jika Anda tidak berani mengimpikan diri Anda sendiri akan menjadi apa di masa mendatang, maka nasib Anda akan seperti si anak elang yang malang itu.

Kenapa demikian?

Karena belief dalam map atau peta mental anak elang itu telah terbangun sedemikian rupa, sehingga menciptakan keyakinan bahwa dirinya adalah anak ayam. Maka akibatnya dia telah kehilangan kehidupan dia yang seharusnya luarbiasa, yaitu mampu terbang dengan gagah perkasa berratus kilometer dari tempat tinggalnya, menjadi hanya beberapa meter saja, serta tidak mengetahui bahwa bumi itu sesungguhnya indah dan luas tiada tara.

Treatment dan terapi

Cara menterapinya dengan menginterupsi kedalam peta mentalnya untuk melakukan pemaknaan ulang atau memrogram ulang ( Map reprogramming).

Tekniknya sangat banyak, tetapi prinsipnya melakukan collapsing anchor yang membentuk peta mental, kemudian menginjeksi presupposisi-presupposisi ( pra anggapan) baru memodel orang-orang ekselen, yang telah terbukti sukses dalam kehidupannya.

Tags: , , ,

Memanfaatkan Meta Anchoring untuk Mencapai Puncak Keunggulan Manusia, Trainer Amir Faisal 08157698288.

blog on January 14th, 2020 1 Comment

NLP ( Neuro Linguistic Programming ) pada awalnya adalah modelling. Bahkan banyak terapi dalam NLP, misalnya teknik anchoring yang menggunakan prinsip modelling, yaitu memodel pengalaman kesuksesan kita sendiri di masa lalu, untuk distop dan dihadirkan pada saat kita hendak melakukan tindakan yang memerlukan motivasi ataupun dukungan kepercayaan diri.

Pertanyaannya, bagaimana jika kita merasa tidak memiliki prestasi dimasa lalu. Atau model yang hendak kita anchorkan di masa lalu itu tidak cukup kuat untuk menghadapi tantangan pada saat ini?

Untuk itu bisa kita gunakan Meta Anchoring, yaitu pengalaman religius kita sendiri dengan Tuhan yang setiap orang pasti punya, termasuk mereka yang tidak mengakui adanya Tuhan sekalipun. Penelitian Dean Hammer membuktikan bahwa di thalamus otak setiap manusia terdapat memori itu.

Setiap orang pernah mengalami kejadian supranatural, keajaiban atau miracle atau apapun mereka menamainya, dan orang memiliki keyakinan dan ekspektasi bahwa kejadian itu akan bisa berulang, terutama saat menghadapi tantangan yang cukup berat atau masalah yang dengan cara normal rasanya sulit untuk bisa diatasi.

Bagaimana konsep meta anchoring dalam pikiran dan perasaan kita itu?

Manusia sesungguhnya makhluk yang paling istimewa di muka bumi ini. Coba visualkan, matahari yang besarnya ratusan ribu kali bumi saja jika dibandingkan dengan gugusan galaxi, ukurannya tidak lebih besar dari setitik debu – dapat dibayangkan betapa maha mikronnya manusia jika dibandingkan dengan galaxi – padahal ada milyaran galaksi di alam semesta. Tetapi mahluk yang super mikro ini mampu merusak dan meruntuhkan sistem alam semesta yang sangat besar.

Meskipun manusia secara fisik amat sangat kecil, tetapi oleh  Tuhan Allah SWT diberikan kedudukan yang paling tinggi. Uniknya manusia bisa melakukan tindakan-tindakan luhur yang sanggup menggetarkan syaraf kekaguman kita – Besarnya pengikut tokoh-tokoh itu merupakan ukuran nyata dari pengaruh yang mereka miliki. Namun demikian kita juga mempunyai sejarah kelam yang diakibatkan oleh ulah manusia.

Al-Ghazali mengatakan bahwa pada awalnya Tuhan menciptakan manusia dalam kondisi yang disebut taswiyah (kondisi cocok untuk menerima ruh) maka barulah Tuhan Meniupkan ruh kedalamnya.

Pada tahap ini kondisinya disebut sebagai Tafidhu ( keadaan resam tubuh yang telah rela menerima Rahmat Allah sehingga menjadi kepribadian tertentu atau dalam bahasa psikologi acceptance ). Peniupan ruh ini sekaligus sebagai pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya, dimana ruh itu nanti yang akan menuntun sang jasad supaya senantiasa pada jalan yang benar sesuai dengan tujuan penciptaan.

Ketika ruh yang berada dalam tubuh itu telah lahir ke dunia, ia berupaya mencari pengetahuan tentang Tuhannya dan tidak akan pernah merasa tenteram  apabila, atau karena sesuatu hal tidak memperoleh kesempatan untuk mendapatkannya.

Semacam “titian karier” di dalam dunia yang fana ini. Dan ini merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman empiris dan pengetahuan tentang bagaimana Tuhan mengatur tatanan kehidupan dari semua ciptaanNya, termasuk human being kita.

Kerinduan dan proses pencarian untuk menemukan kembali suasana perjumpaan dengan sang Pencipta merupakan sebuah petualangan yang melibatkan curahan pikiran, perasaan dan jiwa. Karena di dalam ruh itu itu sudah terpateri namaNya sejak sebelum ditiupkan, disertai dengan pernyataan masing-masing ruh itu untuk senantiasa mengabdi kepadaNya.

Selain dari pada itu perjalanan panjang di dunia ini sekaligus merupakan perjuangan ruh itu untuk bisa kembali kepadaNya – disamping memenuhi kodratnya untuk melakukan tugas Ketuhanan di dunia – karena keadaan yang paling menenteramkan bagi ruh itu hakekatnya ketika berada didekatNya, sebagaimana tempat yang paling nyaman bagi bayi adalah dalam dekapan ibunya.

Beberapa presupposition yang bisa diterapkan dalam meta anchoring :

Kebahagiaan itu bersumber dari dalam diri kita

Kebahagiaan  adalah sebuah subyek. Dia tidak memerlukan sebab, melainkan justru menjadi sebab bagi perasaan-perasaan yang lain. Kebahagiaan  sudah ada dan telah bersemayam dalam hati kita. Kebahagiaan telah dianugerahkan oleh Tuhan sejak kita lahir yang dibawa oleh ruh kita.

Para ahli tasawuf mengatakan bahwa ruh manusia bisa merasakan dan berfikir. Karena ruh itu pula yang mempunyai kekuatan untuk mencintai Tuhannya, mencari pengetahuan tentangNya dan berusaha untuk selalu mendekatiNya. Oleh karenanya jika ingin merasakan kebahagiaan, maka sebenarnya kita tinggal mengambil begitu saja seberapa banyak yang kita butuhkan. Misal, ketika sedang membaca buku ini berbicaralah dengan diri Anda sendiri – “Ya Tuhan betapa beruntungnya aku ini, Engkau karunia aku otak yang cerdas dan bisa merasakan nikmatnya belajar” – niscaya Anda akan merasakan arti kebahagiaan.

Jika kebahagiaan ibarat danau yang luasnya tak bertepi, maka rasa syukur adalah gayungnya.

Sebaliknya ketidakbahagiaan atau kekurangbahagiaan diakibatkan karena kita membuat persepsi dalam diri, bahwa ia berada di luar diri kita.

Tujuan hidup kita adalah mencari kebahagiaan disisi Tuhan Allah SWT

Jiwa manusia berasal dari Tuhan dengan begitu pasti ia akan selalu mencari jalan untuk kembali kepadaNya. Peristiwa dan proses sebelum ruh dihembuskan kedalam rahim ibu  menunjukkan bahwa setiap manusia sebenarnya pernah dipertemukan dengan Dzat Yang Maha Rahman dan Rahim itu.

Peristiwa itu telah terekam begitu kuatnya kedalam sel dan DNA manusia. Oleh karenanya tidaklah mengherankan apabila sesudah bayi itu lahir ke dunia dan menjadi manusia utuh dengan kecerdasan intelektual dan emosinya, nalurinya akan mendorong untuk mencari cinta pertamanya itu, bagaikan mencari kekasih yang telah bertahun-tahun lamanya terpisah, ada semacam kerinduan untuk bertemu kembali dan  mendekat serta sesering mungkin bercakap-cakap denganNYA dan jikalau tidak terpenuhi, sudah pasti jiwanya akan menderita.

Ada semacam hukum tarik menarik antara jasad kita yang bersifat materi dengan ruh kita yang selalu ingin berdekatan dengan Tuhan, dari mana dia berasal. Jika terpenuhi ia akan merasa bahagia, sebaliknya kalau dipisahkan atau dijauhkan ia akan menderita sakit.

Mengingat, kebahagiaan itu sifatnya rohaniah – bukan jasmaniah sebagaimana seringkali dipahami secara salah – maka ia tergantung dari sejauh mana jasmani kita bersedia memenuhi tuntutan jiwa Anda itu.

Fitrah jiwa manusia senantiasa ingin berdekatan dengan Tuhan yang menjadi visinya dan bukan menjauhinya, kebahagiaan itu  sudah bersemayam dalam diri tiap insan. Jika ingin menikmati rasa bahagia dalam hidup ini, tinggal kembali kepada fitrahnya, yaitu dekat dengan sang Maha Pencipta.

Orang-orang yang jauh dari Tuhan akan merasakan sesuatu yang kosong dalam hidupnya, merupakan bukti adanya jiwa manusia merupakan realitas yang tidak terelakkan lagi. Maka mereka merasa teralienasinya terhadap dirinya sendiri, orang-orang sekelilingnya maupun terhadap Tuhannya

Kebenaran mutlak atau yang “benar-benar benar” hanya bisa diakui oleh hati nurani.

Terdapat empat tingkatan kebenaran :

Tingkat kebenaran yang pertama adalah persepsi. Persepsi hanya didasarkan pada praduga, nampaknya, kedengarannya. Rel kereta api semakin jauh akan nampak semakin berimpit. Bulan purnama nampak berjalan menembus awan.  Pesawat nampak seperti berhenti di ketinggian langit.

Kita tidak bisa secara persis membedakan suara ban truk trailer yang pecah dengan ledakan bom yang low explosive. Ketika mendengar issue negatip tentang seseorang, kemungkinan kebenarannya masih setengah, mungkin betul mungkin salah dan seterusnya. Persepsi baru diketahui benar atau salah sesudah dilakukan pengamatan dengan seksama atau melakukan penelitian.

Tingkat yang kedua adalah kebenaran intelektual yang didasarkan pada kinerja otak cortex. Kebenaran pada tingkat ini sudah lebih masuk akal dibanding yang pertama, karena sudah menggunakan pengamatan dan penelitian baik empiris, melakukan konfirmasi ataupun menggunakan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya.

Tetapi kebenaran ini masih terbatas, karena penarikan kesimpulannya masih tergantung kepada asumsi-asumsi, batasan-batasan, aksioma-aksioma ataupun hukum-hukum yang dibuat sebelumnya. Selain itu hasilnya, apakah “benar-benar benar” atau dibenar-benarkan (pembenaran), masih mengandung dua kemungkinan. Misalnya, konfirmasi pernyataan politik dari sumber terpercaya terkadang sulit dipercaya. Para peneliti dalam membuat report, yang bersangkutan kadang-kadang masih meragukan beberapa hal.

