Complex Modelling Memanfaatkan NLL, Trainer Amir Faisal 08157698288

blog on January 30th, 2020 1 Comment

Trainer Amir Faisal 0815 769 8288, buku Waking Hypnosis dari Gramedia.com

NLP awalnya pada dasarnya adalah ilmu modelling. Richard Bandler dan John Grinder pada mulanya mempelajari secara mendalam transkrips dan rekaman audio dan video dari seminar-seminar Fritz Perls ( Psikiatris dan Ahli Gestalt Therapy) dan Virginia Satir (Ahli di bidang Family Therapy).

Dari pengkajian itu diperoleh kongklusi, dengan cara memodel aspek-aspek tertentu, bahasa dan perilaku Satir dan Perls, mereka bisa memperoleh hasil yang sama dengan kedua pendahulunya itu. Kemudian dengan mengulang-ulang pola-pola perilaku seseorang, maka orang lain bisa melakukan, seperti yang dilakukan oleh orang itu.

Contoh lain, sebelum tahun 1950an, Ice Sky dianggap permainan orang dengan kelas tertentu. Kemudian NLP mengubah total cara berfikir seperti itu. Perombak jalan pikiran itu adalah Prof. Edward T Hall, penulis The Silence Languages. Dia berprinsip, jika sesuatu bisa dilakukan oleh seseorang, maka siapapun bisa belajar melakukannya”

Hall men-shooting sejumlah pemain ski di kawasan Alpen dan direkam dalam film hitam putih 16 mm. Kemudian diamati film-film itu frame demi frame. Dia lalu membagi gerakan-gerakan lembut ski ke dalam apa yang disebut sebagai “isolates” atau unit-unit terkecil dari perilaku.

Mengamati permainan ski dengan cara itu, ia jadi tahu bahwa meski masing-masing pemain ski mempunyai gaya berbeda, tetapi mereka ternyata menggunakan “isolates” yang sama. Kemudian ketika isolates itu diajarkan kepada orang biasa atau para pemain ski pemula, mereka bisa dengan cepat bisa bermain ski dengan baik. Bahkan siapa saja bisa meningkatkan kemampuan ski mereka dengan melakukan sesuatu yang biasa dilakukan secara natural oleh pemain ski yang hebat. Kuncinya adalah mengidentifikasikan esensi dari skill mereka – yakni gerakan-gerakan tertentu yang membuat mereka menjadi  pemain ski hebat – sehingga orang lain bisa juga mempelajarinya. Inilah esensi dari me-model.

Prinsip-prinsip me-model diatas ternyata tidak hanya diterapkan untuk skill bermain ski saja, melainkan dapat dilakukan untuk memodel ekselensi di bidang apa saja. Gerakan-gerakan kuncinya bukan lagi pada gerakan ototnya melainkan dalam inner tought nya si model. Dari kata-kata ataupun silence language, yaitu tatanan tersembunyi dari pikiran-pikiran dan tindakan, penggambaran-penggambaran perasaan bahkan keyakinan-keyakinan mereka.

Bandler menempuh cara yang unik untuk memodel Dr. Fritz Perls, psikiatris Jerman itu. Ia menirukan apapun yang melekat pada diri Perls dengan cara memanjangkan jenggot, menjadi perokok, bahkan membiasakan berbahasa Inggris dengan logat Jerman. Grinder dan Bandler secara sistematis menggabungkan puzel yang semula kelihatannya tidak saling berhubungan, tetapi dengan sebuah ketekunan mereka menemukan esensi dari tehnik-tehnik Perls.

Proses Modeling yang dilakukan oleh Richard Bandler dan John Grinder menggunakan presupposition yang berisi prinsip-prinsip pragmatis yang dipikirkan dan dirasakan oleh sang Mentor, yang mempunyai manfaat yang tak ternilai untuk membantu mereka menemukan kunci-kunci pembuka pintu gerbang sumber dayanya sendiri.

Presupposition tersebut dimanfaatkan sebagai instrumen untuk memahami dan mengenali sang Mentor dalam bersikap dan dalam memandang dunia, akan mempermudah kita menguasai dan mengambil benefit dari NLP, karena semua teknik NLP diderivasikan dari presupposition, seperti yang juga digunakan oleh Hall, yakni :

“Jika seseorang bisa melakukan sesuatu, maka siapa saja bisa belajar melakukannya”

 “Pengalaman seseorang itu mempunyai struktur.”

Jadi modelling adalah suatu teknik untuk mempelajari struktur pengalaman para model,  menemukan “code” nya, agar struktur itu bisa dipindahkan ke orang lainnya. Ketika Edward memotong-motong gambar film tersebut diatas, dimaksudkan untuk mengubah struktur itu menjadi “chunks” yang lebih kecil dan lebih detil.