Kebenaran tingkat ketiga adalah kebenaran berdasarkan rasa. “Perasaan tidak mungkin tidak jujur”. Tetapi perasaan terkadang memihak, tidak fair, mudah dipengaruhi, terpengaruh oleh situasi dan kondisi.

Tingkat kebenaran yang keempat adalah kebenaran berdasarkan hati nurani. Sebagai contoh, pada saat bertengkar, kita berusaha membela dan membenarkan diri mati-matian sekaligus mempersalahkan pihak lawan. Tetapi pada saat itu sekilas sempat terbersit di pikiran kita, “Dia ada benarnya juga ya ?“ “Dalam beberapa hal saya ada salahnya juga !”

Oleh sebab itu, kebenaran ini walaupun terkadang sifatnya inspiratif, berdasarkan bisikan suara hati paling dalam, tetapi karena sangat tulus dan apabila yang bersangkutan mengalami situasi yang yang benar-benar flow dan fullenlightenment –  maka yang bersangkutan akan mendapat semacam miracle, berupa keyakinan yang “benar-benar benar.”

Sebagai contoh, Murakami ketika sudah merasa mencapai batas akhir yang paling mungkin dilakukan sebagai peneliti serta sudah menggunakan peralatan yang paling mutakhir, tetapi tetap saja belum menemukan faktor yang paling dominan terhadap gen pembawa sifat, maka dia mengatakan,

Apa yang dilakukannya sebagai ilmuwan telah mencapai titik optimalnya. Dan dia telah memasuki wilayah yang tidak mungkin dijangkaunya lagi, karena berada pada dimensi yang berbeda. Dia hanya mengatakannya bahwa itu berasal dari sesuatu yang Agung.

Inilah pengakuan jujur yang keluar dari hati nurani seorang ilmuwan tentang realitas dan kebenaran Allah SWT dari seorang ilmuwan yang jujur dan rendah hati.

Tujuan ilmu pengetahuan adalah memperpendek jarak antara keterbatasan ilmu kita dengan ketidakterbatasan ilmu Tuhan

Ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang bebas nilai, tetapi ia punya tujuan, yaitu sebagai upaya untuk mendekati sumber dari segala sumber pengetahuan, sumber dari segala sumber kebenaran dan sumber dari segala sumber cahaya kehidupan.

Al-Ghazali mengatakan bahwa suatu ilmu layak dianggap sebagai ilmu pengetahuan apabila bisa mendekatkan atau memperpendek jarak antara keterbatasan ilmu yang dimiliki oleh manusia dengan ilmu Allah yang tidak terbatas, sedangkan ilmu yang tidak berfungsi mendekatkan kita kepadanya hanya menduduki tempat sebagai ilmu alat.

Ilmu alat hanya berkenaan dengan cara hidup, sedangkan hakekat ilmu pengetahuan adalah menemukan tujuan hidup, karena salah satu nama Allah adalah Al’Alim ( Yang Maha Mengetahui) dan salah satu sifat wajibNya adalah ‘Ilm (Maha Menguasai Segala Ilmu Pengetahuan).

Kita didesain secara sempurna untuk menjadi wakil Tuhan di bumi, tidak mungkin terjadi kegagalan jika tugas itu dilakukan sesuai dengan desainnya.

Terdapat  dua  anggapan  ekstrim  mengenai  eksistensi  manusia  di dunia. Ekstrim  pertama  mengatakan  bahwa, manusia  hidup  di dunia  ini  dalam keadaan  terpaksa  dan berada di tempat  yang tidak dikehendakinya.  Maka anggapan  dengan  ekstrim  ini – selama  berada  di  dunia – selalu  berupaya  untuk  mengurangi  sebanyak  mungkin penderitaan  yang  harus dialaminya – semacam away from – menghindari  masalah,  kesulitan,  rasa lapar,  rasa sakit,  rasa kantuk  dan  sebagainya.

Sedangkan  ekstrim  kedua beranggapan bahwa  keberadaan manusia  di bumi ini memang sudah pada tempatnya. Atau  memang  sudah  seharusnya  terjadi  demikian. Sejak awal manusia memang sudah dirancang untuk menjadi “wakil” Tuhan di muka bumi. Bertindak atas dan untuk namaNya. Pembuktian oleh para ahli biokimia mengatakan bahwa hampir semua unsur yang ada di alam semesta ini ada dalam tubuh manusia. Begitu juga hukum-hukum fisika yang terjadi di alam semesta juga terjadi pada manusia.

Anggapan dasar dari ekstrim kedua  akan menciptakan sikap tanggung jawab dan keberanian untuk mengatasi masalah –bukannya menghindari masalah – serta memunculkan kreatifitas yang luar biasa untuk menundukkan alam. Kedudukan manusia lebih penting dibandingkan alam semesta yang sengaja diciptakan dalam rangka rencana besar Tuhan untuk menciptakan manusia. Satu sisi, manusia adalah  wakil  Tuhan di bumi yang diberi tugas mengelola kehidupan di dunia, Namun kedudukannya terhadap Tuhan tetap sebagai seorang hamba.

Hakekatnya tidak ada dikotomi antara tugas Ketuhanan dengan tugas kemanusiaan. Tugas Ketuhanan dengan tugas di pemerintahan, di bidang bisnis, politik, hukum, sosial, budaya, militer dan pekerjaan sehari-hari lainnya.

Kegagalan dalam hubungan kemanusian sebagian besar karena tidak dipahaminya anggapan ini dengan baik. Berfikir secara dikotomis. Begitu melakukan tugas-tugas sehari-hari, tiba-tiba ia merasa bahwa apa yang ia lakukan di dunia ini tidak ada hubungannya dengan Tuhan,

Mereka merasa menjadi manusia bebas, mengaku diciptakan oleh Tuhan tetapi tidak mau dipelihara oleh, serta diatur olehNya. Tuhan hanya diberi hak untuk mengatur masalah akhirat, sedangkan apa saja yang dia lakukan di dunia sepenuhnya merupakan haknya pribadi.

Tuhan juga telah memberikan semacam buku petunjuk  (guidance book) berupa kitab suci untuk menjalankan kehidupan di dunia ini. Tidak ada kekeliruan terhadap rancangan Tuhan maupun dalam membuat buku petunjuknya. Sepanjang kehidupan dijalankan sesuai dengan buku petunjuk, kegagalan merupakan kemustahilan, sebagaimana menjalankan mobil Toyota tentu harus dengan buku petunjuk menjalankan dan perawatan mobil yang dikeluarkan oleh perusahaan itu.

Kita menjadi besar karena berfikir besar

Presupposisi diatas menciptakan presupposisi baru, yaitu Tuhan sebenarnya berkehendak agar kita menjadi manusia besar, tetapi seringkali kita sendirilah yang menganggap diri kita kecil, lemah, tidak berdaya dan sebagainya. Jika derajad kita bisa dibuat skala dari 0 sampai 9, berapa angka yang Anda pilih untuk menunjukkan kedudukan atau martabat Anda sendiri ?

Jika Anda memilih angka 9, berarti Anda telah menemukan visi Anda sesuai yang dimaksudkan oleh Tuhan. Tetapi jika masih terdapat keraguan tentangnya, maka dalam diri Anda masih terdapat anggapan negatip tentang maksud dan tujuan Tuhan menciptakan Anda.

Orang yang merasa diri martabatnya tinggi akan berperilaku sepantas orang-orang mulia, sebaliknya orang yang merasa martabatnya rendah akan berperilaku seperti layaknya orang rendahan. Pola pikir ini akan menarik perilaku dan perilaku akan menciptakan habit. Seseorang lama kelamaan akan benar-benar menjadi mulia bila selalu berperilaku terus menerus sebagaimana layaknya orang-orang mulia.

Orang-orang mulia adalah manusia yang tidak suka mempermasalahkan (dalam artian negatip) hal-hal yang kecil, berdebat,  cekcok  atau bertengkar hanya menyangkut perkara yang sepele. Mereka biasanya pemaaf, toleran, karena tidak ingin membuang waktunya kepada hal-hal yang dirasa manfaatnya kecil agar bisa lebih fokus pada hal-hal yang manfaatnya lebih besar bagi kemanusiaan.

Karena hasil akhir hanya bisa diprediksi, maka potensi kita jadi tidak terbatas.

Secara maksimal, apa yang namanya visi, impian dan outcome hanya berbentuk prediksi. Realitasnya akan tetap menjadi misteri. Bisa saja seseorang memiliki impian, sepuluh tahun lagi akan sanggup membeli sebuah pulau, tetapi ternyata  baru setahun usahanya bangkrut, menderita sakit dan seterusnya, tetapi sebaliknya ada yang impiannya tercapai jauh lebih cepat dari prediksinya. Itulah yang dimaksud sebagai misteri takdir.

Seandainya takdir tidak ada dan semua yang kita prediksikan pasti tercapai atau sebaliknya kita bisa melihat dengan pasti bahwa semua rencana kita akan gagal, maka manusia justru akan mati lemas, kehilangan energi. Sebab untuk apa lagi kita mengerahkan potensi, kreatifitas dan berjuang mati-matian, kalau hasil akhirnya sudah jelas.

Jadi takdir bukanlah tindakan kesewenang-wenangan Tuhan, melainkan sebuah tantangan yang mengandung misteri yang mengasyikkan ( seperti menebak teka-teki ) dan ujian keberanian menghadapi hidup.

Tuhan telah berfirman, bahwa Ia akan mengikuti persangkaan hambaNya. Hal ini adalah sebuah perintah yang sangat jelas bagi kita agar kita membuat visi atau impian hidup dan selalu fokus pada impian itu, mengerahkan semua potensi dan energi, selalu melakukan optimalisasi diri dengan penuh gairah dan keyakinan bahwa memang itulah gambaran hari depan kita.

Semua kejadian akan berlaku sesuai Sunnatullah

Akan tetapi walaupun hidup ini mengandung misteri, tetapi Tuhan juga memberikan hukum-hukum kepastian. Kalau anda meminta kepada tiap orang yang lewat depan rumah Anda, untuk melemparkan bola, pasti bola itu sesudah melambung akhirnya akan jatuh ke tanah, apakah yang melempar itu Michael Jordan atau seorang kakek-kakek. Walaupun jarak lemparannya tidak sama persis, tetapi bolanya akan tetap jatuh ke bawah, karena adanya hukum gravitasi.

Hukum gravitasi termasuk hukum alam atau Sunnatullah yang sifatnya universal. Berlaku bagi siapa saja tanpa pandang bulu. Dengan hukum ini Tuhan memberikan kesempatan yang sama kepada manusia untuk melakukan prestasi atau memperoleh keunggulan, yaitu, jika kita membuat aksi A pasti akan menghasilkan B.

Memang Tuhan tidak terikat dengan hukum yang dibuatnya sendiri. Dia terkadang memberikan pengecualian tertentu, tetapi kita sebaiknya tidak usah mempermasalahkan hal ini. Disamping kemungkinannya tidak banyak, hal itu juga sepenuhnya menjadi hak prerogatifNya, dimana kita tidak mempunyai kekuasaan untuk ikut campur.   Maka kita hanya akan menggunakan anggapan dasar yang bersifat umum.

Presupposisi ini maksudnya hampir sama dengan presupposisi, “Jika seseorang bisa melakukan sesuatu, orang lain bisa belajar melakukannya.” Jadi nasib kita tergantung pada, kita mau secara proaktif atau tidak untuk melakukan aksi atau menciptakan sebab, agar Tuhan berkenan Memastikannya menjadi akibat yang sesuai dengan yang kita inginkan.

Keberuntungan dapat dikelola dan bukan milik orang tertentu

Didalam Al-Quran, Tuhan Berbicara tentang cara memperoleh keberuntungan sebanyak 40 kali. Hal ini menunjukkan bahwa keberuntungan itu sesuatu yang sangat manageble, serta siapapun bisa dengan mudah mendapatkankan. Bahkan orang tidak harus menjadi Muslim dulu untuk mendapatkan keberuntungan duniawiyah.

Tuhan telah memberikan jaminan kepada seluruh manusia tanpa kecuali, “Jika engkau berbuat kebaikan, maka kebaikan itu akan kembali kepada dirimu sendiri. Dan jika engkau berbuat keburukan, maka keburukan itu akan menimpa dirimu sendiri” (Q.S. 17 : 7). Jadi kebaikan hakekatnya sebuah investasi yang kelak pasti akan kita manfaatkan dan nikmati sendiri, sebaliknya kalau kita berbuat keburukan, berarti kita telah berutang dan utang suatu saat harus kita bayar.

Orang kaya yang baik dan dermawan pada umumnya kekayaannya lebih bertahan lama, bahkan selamanya. Hal itu dikarenakan mereka melakukan dual investment – menginvestasikan kekayaan pada dua sisi sekaligus – yaitu pada sisi lahir berupa uang atau aset-aset lainnya dan sisi batin yaitu sedekah yang bisa menggembirakan sesama manusia yang mereka terus mendoakannya supaya rejekinya selalu melimpah.

Sebaliknya orang kaya yang buruk dan bakhil, walaupun ia menginvestasikan harta dan asetnya tetapi dia terus menumpuk “utang batin” kepada sesama, yaitu berupa dendam, kemarahan dan kutukan dari orang-orang yang telah diperlakukan tidak adil.

Kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban terhadap sesuatu yang tidak ada pilihannya

Ketika di dunia, manusia mendapatkan dua hal pokok. Pertama mendapatkan hal-hal yang harus diterima tanpa pilihan, misalnya menyangkut kebangsaannya, kesukuan, jenis kelamin, warna kulit, jenis rambut, bentuk wajah, tubuh dll. Kedua, hal-hal yang kita mempunyai kebebasan memilih – seperti waktu, tenaga, pikiran, uang, energi – akan digunakan untuk apa saja. Untuk hal-hal yang pertama kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban dari Tuhan. Tetapi tidak demikian dengan hal-hal yang kedua.

Tuhan tidak akan bertanya kenapa rambut kita keriting ?, kenapa tubuh kita bulat ? dan sebagainya. Tetapi Tuhan akan menanyakan pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan yang kita lakukan sepanjang hidup kita, mulai dari kita bangun tidur, hingga naik ke peraduan.

Tuhan Maha Adil. Maka seandainya Tuhan membiarkan saja tanpa pertanggungjawaban atas pilihan buruk kita – misalnya perilaku para suami yang menggunakan uang, energi dan waktunya untuk melakukan perselingkuhan dengan wanita lain – maka justru Tuhan telah berbuat dzalim kepada para isteri yang dikhianati, begitu juga sebaliknya.

Tuhan juga tidak mungkin memperlakukan sama antara pemimpin yang jujur dan setiap hari waktu, pikiran, energi dan kapasitasnya hanya untuk mensejahterakan rakyatnya dengan pemimpin yang memanfaatkan kesempatan selama menjabat untuk memperkaya diri.

Takut diperlakukan tidak adil dan tidak jujur bukan berarti berpihak kepada ketidakadilan dan ketidakjujuran

Kalau Anda diperlakukan tidak adil dan tidak jujur atau ada seseorang berbuat curang kepada Anda, kemudian Anda membalas kepadanya dengan perlakuan yang setimpal, itu artinya Anda telah menjadikan dia sebagai guru atau Anda secara tidak sadar telah me-model dia. Apa akibatnya kalau dalam hidup ini kita berguru kepada orang yang salah ? Maka semua nilai-nilai kemuliaan diatas akan menjadi cacat.

Begitu juga, saat Anda mendapat kesempatan untuk berbuat tidak adil dan tidak jujur, kemudian Anda berfikir, “Kalau saya tidak mengambil kesempatan ini, seseorang pasti akan mengambilnya,”  maka Anda telah andil untuk menjadikan ketidakadilan dan ketidakjujuran menjadi semakin meluas. Atau dengan kata lain, Anda sendiri telah menjadi “wabah” ketidak adilan dan ketidakjujuran.

Oleh karena itu kalau Anda diperlakukan buruk dan Anda merasa tidak mampu untuk mengubahnya, maka tetaplah berpihak pada keadilan dan sekurang-kurangnya berdoalah agar keburukan itu tidak menular kepada Anda !

Penutup

Mungkin akan lebih menarik lagi jika meta anchoring ini kita hubungkan dengan  Neurological Levels. Dalam arti pada tahap-tahap mana pengalaman religi itu bisa kita rasakan? Tetapi artikel ini tidak atau belum berpretensi sejauh itu. Insya Alllah jika Tuhan berkenan memberikan ilham, akan saya tulis.

Saya hanya ingin menjelaskan bahwa meta anchoring ini bisa digunakan dalam terapi-terapi seperti Reframing, Perceptional Positions, New Behaviour Generator, Circle of Excellence, dan Sub Modalities.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Personal Branding untuk Calon Pejabat Eksekutif dan Legislatif, Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on January 4th, 2020 No Comments

Artikel ini sangat bermanfaat bagi Anda yang sudah menjabat ataupun yang punya mimpi menjadi pejabat eksekutif dan legislatif.

Menurut para ahli, Personal Branding (PB) adalah sebuah strategi yang berkaitan dengan self management, tentang bagaimana :

  1. Membangun dan memelihara persepsi atau emosi publik terhadap performan kita
  2. Merefleksikan siapa diri kita dan apa yang kita percayai.
  3. Mengekspresikan diri kita dari apa yang kita lakukan dan bagaimana kita melakukannya, maupun nilai-nilai yang kita yakini.
  4. Memengaruhi orang lain, cara memandang / melihat diri kita yang positip
  5. Membangun ekspektasi publik dari sejumlah harapan dan asosiasi yang ada di masyarakat

Jika kelima batasan diatas kita perhatikan, maka terdapat 2 unsur penting dalam PB yaitu : Keunggulan pribadi atau Competitive Advantage dan Strategi mengkomunikasikan Personal Branding (PB) Anda.

Ibarat makanan yang lezat, sehat dan bergizi tinggi, tetapi dibungkus dengan kertas bekas dan lusuh, tentunya akan menghilangkan selera orang yang ingin menyantapnya. Sebaliknya makanan yang dibungkus dengan kemasan yang indah  dan berkelas, tetapi ternyata rasanya tidak enak, dan kandungan gizinya rendah dan bahkan mengandung bahan-bahan kimia yang tidak aman, maka segera akan dijauhi oleh konsumen.

Oleh karenanya kedua unsur, baik keunggulan pribadi maupun kemampuan mengkomunikasikannya  menjadi penting bagi Anda yang ingin membangun PB.

Terdapat 3 macam keunggulan yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin jika ingin membangun PB, yaitu kompetensi pribadi, standar pribadi dan gaya.

Kompetensi pribadi

Kompetensi bukan hanya masalah keahlian, melainkan juga terkait karakter dan awareness atau kesadaran atas nilai-nilai yang terkandung didalam keahlian yang Anda miliki itu.

Seorang pemimpin perlu memiliki suatu skill dan intelektualitas yang membuat dirinya mendapatkan reputasi yang baik di masyarakat.  Karena asal mula dari kompetensi leadership adalah skill yang tinggi di bidang tertentu, dimana untuk itu dia dipercaya menjadi manager dan memimpin tim di bidangnya sehingga bisa meraih keberhasilan-keberhasilan dan keunggulan. Dan kemudian dari  pengalaman memimpin itu menghasilkan kapasitas dan sekaligus kompetensi leadershipnya.

Tanri Abeng waktu dimintai saran oleh Dahlan Iskan sebelum masuk kedalam birokrasi, mengatakan bahwa DI pasti bisa menjadi Dirut PLN, bahkan menteri BUMN yang andal, karena portfolionya memimpin dan membesarkan Jawa Pos Group – sebagaimana diketahui bahwa karier DI dimulai dari karyawan teknis. Bahkan pada akhirnya DI mampu menciptakan terobosan-terobosan dan konversi ide-ide kedalam birokrasi, dari BUMN hingga kementerian.

Standar pribadi

Standar pribadi adalah pengukuran yang sifatnya internal dari pemimpinnya atas kinerjanya sendiri. Terkadang seorang pemimpin menetapkan standar yang menurutnya normal-normal saja, tetapi bagi publik sudah dianggap luarbiasa. Sebaliknya ada juga seorang pemimpin yang merasa dirinya telah memiliki kinerja yang hebat, tetapi menurut publik rasanya biasa-biasa saja, bahkan dianggap kurang.

Oleh karenanya jika ingin membangun PB, sebaiknya Anda menjadi jenis yang pertama. Tetapkan standar yang melebihi ekspektasi banyak orang. Menjadi bupati atau walikota tentu standarnya lebih dari pemimpin perusahaan, ketua organisasi daerah atau ketua DPRD sekalipun, karena jabatan itu memerlukan kapasitas leadership yang lebih tinggi, lebih memiliki wawasan dan kebijaksanaan dalam menghadapi orang banyak atau rakyat. Begitu juga jika Anda ingin membangun PB untuk menjadi gubernur.

Menjadi presiden diperlukan standar kapasitas leadership yang lebih tinggi lagi, khususnya kemampuan konseptualnya dalam membuat / memutuskan kebijakan-kebijakan, maupun kebijaksanaan dalam menghadapi keanekaragaman rakyat yang menganut berbagai macam ideologi, dimana pada kepemimpinan daerah tidak atau belum begitu sensitif. Walaupun kalau ada kepala daerah yang bisa bersikap empatik dan moderat dengan berbagai kelompok masyarakat, golongan, ideologi dan agama jauh lebih baik.