Presupposition yang menarik untuk dipelajari dari orang-orang ekselen :

Peta Tidak Sama Dengan Wilayah

Peta Tidak Sama Dengan Wilayah, atau Map is not the territory adalah presupposition dasar dalam memahami dan menjalankan tools serta terapi-terapi dalam NLP ( Neuro Linguistic Programming ). Tanpa pemahaman presupposisi ini dengan benar, niscaya tidak bisa menerapkan NLP dalam kehidupan kita.

Terjadinya gap antara peta dan wilayah ini dikarenakan ada kekurang akuratan dalam memahami realitas ataupun stimulus yang masuk kedalam (peta) pikiran seseorang. Ketika seseorang berfikir, yang tergambar dalam otaknya, bukan realitas sebenarnya, melainkan gambar yang ada di peta mentalnya. Atau bisa disebut , pikiran termanipulasi oleh peta mental kita ( lihat bab1 subbab  : Terjadinya Inside Out Conflict)

Orang  mempunyai segala sumber ( dalam diri mereka sendiri) yang mereka butuhkan.

Sumber yang dimaksud disini adalah : skill, kondisi, kualitas serta atribut yang dimiliki oleh seseorang, misalnya hasrat yang besar, keberanian dan kepercayaan diri, impian ataupun obsesi hidup.

Walaupun bukan berarti setiap orang bisa mendapatkan apa saja yang diinginkan, tetapi pengalaman hidup seseorang – persepsi, respon dan tindakan – membentuk landasan mental dan bahkan sumber-sumber fisik kita, yang jauh lebih penting.

Jika seseorang bisa melakukan sesuatu, orang lain bisa belajar untuk melakukannya.

Fakta menunjukkan bahwa pengalaman seseorang  mempunyai struktur yang berujud peta mental, dimana peta mental ini nanti akan menghasilkan produk mental yang berupa respon dalam menjawab sejumlah masalah dan tantangan yang dihadapi. Bahkan kitapun dapat memanfaatkan peta mental orang lain untuk kita jadikan model.

Presupposition pengusaha bengkel diatas menunjukkan sebuah produk mental dari pengalamannya sendiri sekaligus menggunakan model pengalaman orang lain (mantan bossnya) yang kemudian menghasilkan kesuksesan hidup bagi dirinya sendiri. Banyak orang beranggapan bahwa kesusuksesan itu adalah semacam anugerah khusus atau hak bagi orang yang mempunyai talenta tertentu. Padahal kenyataannya, bahwa setiap orang mempunyai talenta tertentu, dimana setiap talenta mempunyai struktur dan urutan perilaku. Masalahnya adalah bagaimana caranya memanfaatkan semua pengalaman-pengalaman itu. Selain itu talenta orang lainpun ternyata dengan mudah bisa dipelajari. Misalnya karisma seseorang ketika berbicara di depan publik. Intonasi, caranya mengambil jeda, pandangan mata ketika menyapu para hadirin maupun trik-trik yang dilakukan.

Setiap orang sudah berfungsi dengan sempurna

Banyak orang berfikir, jika tidak bisa melakukan sesuatu yang diinginkan, itu pertanda ketidakmampuan, kekurangan, atau cacat. NLP beranggapan, taka da seorangpun di dunia ini yang tidak mampu, kurang atau cacat atau bahkan sial. Setiap orang itu tercipta dengan sempurna dan berfungsi dengan sempurna. Jika seseorang melakukan kesalahan ataupun bahkan tersesat mengikuti petunjuk arah, NLP justru menganggap dia telah melakukan secara sempurna dalam hal menemukan jalur yang berbeda ( dari yang diikuti oleh orang pada umumnya). Perbedaan cara berfikir ini diperlukan untuk menguji strategi dan keyakinan agar nantinya menjadi lebih efektif. Penilaian diri yang positip, dalam NLP, dipegang sebagai hal yang konstan bersama pembedaan antara orang dan yang dilakukannya.

Orang yang paling fleksible yang akan mempunyai kesempatan terbanyak untuk meraih apa yang diinginkan

Sikap fleksibel akan memberi kita mempunyai lebih banyak pilihan. Solusi yang kita miliki untuk suatu masalah mungkin memang tepat dalam konteks, lingkungan atau budaya tertentu, tetapi tidak selalu efektif dalam situasi lainnya. Padahal situasi selalu berubah. Kita tidak bisa lagi sekedar mengulang apa yang sudah kita lakukan sebelumnya. Semakin kompleks sistemnya, akan semakin banyak fleksibilitas yang diperlukan.