Pekerjaan utama presiden adalah membuat kebijakan. Dan dari situlah bisa diketahui seberapa tinggi penguasaan dan skillnya dalam melakukan problem solving atas masalah bangsa di bidang Ipoleksosbud hankam. Boleh saja seorang presiden mengatakan dirinya orang lapangan. Tetapi masalahnya sejauh mana dari pekerjaan lapangannya itu bisa menemukan identifikasi masalah untuk diimplementasikan dalam skala nasional, dan dituangkan menjadi kebijakan-kebijakan publik yang adil dan bisa memakmurkan seluruh rakyat.

Seorang presiden juga perlu menyadari bahwa dirinya berada diatas semua golongan, agama, ideologi dan partai. Termasuk partai yang mengusungnya. Dari perspektif administrasi dirinya adalah administratur negara yang seharusya netral terhadap ideologi pengusung maupun lawan. Serta persis berada ditengah-tengah ketika antar ideologi itu terjadi gesekan

Gaya

Gaya adalah faktor yang cukup penting dalam membangun PB – walaupun bukan paling penting. Jika kedua faktor diatas cukup memuaskan, tanpa gayapun Anda akan akseptabel dan didukung oleh rakyat. Sebaliknya jika kedua faktor diatas gagal, kemudian Anda kebanyakan gaya malah akan dicibir oleh rakyat sebagai tukang pencitraan.

Pemimpin yang suka blusukan hanyalah salah satu dari sekian banyak gaya. Hal itu bisa memperkuat karakter kepemimpinannya jika menghasilkan kebijakan yang solutif. Atau justru sebaliknya jika hasilnya kontraproduktif.

Jika benar-benar tujuannya untuk meningkatkan kinerja kabinet, justru para menterinyalah yang harusnya disuruh blusukan. Selain mereka lebih menguasai lapangan, karena para menteri diangkat tentu sesuai dengan bidang dan profesi yang dimiliki, juga mereka perlu memiliki pengamatan on the spot di daerah-daerah tertentu yang dianggap krusial. Dari sisi anggaran, blusukan menteri biayanya amat sangat jauh lebih murah ketimbang presiden. Apalagi jika menterinya seperti almarhum Ir Soetami, Dahlan Iskan atau bu Susy.

Blusukan juga bermanfaat bagi para kepala daerah, karena mereka sebagaimana para menteri, pekerjaannya lebih bersifat managerial yang bermuara pada problem solving atas masalah yang terjadi didesa-desa, kecamatan, ataupun unit kerja lainnya ketimbang membuat kebijakan.

Mengkomunikasikan Personal Branding

Komunikasi PB adalah upaya untuk merangsang estetika sensorik publik guna mendapatkan feeling diterima dan disukai. Sebab menurut para pakar neurosain, 80 persen keputusan seseorang didorong oleh perasaannya. Rakyat tidak mungkin memilih pemimpin jika tidak suka. Minimal suka dengan pemberian uang money politicnya.

Konten marketing politik bila dikaitkan dengan strategi personal branding bisa menjadi rangsangan yang hebat bagi konsituen, terutama bagi yang belum memutuskan untuk memilih. Hal ini tergantung pada seberapa hebatnya Anda membangun strategi PB.

Bagi Anda yang sudah menjabat, tetap perlu membangun PB, agar publik lebih mengenal karakter, kapabilitas dan values yang Anda pegang, sehingga program-program yang Anda luncurkan tidak mudah disalahfahami. Apalagi sekarang ini banyak serangan character assasination oleh orang atau kelompok yang berseberangan dengan kita.

Bila mengetahui teknik-teknik dan trik-triknya, komunikasi PB tidak perlu berbiaya mahal, namun hasilnya bisa efektif. Atau jika menggunakan iklan berbayar, efeknya cukup signifikan. Intinya hanya dua, yaitu  Anda harus bisa membuat konten yang impressive dan memilih media yang tepat, baik offline maupun online.

Dibawah ini disajikan beberapa trik yang bisa Anda coba :

Pertama, menggunakan Billboard ; Dipinggir jalan ditempat-tempat yang strategis sering kita lihat media ini yang menampilkan gambar seorang tokoh pejabat dengan dibubuhi tulisan tertentu. Namun sayangnya iklan berbayar mahal ini seringkali kurang berefek, karena bahasa yang disusun tidak menggunakan teknik copywriting yang baik.

Asumsinya billboard harus terbaca dari jarak 50 hingga 100 meter, dari orang-orang yang sedang berkendara. Tulisannya harus besar, sehingga pesannya tidak bisa banyak. Oleh karena itu harus didesain, dengan satu atau dua kalimat pesan yang ditulis sudah bisa menggambarkan PB Anda. Kalimat pertama menggambarkan karakter dan values Anda, dan kalimat kedua berisi visi Anda.

Kedua, menggunakan brosur, fliyer atau banner; Jika Anda ingin berkomunikasi secara lebih detil dengan publik tentang program yang sedang Anda luncurkan, bisa menggunakan media ini. Media inipun juga bersifat terbatas. Jika ingin berkomunikasi menggunakan media-media tersebut, usahakan tidak melebihi satu halaman atau papan banner, tetapi sudah bisa menjelaskan PB Anda, visi dan program-program yang sedang Anda luncurkan.

Baik, apakah Anda sudah menjadi pejabat (eksekutif dan legislatif) atau masih nyalon bupati, walikota, gubernur, caleg ataupun capres-cawapres 2024, satu hal yang perlu diingat dalam membuat konten brosur, tampilkan diri Anda sebagai seorang Pemimpin Problem Solver.

Para pakar marketing politik mengatakan, seorang pemimpin dan calon pemimpin sebaiknya hanya fokus untuk menemukan faktor frustasi dan ekspektasi masyarakat di suatu tempat, kemudian dia bisa tampil sebagai sosok problem solvernya. Jadi Anda tidak usah terlalu banyak menyampaikan gagasan, visi missi dan berbicara hal-hal yang tidak mereka perlukan.

Faktor frustasi adalah apa yang selama ini dianggap masalah dan mengganggu pikiran masyarakat. Ibarat orang sakit gigi, maka saking frustasi dengan rasa sakitnya yang luar biasa, maka yang dia fikirkan hanya bagaimana gigi itu bisa secepatnya dicabut.

Ekspektasi adalah apa yang menjadi mimpi di suatu masyarakat secara luas. Mereka merasa bahagia jika apa yang mereka impikan itu bisa terwujud. Untuk calon legislatif, Anda cukup menampilkan diri sebagai orang yang akan mewakili mereka berbicara dengan pemerintah.

Ketiga, menggunakan papan LCD; Papan LCD yang ditempatkan dipinggir jalan besar, fungsinya sama dengan billboard. Sedangkan LCD yang diletakkan di tempat-tempat orang bersantai fungsinya sama dengan brosur tetapi live. Sebaiknya semua fitur yang terdapat di media ini bisa dioptimalkan, mengingat biayanya mahal. PB maupun program-program Anda sebaiknya diskenariokan dalam bentuk tayangan film.

Keempat, menjadi pembicara diberbagai seminar, lokakarya atapun even-even edukatif di berbagai tempat. Media ini sasarannya adalah kelompok terpelajar dan menengah. Kelompok yang diandalkan oleh para politisi, karena mereka konsituen sekaligus influencer. Jika Anda berhasil memengaruhi seorang saja dari kelompok ini, maka kemungkinan mereka membawa serta para pengikutnya.

Di era digital ini PB dan program-program Anda setelah di seminarkan, masih terus bisa ditayangkan di berbagai mediasosial, baik resume makalahnya, maupun rekaman videonya.

Kelima, memanfaatkan Youtube dan Webinar; Membuat tayangan seminar melalui youtube tidak usah menunggu rekaman seminar, melainkan bisa diprogram sendiri. Siapkan studio mini dikantor Anda, atau gunakan jasa Youtuber.

Anda bisa juga membuat Webinar atau seminar online. Bedanya dengan youtube yang mengupload rekaman, dalam webinar langsung live di internet. Peserta bisa langsung melakukan tanya jawab saat itu juga. Untuk media ini juga sudah banyak penyedia jasanya.

Masalahnya adalah semua broadcast Anda belum tentu direspon oleh netizen. Untuk itu dalam membuat konten tetap menggunakan prinsip-prinsip yang sudah dijelaskan diatas, yaitu “menemukan frustasi dan ekspektasi masyarakat” dan Anda memberikan problem solvingnya..

Keenam, melakukan Media Visit; Penggunaan strategi ini biasanya untuk mengatasi management of damage dari pemberitaan media tertentu yang menayangkan sisi negatif tentang performa Anda. Dengan mengunjungi perusahaan media itu secara friendly, setidak-tidaknya sudah menimbulkan keengganan dari media yang bersangkutan.

Ketujuh, melakukan turba; Turba atau turun kebawah, atau blusukan mengunjungi pasar, perkampungan dan sebagainya adalah cara klasik yang sudah berulang-ulang kita saksikan di media. Tetapi sekali lagi, dalam blusukan itu perlu ada manfaat spesifik atau output yang jelas bagi masyarakat, dan bukan sekedar pencitraan.

Kedelapan, memiliki website atau memanfaatkan website instansi; Mengkomunikasikan PB melalui website dilakukan dalam tiga langkah : Aktif membuat blog, melakukan optimalisasi  dengan SEO ( Search Engine Optimization), dan aktif membroadcast di media sosial. Strategi ini sama dengan strategi komunikasi media sosial lainnya seperti youtube, yaitu berupaya mendapatkan interaksi sebanyak-banyaknya. Untuk itu selain bisa memberikan problem solving dari frustasi dan ekspektasi masyarakat, juga kontensnya dibuat semenarik mungkin. Bisa menginspirasi dan pencerahan pada masyarakat, tampil beda, dan kalau perlu sekali-kali kontroversial.

Kesembilan, membuat Fans page di Facebook; Kelebihan Fans page dibandingkan dengan Youtube dan SEO adalah FP bisa langsung tembak ke segmennya. Misalnya Anda menyalonkan diri menjadi kepala daerah di suatu kabupaten, maka kontens Anda akan langsung bisa dilihat oleh konsituen di daerah tersebut, bahkan Anda masih bisa menspesifikasi lagi hingga usia, pekerjaan hobbi mereka. Anda juga tidak perlu bekerja keras seperti dalam SEO, karena broadcastingnya dibantu oleh Tim FB. Tentunya ada biayanya, tetapi tidak mahal. Seperti dalam komunikasi di medsos lainnya, kualitas kontens sangat berpengaruh dalam membangun interaksi dengan netizen.

Selamat mencoba.

 

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Bisa Jadi Kreatif-inovatif Itu Perlu Banyak Belajar dan Banyak Mencoba Brow . . . ., Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on May 19th, 2019 No Comments

(Versi lengkap dari Artikel ini bisa Anda dapatkan di buku Tiba-Tiba Jadi Bos diatas)

 Bagian yang sulit dari perubahan adalah menghentikan sesuatu yang biasanya kita lakukan dan bagian  termudahnya adalah mempelajari cara melakukan hal-hal yang baru (Gordon Dryden )

 

Kreatif bukanlah menciptakan sesuatu yang baru. Ini salah besar, karena hanya Tuhan Allah SWT saja yang bisa menciptakan sesuatu yang baru. Sedangkan manusia hanya bisa menganalog, menghubungkan sesuatu yang sudah ada, mencari cara baru yang lebih mudah dan seterusnya.

Makanya kalau Anda jadi orang, banyak ilmunya, kaya pengetahuan, suka belajar, mengapresiasi orang lain, suka bertanya, peduli pada sesama, suka membantu memecahkan kesulitan orang lain, otomatis Anda akan menjadi insan kreatif.

Menjadi inovatif juga tidaklah sulit. Karena menurut David Neeleman, inovasi hanyalah upaya mencari cara untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik dari sebelumnya. Jadi inovasi merupakan kegiatan yang lebih berorientasi kepada manajemen ketimbang teknologi.

Peter Drucker mengatakan, inovasi bukanlah penemuan. Inovasi adalah istilah manajemen dan bukan istilah teknologi. Sebab kalau inovasi disamakan dengan penemuan, maka kita akan terjebak pada percobaan-percobaan yang membuat kita terpusat pada penemuannya dan melupakan alasan dibalik penemuan itu.

Sedangkan Mathew E May dalam The Elegant Solution Rumus Sukses Toyota memerinci, terdapat tiga prinsip dasar inovasi, yakni : Kecerdikan dalam ketrampilan, pencarian akan kesempurnaan dan kesesuaian dengan masyarakat. Oleh karenanya dalam inovasi yang penting memberikan pencerahan atau memberikan solusi terhadap suatu masalah yang sedang dihadapi oleh kelompoknya, membuat sesuatu menjadi lebih mudah.

Vietnam hingga tahun 2000 an masih nampak sebagai sebuah negara yang miskin. Reruntuhan perang masih bertebaran disana-sini, transportasi utamanya adalah sepeda. Tidak banyak rumah yang memiliki listrik, telepon apalagi komputer atau internet. Pendapatan utamanya adalah hasil pertanian atau beras. Tetapi ada seorang pemuda yang mengetahui infrastruktur telekomunikasi dan jaringan online, mulai memikirkan cara menaikkan pendapatan petani dengan cara memberikan informasi kepada mereka tentang fluktuasi harga beras.

 Walaupun menyadari, bahwa dia tinggal di desa terpencil yang tidak ada jaringan telepon bahkan belum ada listrik. Maka dia mulai membeli komputer-komputer dan antena parabola bekas. Dari peralatan seadanya itu dia ciptakan jaringan online nirkabel. Sebagai tenaga listriknya dia gunakan baterai dengan sistem onthel. Total biayanya hanya mencapai dibawah $200. Jadi kalau hendak membuka jaringan online, maka dia memerintahkan dua orang yang punya otot kaki yang kuat untuk mengayuh dua buah sepeda onthel, maka komputerpun bisa menyala. Kemudian  baterai satunya untuk menyalakan antena parabola.

 Walhasil bisa didapatkan informasi tentang harga beras yang aktual. Ternyata cara ini meluas ke seluruh Laos hingga ke Ibukota Vientiane. Jadi kalau anda pergi ke Laos untuk menjadi tengkulak, jangan harap bisa meraup untung besar, karena disana para petaninya sudah pandai dan mengetahui harga pasar terkini.

Kreatifitas pemuda Laos itu bukan terletak pada segi teknologinya –  karena pada abad 21, komputer online bukan lagi sebuah produk penemuan baru – melainkan pencerahan, keprihatinan dan kepedulian sehingga menemukan pemikiran untuk mengaplikasikan teknologi informatika dengan cara seadanya guna memberikan problem solving dalam bidang pemasaran padi.

Siapapun Anda, jika memodel perilaku pemuda Laos tadi, pasti akan bisa menemukan banyak kreatifitas dan inovasi. Suatu proses yang diawali dari  kegelisahan intelektual – dimana ia merasa menguasai teknologi informatika, namun ilmunya sama sekali tidak bermanfaat bagi nasib petani yang merupakan bagian terbesar penduduk negerinya – lalu berkembang menjadi sebuah inspirasi untuk melakukan suatu perubahan. Dari sanalah, sanubarinya kemudian bisa menyulut aktifasi gennya dan mengubah energinya menjadi sebuah cahaya.

Berfikir kreatif sama mudahnya dengan berani menanyakan hal-hal yang tidak terpikirkan oleh orang lain ataupun berusaha menjawab dengan jawaban yang tidak biasa, memandang dari sudut pandang yang berbeda, dan bahkan melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan oleh orang lain.

John Adair dalam bukunya yang berjudul The Art of Creative Tinking, merekomendasikan hal-hal yang bisa membuat seseorang menjadi kreatif dan inovatif. Diantaranya :

  • Focus ( Follow One Case Until Success Robert Kiyosaki)
  • Luaskan zona berfikir Anda atau bahkan keluar sama sekali (out of the box). Walaupun di pekerjaan kita sudah diatur dengan SOP (Standar Operating Prosedur ) bukan berarti bahwa pikiran kita juga ikut di SOP. jika ternyata setelah dievaluasi ada ketidakefisienan ataupun ketidakefektifan didalamnya. Anda perlu memikirkan cara-cara yang yang tidak biasa.
  • Buka pikiran dan hati Anda dan jadilah pendengar yang baik dan yakinilah bahwa setiap orang memiliki keunikan dan kelebihan masing-masing. Menganggap diri kita sudah tahu segalanya, atau merasa paling pintar adalah sebuah kebodohan. Sebaliknya suka bertanya pada orang lain dengan niat tulus ingin menemukan solusi dengan kerendahan hati – padahal orang-orang tahu kompetensi dan kapasitas Anda –  justru akan menambah kesan kewibawaan orang pada Anda. Dan yang penting bagi Anda adalah menjadi semakin kaya dan punya Bank Masalah dan Solusi yang depositnya merupakan sumber inovasi baru.
  • Memiliki rasa ingin tahu. Jadilah orang yang penuh rasa ingin tahu dan tidak berhenti bertanya pada orang, buku atau sumber informasi lainnya sebelum ketemu jawabannya (Konon ini adalah kunci keberhasilan Napoleon Bonaparte).  Rasa ingin tahu, bukanlah ingin mengetahui urusan orang, tetapi sebagaimana telah dibahas sebelumnya, untuk bisa berfikir out the box kita harus belajar secara tidak biasa. Belajar cara orang atau bagian lain yang lebih sukses bisa mengatasi masalahnya, bahkan belajar cara-cara komando dalam kemiliteran.
  • Suka membaca buku. Buku adalah jendela dunia. Jadi kalau Anda ingin keliling dunia untuk menemukan sesuatu, pelajari dulu subyeknya dengan mempelajari bukunya. Siapa tahu ternyata barang itu dimiliki oleh tetangga Anda. Jadi dengan membeli buku ratusan ribu rupiah, Anda telah menghemat ongkos ratusan juta rupiah. Para Pemimpin besar umumnya adalah para pembaca buku. Presiden Ford sering mengundang pengarang buku ke Gedung Putih dan menyimpulkan, “Bertemu selama 2 jam dengan penulis buku, sama dengan membaca tulisannya sebanyak 500 lembar. Adam Khoo pebisnis muda sukses yang termasuk dalam daftar 25th richiest in Singapore adalah seorang kutu buku. Dia sudah melahap ratusan buku selama kuliah dan bekerja.
  • Gunakan analogi. Setiap subyek memiliki cara penyelesaian yang berbeda-beda, tetapi mungkin strateginya sama. Misalnya memenangkan peperangan militer caranya berbeda dengan merebut pangsa pasar, tetapi strateginya persis sama, yaitu ada subyek yang ingin dikalahkan. Ada identifikasi tentang kekuatan dan kelemahan lawan. Ada pilihan waktu, tempat, sasaran, moment, teknik psywar dan sebagainya. Penemuan teknologi banyak menggunakan analogi, misalnya tetes embun dengan kaca pembesar. Persendian manusia dengan pengungkit. Bambu dengan pipa silinder dan seterusnya.
  • Buatlah asumsi-asumsi dengan sadar. Semua inovasi dan invensi (penemuan) di dunia ini selalu dimulai dengan membuat asumsi sebelum penelitian yang sesungguhnya dilakukan. Misalnya, “semua planet mengelilingi matahari”, “benda yang dipanaskan akan memuai”. Dalam manajemen, membuat asumsi ibarat pemain catur yang ingin melangkah, maka ia akan memperkirakan berbagai kemungkinan yang akan terjadi jika ia memindahkan salah satu biji caturnya, sementara tangannya masih belum menyentuh satupun. Anda bisa mengasumsikan beberapa kemungkinan tindakan peringatan kepada anak buah Anda yang melakukan indisipliner untuk menemukan mana terapi yang paling efektif. Anda juga bisa mengasumsikan kemungkinan apa yang akan terjadi, jika Anda misalnya menerjunkan sebagian anak buah Anda ke suatu tempat atau misalnya Anda membuat kemungkinan-kemungkinan respon konsumen dari berbagai pilihan kegiatan launching  produk baru Anda, dan seterusnya. Membuat simulasi kegiatan bisa membantu Anda untuk menemukan jawaban dari beberapa asumsi yang Anda perkirakan.

 

SELAMAT MENCOBA

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Semua Training Pengembangan Diri Hanya Berfungsi Mengembalikan Mindset Anda Ketika Bayi, Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on May 16th, 2019 No Comments

( Versi lengkap dari artikel ini bisa di download di googlebook.com dengan judul buku Destined To Be A Leader – Amir Faisal )

Perhatikan perilaku bayi dirumah Anda. Anda akan terkejut melihat gerakan naluriah mereka. Betapa mereka tak henti-hentinya melakukan proses Tranformation & Growth. Saat merasa tak nyaman berbaring melihat atap terus menerus, secara naluriah mereka akan membuat gerakan-gerakan eksperimen agar memperoleh situasi baru yang lebih baik, yaitu dengan belajar tengkurap. Ketika eksperimen itu berhasil, “Wonderful !”, mereka menemukan fakta yang mentakjubkan, ternyata dunia lebih luas dari yang mereka bayangkan sebelumnya.

Pada posisi yang baru itu mereka menyaksikan benda-benda yang jauh lebih banyak. Benda aneh, lucu, indah dan menarik. Otak naluri mereka secara reflek memerintahkan kaki  mereka untuk mengimbangi gerakan otot tangan, dalam sebuah keseimbangan yang menciptakan gerak maju mundur, kekanan dan kekiri , memutar dan seterusnya. Gerakan tanpa sadar ini, selain telah melatih otot tangan dan kaki secara terkoordinir dan seimbang, juga menghasilkan kemampuan untuk meraih benda-benda menarik lebih banyak.

Setiap otak bayi memiliki fungsi sensorik dan motorik yang sangat efektif. Stimulus  dari semua benda yang  dilihatnya akan merangsang matanya, kemudian berusaha untuk meraihnya. Keinginan untuk mengenali setiap benda, mencocokkan dengan benda yang telah dikenali sebelumnya, akan terus dilakukan.  Mereka mengambil kesimpulan, bahwa semakin tinggi kemampuan mereka untuk bergerak atau berpindah, akan semakin banyak benda-benda yang akan bisa dikuasai.