Jika terus melakukan apa yang yang kita lakukan sekarang, maka kita akan mendapat hasil yang sama dengan yang kita dapatkan sekarang.

Untuk mencapai kesuksesan tidak hanya diperlukan sikap persistence, ketekunan, keuletan, ketelatenan dan kemauan untuk mengulangi lagi, melainkan juga berusaha membuat variasi dalam melakukan tindakan terhadap kegagalan sampai mendapatkan metode yang cocok. Ibaratnya memasukkan mur ke dalam baut, sekali tidak cocok ukurannya, walaupun dipaksakan sekeras apapun tetap tidak akan berhasil.

Banyak orang yang sudah merasa berusaha sekeras-kerasnya. Mereka sudah hampir putus asa, semua sumber daya telah dikerahkan sepenuhnya, tetapi tidak didapatkan hasil yang memadai. Jangankan melakukan lompatan, untuk mendapatkan hasil yang lebih bernilai dibanding dari sumber yang dikerahkanpun terasa sulit. Maka dalam hal ini yang harus dievaluasi adalah, apakah strategi, metode yang diterapkan sudah tepat. Atau bahkan pendekatan, pola pikir dan paradigmanya yang dipakai untuk menilai masalah, barangkali yang harus diubah. Albert Einstein pernah berkata, ”Hanya orang gila yang menginginkan perubahan, tetapi setiap hari ia melakukan hal yang sama”.

Tidak ada hal yang dianggap sebagai kegagalan, melainkan hanya menemukan umpan balik (feedback)  dan catatan identifikasi masalah.

Sebenarnya manusia tidak mempunyai konsep kegagalan. Kegagalan hanya bisa terjadi jika seseorang enggan untuk mengalami ketidaknyamanan akibat ketidaksuksesan yang dialaminya pada masa yang lalu, yang berakibat tidak mau mengulangi lagi.

Sepanjang orang berani mengulang lagi kegagalannya, sambil belajar dari kesalahan – untuk tidak terperosok pada lobang yang sama – maka kegagalan itu justru akan menjadi umpan balik, sebagaimana yang dialami oleh Thomas Alfa Edison. Semakin bayak mengalami ketidaksuksesaan, akan semakin banyak memiliki identifikasi masalah..

Orang yang mempunyai sikap positip terhadap sejumlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya akan terdorong untuk melakukan tindakan-tindakan yang tepat untuk belajar dan memperbaiki kesalahan. Maka dalam hal ini justru kegagalan yang dialaminya akan menjadi umpan balik yang sangat berharga.

Tidak terjadi kesalahan, melainkan menemukan versi yang berbeda dari yang secara umum digunakan

Seseorang yang tidak mau terjebak kemacetan, maka ia berusaha berbelok kekanan ataupun ke kekiri ketika terliha ada jalan pintas. Para penemu seringkali secara tidak sengaja mendapatkan penemuannya justru ketika berani mencoba sesuatu yang tidak lazim dilakukan.

Para pioneer perubahan pada umumnya gagasan-gagasan hebatnya yang bisa memacu transformasi ditentang oleh masyarakat di lingkungannya.

Jika seseorang bisa melakukan sesuatu, orang lain bisa belajar untuk melakukannya.

Fakta menunjukkan bahwa pengalaman seseorang  mempunyai struktur yang berujud peta mental, dimana peta mental ini nanti akan menghasilkan produk mental yang berupa respon dalam menjawab sejumlah masalah dan tantangan yang dihadapi. Bahkan kitapun dapat memanfaatkan peta mental orang lain untuk kita jadikan model.

Presupposition pengusaha bengkel diatas menunjukkan sebuah produk mental dari pengalamannya sendiri sekaligus menggunakan model pengalaman orang lain (mantan bossnya) yang kemudian menghasilkan kesuksesan hidup bagi dirinya sendiri. Banyak orang beranggapan bahwa kesusuksesan itu adalah semacam anugerah khusus atau hak bagi orang yang mempunyai talenta tertentu. Padahal kenyataannya, bahwa setiap orang mempunyai talenta tertentu, dimana setiap talenta mempunyai struktur dan urutan perilaku. Masalahnya adalah bagaimana caranya memanfaatkan semua pengalaman-pengalaman itu. Selain itu talenta orang lainpun ternyata dengan mudah bisa dipelajari. Misalnya karisma seseorang ketika berbicara di depan publik. Intonasi, caranya mengambil jeda, pandangan mata ketika menyapu para hadirin maupun trik-trik yang dilakukan.