Dengan tanpa rasa takut dan ragu-ragu, mereka akan terus melakukan petualangan yang luar biasa. Selanjutnya, mereka mencoba mengerahkan seluruh keberanian yang dimiliki untuk mencoba berjongkok, berpegangan atau mencoba berdiri sendiri, lalu jatuh, berdiri lagi, jatuh lagi dan seterusnya. Tak  ada satupun bayi yang menyerah ketika eksperimennya tak kunjung berhasil. Mereka terus mencoba dengan penuh keberanian yang ada. Akhirnya mereka berhasil berdiri, berjalan, berlari, melompat memanjat, mengenali dan menguasai begitu banyak benda, dan seterusnya.

Tak ada satu menitpun pada masa “keemasan” (Golden Age) mereka, berlalu tanpa perubahan. Anehnya, ketika menjadi makhluk dewasa, kenapa kita menjadi sulit untuk berubah ?!

Jawabannya, sekurang-kurangnya terdapat empat penyebab, kenapa bayi begitu mudah melakukan perubahan, sedangkan kita tidak.

Pertama, karena bayi selalu didorong oleh situasi dissatisfaction atau rasa tidak nyaman dan berhasrat untuk memperoleh situasi baru yang lebih menyenangkan, sedangkan orang dewasa pada umumnya sangat menikmati kenyamanan yang membuat mereka enggan untuk berubah.

Kedua, bayi tak pernah perduli dan tak pernah membandingkan dirinya dengan bayi lain tentang prestasi yang bisa dicapainya, sedangkan kita orang dewasa, seringkali sensitif terhadap kemajuan yang dicapai oleh orang lain, dan ketika kita menemukan fakta bahwa diri kita tak se progresif orang lain dalam kemajuan, kita  menjadi tertekan.

Ketiga, bayi tidak tahu, apa arti perubahan itu? Justru hal itulah yang membuat mereka asyik pada tantangan-tantangan baru tanpa peduli apapun itu.

Keempat, tidak ada sesosok bayi normalpun yang gagal melakukan eksperimennya. Sementara kita dipenuhi oleh rasa takut, bayangan-bayangan kegagalan, pesimisme, tidak percaya diri sebelum memulai suatu langkah.

Hal itu dikarenakan mereka tidak punya konsep kegagalan. Tidak pernah berfikir akan gagal. Bahkan kata “gagal” pun mereka belum mengenal, sebelum nanti para orang dewasalah yang mengajarkannya. Jadi seandainya tidak ada produk mental yang berasaldari kata “gagal” yang menghasilkan konsep kegagalan yang menyebabkan kita takut atau enggan mengulang lagi, maka sebenarnya kegagalan itu tidak pernah ada !!

Kelima, semua proses (dari poin 1 hingga poin 4 ) mereka lakukan dengan penuh exiting dan passion of life. Gak ada nyeselnya, gak ada kecewa, gerutu ataupun ngomelnya.

So, ketika Anda ikut training pengembangan diri hakekatnya hanya merevitalisasi mental dan skill Anda ketika masih balita, yang mana kemampuan bertransformasi itu karena sesuatu hal,  sepertinya sekarang terhenti. Atau berlanjut tapi sangat lamban.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Ini Nyata Bukan Keajaiban Diri Anda, Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on May 13th, 2019 No Comments

(Buku Destined To Be A Leader yang merupakan versi lengkap dari artikel ini bisa Anda download dari google book)

Ya, beruntunglah dengan mengKLIK artikel ini Anda menemukan rahasia kesuksesan Anda.  Dan walaupun sangat simpel dan mudah sekali dimanage oleh siapapun, tetapi hasilnya sangat paten, yaitu dengan cara mengenali karakteristik gen Anda, dan cara mengelolanya dengan cerdas.

Seorang ahli genetika dari Jepang, Prof Kazuo Murakami Ph D. membuat penemuan spektakuler yang kemudian ditulis dalam buku yang berjudul, “The Divine Message of The DNA, ternyata manusia menggunakan potensi diri nya baru lima persen. Seandainya kita bisa melejitkan kinerja kita menjadi sepuluh persen saja, kita bisa menjadi orang yang sukses luarbiasa.

Prof  Murakami  sendiri merasakan kinerja gennya menjadi melejit dan terus mengukir prestasi setelah beliau hijrah ke Amerika, yang mana kebebasan akademik disana relatif lebih baik. Merupakan hal biasa disana, kalau ada mahasiswa suatu saat akan melampaui kedudukan profesor nya, tanpa harus melalui sistem hierarki yang berbelit-belit sebagaimana di Jepang.

Di Amerika pak Murakami bertemu dengan para peraih Nobel yang ternyata adalah orang-orang yang bekerja sangat keras, memaksa diri, setiap hari bekerja dari pagi hingga larut malam. Ternyata proses interaksi itulah yang membuat gen beliau melejit. Gen kita menjadi pasif ataupun teraktivasi disebabkan oleh pengaruh lingkungan dimana kita hidup.

Contoh lain, Einstein adalah anak seorang biasa tetapi bisa menjadi seorang genius karena hidup di lingkungan para ahli fisika. Namun demikian lingkungan positif baru akan ada manfaatnya apabila yang bersangkutan sendiri mau menyesuaikan habitnya dengan habitat di lingkungan barunya, bahkan memaksa untuk mengubah diri. Memadamkan gen-gen lama yang buruk, kemudian mengaktivasi gen-gen baru yang mulia.

Maka ”Carilah lingkungan yang berkinerja tinggi kemudian paksalah dirimu untuk menyesuaikannya, serta ubahlah kelakuanmu!”

Bahkan hubungan antara pikiran dan perasaan dengan kinerja gen, oleh sang Penemu, dibuktikan dengan cara yang sangat sederhana. Misalnya rasa sedih dengan bekerjanya gen  pembentuk air mata. Para pemarah dengan rusaknya kelenjar pituitari di otak yang menyebabkan penyakit tekanan darah tinggi . Orang yang perfeksionis dan tegang dengan rusaknya pankreas yang menyebabkan sakit diabetes. Rasa syukur dan bahagia dengan gen pembentuk dopamin. Tantangan dengan hormon adrenalin dan seterusnya.

Pendeknya pikiran dan perasaan adalah eksekutor, sedangkan gen adalah pekerja yang taat. Semua keinginan Anda, baik atau buruk, menguntungkan atau merugikan, konstruktif ataupun dekonstruktif adalah perintah bagi trilyunan gen Anda.

Beliau juga menceriterakan penelitian mentakjuban yang dilakukan oleh sahabatnya yang bernama Shigeo Nozawa, dimana dia telah berhasil merekayasa tumbuh-tumbuhan tomat sehingga mampu menghasilkan 12 ribu buah pada tiap batangnya. Banyak yang mengira bahwa pohon-pohon ini hasil dari bioteknologi, padahal sesungguhnya mereka dihasilkan dari biji tomat varietas biasa yang biasanya hanya menghasilkan dua atau tiga puluh buah pada tiap batangnya.

Apa rahasianya ? Ternyata pohon-pohon itu dikembangkan dengan metode hidroponik menggunakan sinar matahari dan air yang diperkaya dengan nutrisi. Satu-satunya perbedaan dengan penanaman tomat tradisional adalah, tanaman ini ditumbuhkan di atas air dan bukan di tanah.

Nozawa menjelaskan bagaimana ia mendapat ide untuk memproduksi pohon tomat spektakuler itu :

 ”Tumbuh-tumbuhan yang kita lihat di sekitar kita, hanya menunjukkan potensi terbatas sebagai reaksi dari kondisi tertentu. Saya mulai meneliti, kondisi apa saja yang mencegah mereka menyadari adanya potensi yang lebih besar. Maka saya mengambil kesimpulan, bahwa tanah adalah salah satu hambatan mereka – menurut teori konvensional, tanah sangatlah penting untuk pertumbuhan tumbuh-tumbuhan – Tumbuh-tumbuhan akan memperpanjang akarnya untuk mencari makanan, tetapi tanah telah menghambat jalan mereka.

 Air sering berubah jika berada di tanah tertentu, menghalangi persediaan enzim, belum menyangkut masalah perubahan suhu. Perubahan fisiologis adalah hasil dari reaksi kimia dan halangan seperti tanah justru telah menghalangi pertumbuhan itu. Maka dia berfikir, jika halangan-halangan itu ditiadakan, efisiensi fotosintesis akan lebih baik dan pertumbuhan tanamanpun akan meningkat dengan cepat. Teorinya terbukti, tomat hidroponiknya menghasilkan buah seribu kali lipat dibanding pohon tomat biasa.

Begitu juga dengan gen manusia. Jika semua hambatan yang ada dilingkungannya ditiadakan, kemudian diubah menjadi lingkungan yang lebih sesuai, agar potensinya bisa berkembang secara tidak terbatas, maka bukanlah hal yang mustahil kalau manusia bisa mengembangkan gennya secara dahsyat, karena manusia merupakan organisme yang sangat kompleks.

Pertanyaannya, faktor-faktor apakah yang telah menghambat berkembangnya potensi manusia ? Jawabnya tidak lain adalah pola pikir atau mindset nya sendiri yang terbentuk oleh lingkungan dan masa lalu yang buruk.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Meraih Puncak Keunggulan Manusia, Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on May 9th, 2019 No Comments

( Buku ini bisa didownload di googlebook.com, dengan judul Destined To Be a Leader – Amir Faisal )

Salah satu manfaat NLP (Neuro Linguistic Programming) adalah untuk meraih pikiran dan kemampuan terbaik sesering mungkin, karena skill ini yang bisa membuat kita mencapai Unlimited Power. Sebagaimana yang dikatakan oleh Anthony Robbins, bahwa kita bertindak karena adanya hasrat yang membimbing kita, yaitu belief  atau keyakinan kita. Belief itu tidak dapat diabaikan begitu saja, karena ia bisa lebih kuat dari kebenaran itu sendiri.

 

Belief dengan presupposition adalah sesuatu yang hampir sama, baik terbentuknya maupun pengaruhnya terhadap tindakan seseorang. Dan jika belief ini menyangkut sesuatu yang seharusnya, maka ia disebut values. Oleh karenanya untuk memperoleh tindakan-tindakan yang konstruktif dalam kehidupan kita serta mencapai ekselensi dan tingkatan hidup mulia diperlukan presupposisi-presupposisi yang dalam hal ini didasarkan values yang dituntunkan dalam agama. Para utusan Allah telah memberikan modelling kepada manusia cara hidup menuju kemuliaan.

Dibawah ini disajikan beberapa  presupposisi spiritual yang didasarkan inspirasi agama tersebut, yaitu antara lain sebagai berikut :

 

Kebahagiaan itu bersumber dari dalam diri kita

Kebahagiaan  adalah sebuah subyek. Dia tidak memerlukan sebab, melainkan justru menjadi sebab bagi perasaan-perasaan yang lain. Kebahagiaan  sudah ada dan telah bersemayam dalam hati kita. Kebahagiaan telah dianugerahkan oleh Tuhan sejak kita lahir yang dibawa oleh ruh kita. Para ahli tasawuf mengatakan bahwa ruh manusia bisa merasakan dan berfikir. Karena ruh itu pula yang mempunyai kekuatan untuk mencintai Tuhannya, mencari pengetahuan tentangNya dan berusaha untuk selalu mendekatiNya. Oleh karenanya jika ingin merasakan kebahagiaan, maka sebenarnya kita tinggal mengambil begitu saja seberapa banyak yang kita butuhkan. Misal, ketika sedang membaca buku ini berbicaralah dengan diri Anda sendiri – “Ya Tuhan betapa beruntungnya aku ini, Engkau karunia aku otak yang cerdas dan bisa merasakan nikmatnya belajar” – niscaya Anda akan merasakan arti kebahagiaan.

Jika kebahagiaan ibarat danau yang luasnya tak bertepi, maka rasa syukur adalah gayungnya.

Sebaliknya ketidakbahagiaan atau kekurangbahagiaan diakibatkan karena kita membuat persepsi dalam diri, bahwa ia berada di luar diri kita.

 

Tujuan hidup kita adalah mencari kebahagiaan disisi Tuhan Allah SWT

Jiwa manusia berasal dari Tuhan dengan begitu pasti ia akan selalu mencari jalan untuk kembali kepadaNya. Sekarang marilah kita kembali kepada pembicaraan tentang proses sebelum ruh dihembuskan kedalam rahim ibu kita, yang menunjukkan bahwa setiap manusia sebenarnya pernah dipertemukan dengan Dzat Yang Maha Rahman dan Rahim itu. Peristiwa itu telah terekam begitu kuatnya kedalam sel dan DNAnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan apabila sesudah bayi itu lahir ke dunia dan menjadi manusia utuh dengan kecerdasan intelektual dan emosinya, nalurinya akan mendorong untuk mencari cinta pertamanya itu, bagaikan mencari kekasih yang telah bertahun-tahun lamanya terpisah, ada semacam kerinduan untuk bertemu kembali dan  mendekat serta sesering mungkin bercakap-cakap denganNYA dan jikalau tidak terpenuhi, sudah pasti jiwanya akan menderita.

Ada semacam hukum tarik menarik antara jasad kita yang bersifat materi dengan ruh kita yang selalu ingin berdekatan dengan Tuhan, dari mana dia berasal. Jika terpenuhi ia akan merasa bahagia, sebaliknya kalau dipisahkan atau dijauhkan ia akan menderita sakit, sesakit bila rambut anda ditarik paksa dari kulit Anda.

Mengingat, kebahagiaan itu sifatnya rohaniah – bukan jasmaniah sebagaimana seringkali dipahami secara salah – maka ia tergantung dari sejauh mana jasmani anda bersedia memenuhi tuntutan jiwa Anda itu. Fitrah jiwa manusia senantiasa ingin berdekatan dengan Tuhan yang menjadi visinya dan bukan menjauhinya, kebahagiaan itu  sudah bersemayam dalam diri tiap insan. Jika ingin menikmati rasa bahagia dalam hidup ini, tinggal kembali kepada fitrahnya, yaitu dekat dengan sang Maha Pencipta.

Sedangkan – sebagaimana yang dikatakan oleh Danah Zohar dan Ian Marshal – sumber dari segala sumber penderitaan kaum materialisme adalah kesalahannya dalam menterjemahkan fenomena kehidupan yang semula mereka anggap bahwa segala sesuatu itu bersifat dari materi, serta mentertawakan pendapat yang meyakini adanya ruh manusia.

Ketika menyadari, mereka merasakan sesuatu yang kosong dalam hidupnya, ternyata fenomena adanya jiwa manusia merupakan fakta yang tidak terelakkan lagi. Mereka merasa teralienasinya terhadap dirinya sendiri, orang-orang sekelilingnya maupun terhadap Tuhannya

 

Kebenaran mutlak atau yang “benar-benar benar” hanya bisa diakui oleh hati nurani.

Terdapat empat tingkatan kebenaran. Tingkat kebenaran yang paling rendah adalah persepsi. Persepsi hanya didasarkan pada praduga, nampaknya, kedengarannya. Rel kereta api semakin jauh akan nampak semakin berimpit. Bulan purnama nampak berjalan menembus awan.  Pesawat nampak seperti berhenti di ketinggian langit. Kita tidak bisa secara persis membedakan suara ban truk trailer yang pecah dengan ledakan bom yang low explosive. Ketika mendengar issue negatip tentang seseorang, kemungkinan kebenarannya masih setengah, mungkin betul mungkin salah dan seterusnya. Persepsi baru diketahui benar atau salah sesudah dilakukan pengamatan dengan seksama atau melakukan penelitian.

Tingkat yang kedua adalah kebenaran intelektual yang didasarkan pada kinerja otak cortex. Kebenaran pada tingkat ini sudah lebih masuk akal dibanding yang pertama, karena sudah menggunakan pengamatan dan penelitian baik empiris, melakukan konfirmasi ataupun menggunakan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya. Tetapi kebenaran ini masih terbatas, karena penarikan kesimpulannya masih tergantung kepada asumsi-asumsi, batasan-batasan, aksioma-aksioma ataupun hukum-hukum yang dibuat sebelumnya. Selain itu hasilnya, apakah “benar-benar benar” atau dibenar-benarkan (pembenaran), masih mengandung dua kemungkinan. Misalnya, konfirmasi pernyataan politik dari sumber terpercaya terkadang sulit dipercaya. Para peneliti dalam membuat report, yang bersangkutan kadang-kadang masih meragukan beberapa hal.

Kebenaran tingkat ketiga adalah kebenaran berdasarkan rasa. “Perasaan tidak mungkin tidak jujur”. Tetapi perasaan terkadang memihak, tidak fair, mudah dipengaruhi, terpengaruh oleh situasi dan kondisi.

Tingkat kebenaran yang tertinggi adalah kebenaran berdasarkan hati nurani. Sebagai contoh, pada saat bertengkar, kita berusaha membela dan membenarkan diri mati-matian sekaligus mempersalahkan pihak lawan. Tetapi pada saat itu sekilas sempat terbersit di pikiran kita, “Dia ada benarnya juga ya ?“ “Dalam beberapa hal saya ada salahnya juga !”

Oleh sebab itu, kebenaran ini walaupun terkadang sifatnya inspiratif, berdasarkan bisikan suara hati paling dalam, tetapi karena sangat tulus dan apabila yang bersangkutan mengalami situasi yang yang benar-benar flow dan fullenlightenment –  maka yang bersangkutan akan mendapat semacam miracle, berupa keyakinan yang “benar-benar benar.”

Sebagai contoh, Murakami ketika sudah merasa mencapai batas akhir yang paling mungkin dilakukan sebagai peneliti serta sudah menggunakan peralatan yang paling mutakhir, tetapi tetap saja belum menemukan faktor yang paling dominan terhadap gen pembawa sifat, maka dia mengatakan, Apa yang dilakukannya sebagai ilmuwan telah mencapai titik optimalnya. Dan dia telah memasuki wilayah yang tidak mungkin dijangkaunya lagi, karena berada pada dimensi yang berbeda. Dia hanya mengatakannya bahwa itu berasal dari sesuatu yang Agung. Inilah pengakuan jujur yang keluar dari hati nurani seorang ilmuwan tentang realitas dan kebenaran Allah SWT dari seorang ilmuwan yang jujur dan rendah hati.

 

Tujuan ilmu pengetahuan adalah memperpendek jarak antara keterbatasan ilmu kita dengan ketidakterbatasan ilmu Tuhan

Ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang bebas nilai, tetapi ia punya tujuan, yaitu sebagai upaya untuk mendekati sumber dari segala sumber pengetahuan, sumber dari segala sumber kebenaran dan sumber dari segala sumber cahaya kehidupan.

Al-Ghazali mengatakan bahwa suatu ilmu layak dianggap sebagai ilmu pengetahuan apabila bisa mendekatkan atau memperpendek jarak antara keterbatasan ilmu yang dimiliki oleh manusia dengan ilmu Allah yang tidak terbatas, sedangkan ilmu yang tidak berfungsi mendekatkan kita kepadanya hanya menduduki tempat sebagai ilmu alat.

Ilmu alat hanya berkenaan dengan cara hidup, sedangkan hakekat ilmu pengetahuan adalah menemukan tujuan hidup, karena salah satu nama Allah adalah Al’Alim ( Yang Maha Mengetahui) dan salah satu sifat wajibNya adalah ‘Ilm (Maha Menguasai Segala Ilmu Pengetahuan).

 

Kita didesain secara sempurna untuk menjadi wakil Tuhan di bumi, tidak mungkin terjadi kegagalan jika tugas itu dilakukan sesuai dengan desainnya.

Terdapat  dua  anggapan  ekstrim  mengenai  eksistensi  manusia  di dunia. Ekstrim  pertama  mengatakan  bahwa, manusia  hidup  di dunia  ini  dalam keadaan  terpaksa  dan berada di tempat  yang tidak dikehendakinya.  Maka anggapan  dengan  ekstrim  ini – selama  berada  di  dunia – selalu  berupaya  untuk  mengurangi  sebanyak  mungkin penderitaan  yang  harus dialaminya – semacam away from – menghindari  masalah,  kesulitan,  rasa lapar,  rasa sakit,  rasa kantuk  dan  sebagainya.

Sedangkan  ekstrim  kedua beranggapan bahwa  keberadaan manusia  di bumi ini memang sudah pada tempatnya. Atau  memang  sudah  seharusnya  terjadi  demikian. Sejak awal manusia memang sudah dirancang untuk menjadi “wakil” Tuhan di muka bumi. Bertindak atas dan untuk namaNya. Pembuktian oleh para ahli biokimia mengatakan bahwa hampir semua unsur yang ada di alam semesta ini ada dalam tubuh manusia. Begitu juga hukum-hukum fisika yang terjadi di alam semesta juga terjadi pada manusia.

Anggapan dasar dari ekstrim kedua  akan menciptakan sikap tanggung jawab dan keberanian untuk mengatasi masalah –bukannya menghindari masalah – serta memunculkan kreatifitas yang luar biasa untuk menundukkan alam. Kedudukan manusia lebih penting dibandingkan alam semesta yang sengaja diciptakan dalam rangka rencana besar Tuhan untuk menciptakan manusia. Satu sisi, manusia adalah  wakil  Tuhan di bumi yang diberi tugas mengelola kehidupan di dunia, Namun kedudukannya terhadap Tuhan tetap sebagai seorang hamba.

Hakekatnya tidak ada dikotomi antara tugas Ketuhanan dengan tugas kemanusiaan. Tugas Ketuhanan dengan tugas di pemerintahan, di bidang bisnis, politik, hukum, sosial, budaya, militer dan pekerjaan sehari-hari lainnya.