Orang tidak dapat tidak berkomunikasi

Setiap hari kita tidak mungkin untuk tidak melakukan komunikasi – sekurang-kurangnya komunikasi non verbal ataupun dengan diri kita sendiri. Bahkan kita bisa memengaruhi orang saat kita secara fisik tidak berada di tempat orang itu. Sebagai contoh, coba pikirkan tentang orang yang tidak menyenangkan ataupun kolega yang menyulitkan. Kemudian rasakan bagaimana perasaan dan pemikiran ini diam-diam memengaruhi perilaku kita terhadap mereka. Sebaliknya, coba rasakan dan pikirkan perasaan dan respon positip kita terhadap orang yang tidak ada di tempat.

Dalam beberapa proses ( khususnya yang kita proses melalui inderawi visual, auditorial dan kinestetikal) yang terungkap pada orang lain melalui mata, suara, sikap dan gerak tubuh kita, akan memengaruhi orang lain serta berdampak pada orang lain, bahkan saat kita memilih menghindari komunikasi langsung dengan kata-kata.

Makna dari komunikasi adalah respon yang kita dapatkan

Makna sejati dari pesan adalah apa yang pada kenyataannya diterima oleh pihak lain. Orang akan merespon atas apa yang mereka pikir Anda maksudkan. Itu bisa menjadi interpretasi akurat atas makna yang Anda maksudkan, mungkin juga tidak.

Kebanyakan komunikasi termuat dalam aspek non verbal, terutama komunikasi tentang, atau melibatkan, derajat tertentu dari perasaan atau emosi. Oleh karenanya jika ingin berkomunikasi secara efektif, kita harus terus menerus sadar akan respons pihak lain terhadap apa yang kita katakana (verbal maupun non verbal) dan menyesuaikan komunikasi kita – bukannya menganggap mereka akan otomatis memahami apa yang kita maksudkan agar mereka pahami.

Terdapat puluhan anggapan dasar-anggapan dasar (pre-supposition) dalam NLP yang bisa dijadikan “model pola pikir”. Tetapi dalam artikel ini hanya dikutip sebagian saja.

Modelling Memanfaatkan Neurological Levels (NLL).

Sebagaimana dijelaskan dalam bab sebelumnya bahwa NLL terdiri dari beberapa level, yang mengacu pada sistem proses pengalaman neurologis orang yang bersangkutan. Oleh karena dalam memodel sang Mentor disesuaikan level-level tersebut, yaitu sebagai berikut :

Level lingkungan : Mengobservasi bagaimana, kapan, dan dimana skill sang Mentor ditunjukkan. Peran seperti apa yang hendak diduplikasi. Jika ada kendala dalam konteks sang Model mengalami kesulitan, deskripsikan seperti apa adanya.

Level Perilaku : Temukan apa yang benar-benar dilakukan oleh sang Mentor saat ia berada di lingkungan spesifik seperti yang sudah di identifikasikan diatas. Sambil mengobservasi perilaku yang ditunjukkan, minta sang Mentor untuk mengingat-ingat apa yang ia lakukan atau ajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam atas apa yang terjadi.

Level Kapabilitas : Temukan proses pikiran yang melatarbelakangi perilaku itu sehingga sang Mentor bisa mendapatkan skill tersebut. Strategi-startegi yang digunakan. Tahap ini merupakan inti dari modelling.

Level Keyakinan : Temukan informasi tentang sesuatu yang memotivasi, ataupun yang menjadi passion sang Mentor, sehingga memiliki perilaku dan mendapatkan skill mereka. Dengan cara ini kita bisa mengerti bahwa apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang penting bagi mereka.

Level identitas : Temukan perasaan self sang Mentor dan bagaimana perasaan itu memengaruhi keyakinan dan juga nilai-nilai mereka. Dengan demikian kita bisa mengenali dan memahami apa yang memengaruhi perilaku serta proses pemikiran dan perasaan mereka.

Level Spiritual : Temukan keterhubungan perilaku sang Mentor dengan sesuatu dalam sistem yang lebih besar, lebih tinggi dan lebih agung, dimana mereka merasa sebagai bagiannya.

Scoring Atribute Model / Mentor

Tahap terakhir dari modelling adalah melakukan scoring antara Atribute sang model dengan kita. Atribute ini hampir sama dengan identitas ataupun karakter.

Buatlah score secara feeling saja dari angka 1 sampai 9, berapa pantasnya nilai setiap atribute dari model Anda, dan berapa untuk Anda sendiri, seperti yang terlihat pada tabel dibawah ini :

Tags: , , , , , , , ,

One Response to “Complex Modelling Memanfaatkan NLL, Trainer Amir Faisal 08157698288”

  1. Wibisono says:

    Dmn workshopnya pak

Leave a Reply