Kegagalan dalam hubungan kemanusian sebagian besar karena tidak dipahaminya anggapan ini dengan baik. Berfikir secara dikotomis. Begitu melakukan tugas-tugas sehari-hari, tiba-tiba ia merasa bahwa apa yang ia lakukan di dunia ini tidak ada hubungannya dengan Tuhan, ia merasa menjadi manusia bebas, mengaku diciptakan oleh Tuhan tetapi tidak mau dipelihara oleh, serta diatur olehNya. Tuhan hanya diberi hak untuk mengatur masalah akhirat, sedangkan apa saja yang dia lakukan di dunia sepenuhnya merupakan haknya pribadi.

Tuhan juga telah memberikan semacam buku petunjuk  (guidance book) berupa kitab suci untuk menjalankan kehidupan di dunia ini. Tidak ada kekeliruan terhadap rancangan Tuhan maupun dalam membuat buku petunjuknya. Sepanjang kehidupan dijalankan sesuai dengan buku petunjuk, kegagalan merupakan kemustahilan, sebagaimana menjalankan mobil Toyota dengan buku petunjuk menjalankan dan perawatan mobil yang dikeluarkan oleh perusahaan itu.

 

Kita menjadi besar karena berfikir besar

Presupposisi diatas menciptakan presupposisi baru, yaitu Tuhan sebenarnya berkehendak agar kita menjadi manusia besar, tetapi seringkali kita sendirilah yang menganggap diri kita kecil, lemah, tidak berdaya dan sebagainya. Jika derajad kita bisa dibuat skala dari 0 sampai 9, berapa angka yang Anda pilih untuk menunjukkan kedudukan atau martabat Anda sendiri ?

Jika Anda memilih angka 9, berarti Anda telah menemukan visi Anda sesuai yang dimaksudkan oleh Tuhan. Tetapi jika masih terdapat keraguan tentangnya, maka dalam diri Anda masih terdapat anggapan negatip tentang maksud dan tujuan Tuhan menciptakan Anda.

Sebagaimana disebutkan diatas, anggapan dasar sama dengan belief. Maka anggapan kita tentang diri ini akan sangat mempengaruhi pola pikir kita sepanjang hidup. Orang yang merasa diri martabatnya tinggi akan berperilaku sepantas orang-orang mulia, sebaliknya orang yang merasa martabatnya rendah akan berperilaku seperti layaknya orang rendahan. Pola pikir ini akan menarik perilaku dan perilaku akan menciptakan habit. Seseorang lama kelamaan akan benar-benar menjadi mulia bila selalu berperilaku terus menerus sebagaimana layaknya orang-orang mulia.

Orang-orang mulia adalah manusia yang tidak suka mempermasalahkan (dalam artian negatip) hal-hal yang kecil, berdebat,  cekcok  atau bertengkar hanya menyangkut perkara yang sepele. Mereka biasanya pemaaf, toleran, karena tidak ingin membuang waktunya kepada hal-hal yang dirasa manfaatnya kecil agar bisa lebih fokus pada hal-hal yang manfaatnya lebih besar bagi kemanusiaan.

 

Karena hasil akhir hanya bisa diprediksi, maka potensi kita jadi tidak terbatas.

Secara maksimal, apa yang namanya visi, impian dan outcome hanya berbentuk prediksi. Realitasnya akan tetap menjadi misteri. Bisa saja seseorang memiliki impian, sepuluh tahun lagi akan sanggup membeli sebuah pulau, tetapi ternyata  baru setahun usahanya bangkrut, menderita sakit dan seterusnya, tetapi sebaliknya ada yang impiannya tercapai jauh lebih cepat dari prediksinya. Itulah yang dimaksud sebagai misteri takdir.

Seandainya takdir tidak ada dan semua yang kita prediksikan pasti tercapai atau sebaliknya kita bisa melihat dengan pasti bahwa semua rencana kita akan gagal, maka manusia justru akan mati lemas, kehilangan energi. Sebab untuk apa lagi kita mengerahkan potensi, kreatifitas dan berjuang mati-matian, kalau hasil akhirnya sudah jelas.

Jadi takdir bukanlah tindakan kesewenang-wenangan Tuhan, melainkan sebuah tantangan yang mengandung misteri yang mengasyikkan ( seperti menebak teka-teki ) dan ujian keberanian menghadapi hidup.

Tuhan telah berfirman, bahwa Ia akan mengikuti persangkaan hambaNya. Hal ini adalah sebuah perintah yang sangat jelas bagi kita agar kita membuat visi atau impian hidup dan selalu fokus pada impian itu, mengerahkan semua potensi dan energi, selalu melakukan optimalisasi diri dengan penuh gairah dan keyakinan bahwa memang itulah gambaran hari depan kita.

 

Semua kejadian akan berlaku sesuai Sunnatullah

Akan tetapi walaupun hidup ini mengandung misteri, tetapi Tuhan juga memberikan hukum-hukum kepastian. Kalau anda meminta kepada tiap orang yang lewat depan rumah Anda, untuk melemparkan bola, pasti bola itu sesudah melambung akhirnya akan jatuh ke tanah, apakah yang melempar itu Michael Jordan atau seorang kakek-kakek. Walaupun jarak lemparannya tidak sama persis, tetapi bolanya akan tetap jatuh ke bawah, karena adanya hukum gravitasi.

Hukum gravitasi termasuk hukum alam atau Sunnatullah yang sifatnya universal. Berlaku bagi siapa saja tanpa pandang bulu. Dengan hukum ini Tuhan memberikan kesempatan yang sama kepada manusia untuk melakukan prestasi atau memperoleh keunggulan, yaitu, jika kita membuat aksi A pasti akan menghasilkan B.

Memang Tuhan tidak terikat dengan hukum yang dibuatnya sendiri. Dia terkadang memberikan pengecualian tertentu, tetapi kita sebaiknya tidak usah mempermasalahkan hal ini. Disamping kemungkinannya tidak banyak, hal itu juga sepenuhnya menjadi hak prerogatifNya, dimana kita tidak mempunyai kekuasaan untuk ikut campur.   Maka kita hanya akan menggunakan anggapan dasar yang bersifat umum.

Presupposisi ini maksudnya hampir sama dengan presupposisi, “Jika seseorang bisa melakukan sesuatu, orang lain bisa belajar melakukannya.” Jadi nasib kita tergantung pada, kita mau secara proaktif atau tidak untuk melakukan aksi atau menciptakan sebab, agar Tuhan berkenan Memastikannya menjadi akibat yang sesuai dengan yang kita inginkan.

 

Keberuntungan dapat dikelola dan bukan milik orang tertentu

Didalam Al-Quran, Tuhan Berbicara tentang cara memperoleh keberuntungan sebanyak 40 kali. Hal ini menunjukkan bahwa keberuntungan itu sesuatu yang sangat manageble, serta siapapun bisa dengan mudah mendapatkankan. Bahkan orang tidak harus menjadi Muslim dulu untuk mendapatkan keberuntungan duniawiyah.

Tuhan telah memberikan jaminan kepada seluruh manusia tanpa kecuali, “Jika engkau berbuat kebaikan, maka kebaikan itu akan kembali kepada dirimu sendiri. Dan jika engkau berbuat keburukan, maka keburukan itu akan menimpa dirimu sendiri” (Q.S. 17 : 7). Jadi kebaikan hakekatnya sebuah investasi yang kelak pasti akan kita manfaatkan dan nikmati sendiri, sebaliknya kalau kita berbuat keburukan, berarti kita telah berutang dan utang suatu saat harus kita bayar.

Orang kaya yang baik dan dermawan pada umumnya kekayaannya lebih bertahan lama, bahkan selamanya. Hal itu dikarenakan mereka melakukan dual investment – menginvestasikan kekayaan pada dua sisi sekaligus – yaitu pada sisi lahir berupa uang atau aset-aset lainnya dan sisi batin yaitu sedekah yang bisa menggembirakan sesama manusia yang mereka terus mendoakannya supaya rejekinya selalu melimpah.

Sebaliknya orang kaya yang buruk dan bakhil, walaupun ia menginvestasikan harta dan asetnya tetapi dia terus menumpuk “utang batin” kepada sesama, yaitu berupa dendam, kemarahan dan kutukan dari orang-orang yang telah diperlakukan tidak adil.

 

Kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban terhadap sesuatu yang tidak ada pilihannya

Ketika di dunia, manusia mendapatkan dua hal pokok. Pertama mendapatkan hal-hal yang harus diterima tanpa pilihan, misalnya menyangkut kebangsaannya, kesukuan, jenis kelamin, warna kulit, jenis rambut, bentuk wajah, tubuh dll. Kedua, hal-hal yang kita mempunyai kebebasan memilih – seperti waktu, tenaga, pikiran, uang, energi – akan digunakan untuk apa saja. Untuk hal-hal yang pertama kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban dari Tuhan. Tetapi tidak demikian dengan hal-hal yang kedua.

Tuhan tidak akan bertanya kenapa rambut kita keriting ?, kenapa tubuh kita bulat ? dan sebagainya. Tetapi Tuhan akan menanyakan pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan yang kita lakukan sepanjang hidup kita, mulai dari kita bangun tidur, hingga naik ke peraduan.

Tuhan Maha Adil. Maka seandainya Tuhan membiarkan saja tanpa pertanggungjawaban atas pilihan buruk kita – misalnya perilaku para suami yang menggunakan uang, energi dan waktunya untuk melakukan perselingkuhan dengan wanita lain – maka justru Tuhan telah berbuat dzalim kepada para isteri yang dikhianati, begitu juga sebaliknya.

Tuhan juga tidak mungkin memperlakukan sama antara pemimpin yang jujur dan setiap hari waktu, pikiran, energi dan kapasitasnya hanya untuk mensejahterakan rakyatnya dengan pemimpin yang memanfaatkan kesempatan selama menjabat untuk memperkaya diri.

 

Takut diperlakukan tidak adil dan tidak jujur bukan berarti berpihak kepada ketidakadilan dan ketidakjujuran

Kalau Anda diperlakukan tidak adil dan tidak jujur atau ada seseorang berbuat curang kepada Anda, kemudian Anda membalas kepadanya dengan perlakuan yang setimpal, itu artinya Anda telah menjadikan dia sebagai guru atau Anda secara tidak sadar telah me-model dia. Apa akibatnya kalau dalam hidup ini kita berguru kepada orang yang salah ? Maka semua nilai-nilai kemuliaan diatas akan menjadi cacat.

Begitu juga, saat Anda mendapat kesempatan untuk berbuat tidak adil dan tidak jujur, kemudian Anda berfikir, “Kalau saya tidak mengambil kesempatan ini, seseorang pasti akan mengambilnya,”  maka Anda telah andil untuk menjadikan ketidakadilan dan ketidakjujuran menjadi semakin meluas. Atau dengan kata lain, Anda sendiri telah menjadi “wabah” ketidak adilan dan ketidakjujuran.

Oleh karena itu kalau Anda diperlakukan buruk dan Anda merasa tidak mampu untuk mengubahnya, maka tetaplah berpihak pada keadilan dan sekurang-kurangnya berdoalah agar keburukan itu tidak menular kepada Anda !

 

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,